MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, meminta semua tokoh Sulsel yang berkiprah di pusat bisa mengawal pembangunan megaproyek di Sulsel.
“Saya jagakanki’ daerahta, tapi proposalku ini saya kasiki semua, perjuangkan sai nah,” pinta Syahrul saat mengekspose Pelaksanaan Pembangunan di Sulawesi Selatan, di Hotel Mulia Jakarta, Kamis (10/3).
Dalam ekspose tersebut, anggota DPR RI, DPD RI, pejabat kementerian asal Sulsel, hingga semua Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang tersebar di semua provinsi di Indonesia turut hadir di Hotel Mulia.
“Saya mengekspose pembangunan di Sulsel apa adanya. Saya harap, semua bisa menarik peran masing-masing untuk memberikan dukungan terhadap akselerasi di Sulsel,” kata Syahrul.
Gubernur Sulsel dua periode ini juga mengungkapkan, di Sulsel sedang dilakukan pembangunan perluasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, pembangunan jalur kereta api, New Port, dan empat bendungan besar. Bandara Sultan Hasanuddin yang kapasitasnya hanya 6 juta penumpang per tahun, sekarang sudah 12 juta penumpang per tahun sehingga harus diperluas. Bandara tersebut melayani 173 penerbangan setiap hari untuk 56 destinasi. Sedangkan pembangunan jalur kereta api sekarang sudah sekitar 20 kilometer.
“Saya mau kasi liatki semua, kalau kita lebih akseleratif dari provinsi lain. Ini harus dipacu, jangan sampai mandek. Saya selalu ditanya berapa untungnya? Kalau untuk rakyat, kita tidak berhitung untung. Kalau mau untung, kasi jadi tol,” ungkapnya.
Syahrul juga menambahkan, banyak tokoh asal Sulsel yang hebat di nasional. Diharapkan, mereka bisa memberikan dukungan untuk membesarkan Sulsel. Apalagi, saat ini Sulsel merupakan provinsi terbaik di Indonesia, yang dibuktikan dengan 182 penghargaan nasional.
“Kenapa posisi ini harus diperhitungkan oleh negara? Karena jika Sulsel besar, akan memberikan energi bagi Kawasan Timur Indonesia,” ujarnya.
Khusus untuk legislator asal Sulsel yang ada di Badan Anggaran DPR RI, Syahrul meminta pengawalan khusus untuk pembangunan Bypass Maminasata. “Kami sudah lakukan pembebasan tanahnya. Kami harap ini dipercepat, apalagi di Sulsel pembebasan lahan itu berat. Biasanya kalau bertahap, mereka ragu,” ujarnya.
Di hadapan para tokoh Sulsel tersebut, Syahrul juga memaparkan potensi sektor pertanian, perkebunan, kelautan, dan perikanan. Ia berharap, pengusaha-pengusaha asal Sulsel bisa mengambil peran agar potensi sumber daya alam tersebut bisa bermuara pada industri. Ia juga mengajak mereka terlibat dalam program kapal induk.
“Tokoh Sulsel yang punya kemampuan untuk itu, mari kita bicara,” kata Syahrul.
Ia memaparkan, sembilan tahun lalu pendapatan rakyat hanya Rp9 juta, dan sekarang bisa mencapai Rp40 juta. Jika pendapatan rakyat sudah di atas Rp35 juta, maka sudah masuk kategori negara maju, bukan lagi negara berkembang. Syahrul percaya, tahun ini pendapatan rakyat bisa menembus angka Rp60 juta dan di tahun 2018 bisa di atas Rp80 juta.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Sulsel tidak pernah dibawah tujuh persen, sementara di nasional turun 4,79 persen. Tingkat pengangguran turun 5,9 persen dari 10,2 persen. Sedangkan inflasi juga datar-datar saja. Pemerintah provinsi dan kabupaten menjaga sembilan bahan pokok dengan 22 variabel. Mulai dari beras, gula, terigu, minyak goreng, sampai obat nyamuk.
“Uang-uang yang beredar juga dijaga. Kalau ada bank yang tidak mau keluarkan uang sesuai targetnya, silakan angkat kaki. Uang yang disalurkan perbankan untuk UMKM di Sulsel mencapai Rp3,3 triliun. Saya instruksikan, semua daerah mengeluarkan izin UMKM setiap hari. Itulah yang membuat ekonomi kita tidak turun, dan izin-izin ini semua langsung diikuti perbankan. Tidak ada bank di Sulsel yang tidak untung 20-30 persen. Begitupun dengan perusahaan. Kredit macet dibawah 2 persen,” paparnya.(rhm/war)

