MAMASA, BKLM — Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Mamasa dalam sepekan terakhir, membuat proyek tanggul normalisasi sungai Mamasa tahun 2015 yang menelan dana sekitar Rp46 miliar, ambruk. Ada beberapa titik tanggul yang jebol akibat derasnya air sungai Mamasa. Peristiwa jebolnya tanggul tersebut terjadi pada ,kejadian itu terjadi pada Jumat malam (1/4) sekitar pukul 19.00 wita.
Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Sejumlah penduduk yang rumahnya berada di bantaran sungai Mamasa harus berhati-hati. Karena rembesan air sungai akan mempengaruhi lapisan tanah akibatnya terjadi longsor yang menyebabkan rùmah warga ikut terbawa air. Rumah pendudul itu sangat dekat dengan sungai atau berjarak hanya sekitar dua meter. Tinggi air akibat banjir sungai Mamasa ditaksir mencapai tiga meter.
Penyebab tingginya intensitas air sungai Mamasa disebabkan hutan lindung yang ada di Dusun Lombonan, Desa Lambanan yang merupakan penyangga air sungai Mamasa telah hancur dibabat. Bahkan, hutan lindung ini telah dilalui proyek jalan tani oleh Pemerintah Kabupaten Mamasa tahun 2012 lalu. Hutan lindung yang hancur tersebut diperkirakan mencapai ratusan hektare. Meski demikian, sampai saat ini masyarakat masih melakukan pembalakan. Ironinya, pemerintah setempat seakan tidak peduli. Sementara ancaman kematian sudah di depan mata.
Bupati Mamasa, Ramlan Badawi, saat ditemui BKM beberapa waktu lalu di ruang kerjanya, meminta kepada masyarakat Mamasa utamanya warga yang berdomisili di bantaran sungai Mamasa, supaya berhati hati saat hujan deras. ”Bisa saja air sungai Mamasa akan meluap. Apalagi pada malam hari, saat sedang nyenyak tidur. Padahal nyawa telah terancam. Masyarakat selalu waspada apalagi kalau sudah hujan beberapa hari, pasti itu air sungai meluap,” ujarnya. (dar/mir/c)
Dinding Tanggul di Dusun Lombonan Jebol
×

