DI usianya saat ini, Aan telah melampaui pencapaian mahasiswa seusianya. Ia tak pernah berhenti untuk berkarya.
DALAM perjalanannya di dunia tulis menulis dan mencipta puisi, sejumlah buku telah diterbitkan Aan. Sebut saja; Hujan Rintih-rintih (2005), Perempuan, Rumah Kenangan (2007), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Cinta yang Marah (2009) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012).
Ada pula; Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? (2012), Kukila (2012), Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014), Melihat Api Bekerja (2015), Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi (2015), serta Tidak Ada New York Hari Ini (2016).
Ide serta inspirasi dalam menulis bisa mengalir dan terilhami dari mana saja yang ada di sekitarnya. Mulai dari hasil penelitian teman-temannya, kebobrokan tata ruang kota di sekitar, dari buku-buku yang dibaca atau film-film yang ditonton, kemacetan, korupsi, koran, serta cerita- orang di sekitarnya.
Lelaki lajang ini cukup banyak memberi kontribusi bagi kemajuan dan pertumbuhan minat menulis masyarakat. Tak jarang, lelaki kelahiran Bone, 14 Januari 1982 ini diundang menjadi pembicara pada workshop atau seminar terkait trik-trik menulis.
Dia cukup aktif memberikan kelas menulis, baik di sejumlah instansi atau perusahaan, maupun di sekolah atau kampus-kampus. Sejumlah kegiatan berskala internasional pernah diikuti.
Aan tercatat sebagai kurator di Makassar International Writers Festival sejak tahun 2011. Ia juga didaulat menjadi Dewan Kurator pada Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 silam di Bali.
Saat ini, Aan tengah sibuk menyusun buku; Tidak Ada New York Hari Ini. Buku itu rencananya akan terbit bersamaan dengan pemutaran film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2 bulan depan.
Khusus untuk film AADC 2, Aan menyiapkan beberapa puisi yang akan dibawakan oleh Rangga. Dia menulis puisi khusus berisi 30-an sajak cinta berdasarkan kisah Rangga dan Cinta.
Aan mulai menulis puisi untuk AADC2 sejak April 2015 melalui proses cukup panjang. Banyak hal yang dilakukannya. Seperti nonton berkali-kali AADC, riset tentang New York sebab dirinya sama sekali belum pernah ke sana. Aan juga membaca skenario film AADC 2.
Film AADC dinilai cukup berpengaruh terhadap perkembangan puisi, terutama di kalangan muda. (*/rus)

