MAKASSAR, BKM — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (BEM-FIK) Universitas Negeri Makassar menggelar tabliq akbar, akhir pekan lalu, di Gedung Olahraga (GOR) FIK Bantabantaeng Makassar.
Panitia pelaksana mengangkat tema; Peran Manusia Sebagai Khalifa Dalam Menyikapi LGBT (Lesbian, Gay, Beieksual dan Transgender) dengan menghadirkan dai kondang Das’ad Latif sebagai pembicara utama.
Das’ad dalam ceramahnya menjelaskan, sebenarnya LGBT sudah lama diketahui oleh orang Bugis. LGBT sudah sangat familiar, apalagi dengan istilah calabai atau bencong.
Menurut Das’ad, sejarah mencatat bahwa perkara LGBT dapat dipahami dari Nabi Luth. Gay di masa Nabi Luth dihancurkan oleh Allah, sehingga bisa diambil pelajaran bagi umat manusia. Sebelum Nabi Luth datang, masyarakat Kota Sodom telah terkenal dengan moral dan akhlaknya yang sangat bejat. Mereka tidak mempunyai pegangan agama atau penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Maksiat dan kemungkaran merajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan pembegalan merupakan kejadian sehari-hari, di mana yang kuat menjadi penguasa, dan yang lemah menjadi korban penindasan.
Perbuatan maksiat yang paling menonjol dalam masyarakat Kota Sodom adalah prilaku seksualitasnya yang tidak normal. Para pria di kota ini lebih suka berhubungan dengan sesama jenis melalui anal seks.
”Padahal hampir-hampir tidak ditemukan seekor hewan jantan pun yang mengawini hewan jantan lain. Akan tetapi keanehan itu justru terdapat pada manusia yang telah rusak akalnya dan menggunakan akal tersebut untuk berbuat kejelekan,” kata Das’ad.
Allah mengutus Nabi Luth menyadarkan kaum gay dan lesbian agar segera bertaubat. Puluhan tahun beliau membimbing dan menyadarkan mereka, namun hanya segelintir saja yang sadar. Sedang sebagian besar mereka tetap bahkan makin menjadi-jadi. Lebih dari itu, beliau memperingatkan bahwa bencana akan segera diturunkan jika mereka tidak berhenti dari perbuatan itu, justru ditanggapi dengan tantangan agar kutukan Tuhan ditimpakan kepada diri mereka sendiri karena mereka tak peduli.
Nabi Luth akhirnya menyadari kalau mereka tidak dapat diberi peringatan atau pengertian lagi. Mereka bagai virus mematikan yang terus menginfeksi sekelilingnya, sehingga tidak ada cara lain kecuali dengan membasmi mereka alias dimusnahkan. Selain itu, kaum gay merasa tidak nyaman dengan dakwah-dakwah Nabi Luth, mereka memutuskan untuk segera mengusirnya.
Selain ravliq akbar, juga dilakukan pelantikan BKM Seni FIK. ”Dengan kehadiran BKM atau UKM Seni ini menjadikan FIK semakin lengkap karena memadukan olahraga dan seni,” kata Arifuddin, Ketua FIK UNM. (ila)
BEM FIK UNM Bahas LGBT
×

