pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ingin Memberi Pencerahan Calon dan Keluarga Mempelai

Ketika Uang Panai Diangkat dalam Film (1)

PRODUKSI film lokal kini tengah menggeliat. Satu persatu karya anak daerah mewarnai perfilman nasional. Terakhir adalah film berjudul Uang Panai.

Laporan: Rahmawati Amri

MAHAR atau uang uang panai merupakan hal yang sangat krusial dalam prosesi pernikahan Bugis-Makassar. Uang panai kerap dijadikan simbol prestise sebuah keluarga dalam menyelenggarakan perkawinan.
Baik dari pihak lelaki maupun perempuan, besar kecilnya uang panai selalu dijadikan simbol gengsi. Banyak cerita-cerita kerap ditemukan karena persoalan uang panaik.
Masih ingat Risna, seorang gadis asal Bulukumba yang dipinang seorang pria dengan uang panai sekitar Rp500 juta atau setengah miliar. Itu menandakan jika uang panai sangat diutamakan dalam prosesi pernikahan.
Terkadang, ada dua insan yang saling mencintai, tak jadi menikah karena persoalan tidak ditemukan mufakat besaran uang panai. Apalagi, di lingkup keluarga yang masih sangat kental menjunjung tinggi adat istiadat. Ada juga yang memutuskan untuk kawin lari karena sang lelaki tak mampu menyiapkan uang panai sebagaimana mestinya. Membahas soal uang panaik selalu tidak ada habisnya.
Nah, untuk mengupas masalah uang panai dengan sisi-sisi yang menarik, anak muda kreatif asal Makassar yang bergelar dokter, Wahyudin Muchsin berusaha mengangkat tema itu ke layar lebar. Dengan menjunjung tinggi kearifan lokal dan berusaha mengangkat sisi unik dari uang panai, film yang mulai digarap Februari 2016 diharapkan bisa selesai Mei atau Juni 2016 dan tayang secara serentak di Studio XXI tanah air.
Lelaki yang akrab disapa Yudi itu menjelaskan, film yang digarap itu sebenarnya ingin memberikan pencerahan kepada calon dan keluarga mempelai terkait kegunaan uang panai.
Lelaki yang bertindak sebagai eksekutif produser dalam film ini mengatakan awalnya uang panai bertujuan meringankan beban pihak mempelai perempuan dalam menyelenggarakan pesta. Namun seiring waktu, persepsi soal uang panai mulai berubah karena besarannya kerap dihubungkan dengan simbol gengsi. Malah, tak jarang pihak keluarga mempelai perempuan menetapkan besaran uang panaik berdasarkan standar tertentu. Uang panai seorang perempuan lulusan SMA tentu akan berbeda dengan lulusan S1, S2, hingga S3. Semakin tinggi jenjang pendidikan seorang perempuan, makin besar uang panainya. Begitu juga dan hadirnya embel-embel hajjah di depan nama calon mempelai perempuan.
Karir juga kerap dijadikan patokan untuk menentukan besaran uang panai. Semakin bergengsi pekerjaan seorang perempuan, uang panainya akan semakin besar.
“Jika patokannya seperti itu. Kesannya sudah menjual anak. Jadi sudah bergeser niat nenek moyang kita yang ingin membantu pihak mempelai perempuan yang akan menyelenggarakan hajatan,” kata Yudi.
Melalui film yang digarap, dia berharap paradigma soal uang panai akan terbuka. Banyak pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam film ini. Bukan sebatas menjelaskan hakikat dari uang panai, namun sekaligus juga ingin mempromosikan budaya Bugis-Makassar, keindahan alam dan kekayaan kulinernya yang beragam. (*/rus)



×


Ingin Memberi Pencerahan Calon dan Keluarga Mempelai

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar