SETELAH dilauching oleh Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Pudji Hartanto pada bulan November 2015 lalu, program Polisi Temanta dalam upaya mengatasi tindak kejahatan pencurian kendaraan bermotor yang dilaksanakan Polres Parepare bekerjasama Harian Berita Kota Makassar, resmi berakhir. Penutupannya dilakukan, Senin (18/4) malam ini.
Laporan: Samiruddin
ACARA penutupan dipusatkan di Taman Mattirotasi, Kelurahan Labukkang, Kecamatan Ujung, Kota Parepare. Keputusan itu diambil dalam rapat panitia pelaksana yang berlangsung di Ruang Sekretaris Kota (Sekkot) Parepare, Mustafa Andi Mappangara, Jumat (15/4).
Hadir dalam pertemuan Wakapolres Parepare, Kompol Ahmad Faisal, Asisten I Pemkot, Rusman Rahman, Kapolsek Ujung, Kompol Aris Arifin, Camat Ujung, Yusuf Nonci, Kasat Bimas, AKP Syarifuddin, Lurah Labukkang, Muh Yusuf dan Bhabinkamtibmas Labukkang, Aiptu Yusrin.
Kenapa dipilih Taman Mattirotasi? Selain karena lokasinya yang cukup luas, juga masyarakat Labukkang menginginkan agar penutupan Polisi Temanta dilaksanakan di tempat ini. Apalagi taman ini berada di tengah kota.
Meski program Polisi Temanta sesi pertama telah berakhir, bukan berarti upaya preventif dalam mengantisipasi curanmor juga berhenti. Karena masyarakat secara umum sudah menjadi polisi bagi dirinya sendiri.
Selama program ini dilaksanakan, angka tindak kriminal curanmor menurun drastis. Tidak salah jika Kapolres Parepare, AKBP Alan Gerrit Abast menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan program Polisi Temanta sesuai keinginan masyarakat, apabila Pemkot Parepare bersedia untuk diajak bekerjasama untuk program selanjutnya.
Bahkan, Alan sudah memiliki rencana terbaru untuk program Polisi Temanta sesi kedua. Kali ini terkait upaya pemberantasan peredaran narkoba, yang disinergikan dengan program Bersinar (Berantas Sindikat Narkoba). Apalagi akhir-akhir ini narkoba kian marak beredar di wilayah Ajatappareng, khususnya Parepare melalui jalur pelabuhan nusantara.
”Jadi kita akan melibatkan dan mengikusertakan masyarakat dalam memberantas narkoba di kawasan yang telah terbentuk nantinya,” kata Alan saat sharing dengan Dirut Harian Berita Kota Makassar, Mustawa Nur.
Senada dengan Alan, Mustawa juga menyatakan siap melanjutkan program ini jike Pemkot Parepare ikut bersedia bekerjasama dalam pemberatasan sindikat narkoba.
”Saya sudah koordinasi dengan Pak Kapolres soal ini. Nanti Pak Kapolres komunikasikan dengan Pak Wali bagaimana selanjutnya. Kalau sudah disetujui, kami siap turun bekerja secara teknis,” terang Mustawa.
Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe melalui Asisten I, Rusman Rahman sangat memberi support yang tinggi terhadap program Polisi Temanta, karena melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung. Karena itu ia berharap program ini tetap berkelanjutan.
”Pemkot Parepare mengapresiasi program Polisi Temanta. Apalagi jika yang nantinya dilakukan adalah langkah preventif terhadap penyalahgunaan narkoba. Tapi semua itu tergantung dari Pak Wali selaku penentu kebijakan,” tandasnya.
Pada acara penutupan malam nanti, menurut Ketua Panitia Pelaksana, Mustafa Mappangara, akan diserahkan hadiah kepada lima finalis program Polisi Temanta. Selain itu, acara ini dirangkai dengan menyerahkan hadiah kepada lurah yang berprestasi dalam pencapaian target PBB (Pajak Bumi dan Bangunan).
Wakapolres Parepare, Ahmad Faisal menambahkan, Wali Kota HM Taufan Pawe akan menyerahkan langsung hadiah pertama kepada finalis Polisi Temanta senilah Rp15 juta. Hadiah kedua diserahkan Kapolres, AKBP Alan G Abast dan hadiah ketiga oleh Dirut BKM, Mustawa Nur. Untuk peringkat keempat dan kelima mendapatkan penghargaan.
Sejumlah warga yang ditemui, mendukung sepenuhnya jika program Politi Temkanta dilanjutkan. ”Kami harap program ini tetap berkelanjutan,” kata Ketua Komunitas Polisi Temanta Polsek Soreang, Kaharuddin.
Hal senada disampaikan Iswanto, Ketua RT di wilayah Bumi Harapan dalam wilayah Polsek Bacukiki. Kata dia, program Polisi Temanta sangat direspon masyarakat dengan antusias. Mereka aktif mensosialisasikan program ini dengan memasang spanduk serta alat peraga lainnya.
Selain masyarakat, Lurah Lapadde di wilayah Polsek Ujung, Ardianyah mengakui program Polisi Temanta sangat efektif. Karena semua stakeholder dilibatkan. Hasilnya, pelaku curanmor takut berbuat kriminal.
”Pencegahan tindak kriminal curanmor sangat dirasakan masyarakat. Karena begitu ada kendaraan yang diparkir sembarangan, maka yang menegur langsung adalah masyarakat sendiri. Mereka juga mengingatkan agar kendaraannya dikunci leher,” terangnya.
Harapan masyarakat dan pemerintah, kata Ardiansyah, program ini jangan dihentikan. Ia ingin Polisi Temanta tetap dilanjutkan. Bukan lagi untuk menekan angka curanmor, tapi juga narkoba, KDRT, miras, judi dan tindak kejahatan lainnya.
Kapolsek Soreang, AKP H Muhabar, mengakui bahwa sebelum program Polisi Temanta dilaksanakan, angka kejahatan pencurian cukup tinggi. Jumlah tersebut kemudian turun drastis telah Polisi Temanta digelar.
“Dulu masyarakat tidak terlibat secara langsung, sehingga aksi kejahatan tetap berlangsung. Tapi setelah melibatkan masyarakat dalam program Polisi Temanta, hasilnya sangat dirasakan. Masyarakat ikut menjaga kamtibmas. Itulah yang kami inginkan,” terangnya.
Kapolsek Ujung, Kompol Aris Arifin mengatakan, Polisi Temanta sangat bermanfaat bagi polisi dan masyarakat. ”Program ini sangat membantu kami dalam melakukan tindakan preventif,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Kapolsek KPN, AKP Ario Damar. Polisi Temanta yang melibatkan masyarakat telah mengubah pola pikir mereka dalam mengantisipasi kasus curanmor di wilayahnya.
”Masyarakat ikut serta dalam mencegah terjadinya curanmor. Ini sangat positif buat kami dan masyarakat. Kami berharap program ini berkelanjutan,” imbuhnya.
Begitu juga dikatakan Kapolsek Bacukiki, AKP Mamat Rahmat. Menurutnya, selama program ini dilaksanakan, di wilayahnya tidak ada satupun kasus curanmor yang terjadi. Di 11 kecamatan yang ditangani Polsek Bacukiki, masyarakat terlibat langsung menjaga keamanan dan ketertiban. (*/rus)

