SUDAH empat tahun lamanya Ine Wahyuni menjadi staf di Bagian Humas Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Sejak 2012 lalu ia banyak berinteraksi dengan wartawan dari berbagai media yang bertugas di Balai Kota.
Menghadapi wartawan dengan banyak karakter, bagi Ine –sapaan akrabnya– bukanlah perkara sulit. Sebab, sebelum menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS), Ine pernah bergabung di Harian Fajar sebagai seorang wartawati.
Sebenarnya, Ine punya cita-cita ingin menjadi seorang guru. Namun sejak lulus kuliah dan seiring perjalanan waktu, wanita yang gemar menulis ini kemudian menjadi seorang wartawati. Selama menggeluti profesi jurnalis, Ine mengaku mendapat banyak pengalaman serta wawasan yang memadai.
IST
Ine WahyuniTapi garis tangan Ine tidak berakhir di media. Ketika melakoni pekerjaan sebagai wartawati, ia juga tertarik untuk bergabung menjadi seorang abdi negara di pemerintahan.
Ia kemudian mendapat tawaran untuk bergabung di Dinas Perikanan Bulukumba. Keinginan untuk menjadi seorang guru akhirnya dipendam.
Sejak tahun 2005 hingga 2012, Ine menjadi bagian Dinas Perikanan Bulukumba. Nasib baik akhirnya berpihak ke wanita kelahiran Selayar, 13 Juni 1976 ini. Pada tahun 2012 Ia terangkat menjadi PNS dan ditempatkan di kantor Wali Kota Makassar pada Bagian Humas.
Saat bincang-bincang dengan BKM, Ine kembali mengenang perjalanannya ketika masih menjadi seorang pemburu berita. Apa yang didapatkannya ketika itu, diakuinya sangat bermanfaat bagi dirinya dalam melakoni pekerjaannya saat ini.
Kode Etik Jurnalistik (KEJ) tetap ia pegang teguh hingga saat ini, utamanya dalam mencari dan menyebarkan informasi kepada publik terkait kebijakan dan kegiatan Pemkot Makassar melalui media.
”Peran humas diharapkan mampi menyampaikan informasi kepada media untuk masyarakat demi pembangunan dan kemajuan Kota Makassar. Strategi yang modern diperlukan untuk bisa membangun sinergi antara humas dan media,” ujar istri dari Iwan Takdir P ini. (arf/rus)
Pegang Teguh KEJ
×

