pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Mengajar Sebagai Seni

PAHLAWAN tanpa tanda jasa. Begitu biasanya profesi seorang guru disebut. Mereka tidak pernah berharap dari anak didiknya, setelah ilmu yang dimiliki diberikan melalui pengajaran di sekolah.
Tidak salah jika Esa Annisa begitu cinta pada profesi mulia tersebut. Meski masih berstatus sebagai guru honorer di SMK Negero 1 Bungoro, Kabupaten Pangkep, mahasiswa Pascasarjana Univesitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar ini tetap mencurahkan segala ilmunya untuk dibagikan kepada siswa siswinya.
Dua tahun sudah ia jalani sebagai seorang guru honorer, sembari melanjutkan kuliah strata dua (S2) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Faktor kebiasaan telah mengantarkannya menjadi seorang guru. Ya, cewek yang akrab disapa Esa ini memang sangat suka membagi ilmunya agar lebih bermanfaat.
Bagi Esa, melakoni profesi guru merupakan bagian dari seni dalam kehidupannya. Tidak heran jika dalam proses belajar mengajar di sekolah, terkadang ada rasa jengkel. Namun sejalan dengan bergulirnya waktu, perasan itu kemudian berubah menjadi suka.
”Kadang kan anak-anak suka ribu atau tidak kerja tugas. Tapi ada juga yang lucu-lucu. Ramai dan seru. Bisa menghibur dan semangat berbagi limu,” tuturnya.
Berkaca pada pengalaman, wanita kelahiran Tonasa, Kabupaten Pangkep, 1 Mei 1991 ini lebih percaya diri dalam mengajar. Apalagi aktivitasnya didukung dengan hobinya yang suka fotografi. Termasuk kemampuannya membuat meme.
Di sela-sela rutinitas mengajarnya, Esa kuliah S2 pada setiap hari Sabtu dan Minggu. Karenanya, ia harus pintar-pintar mengatur waktu diantara keduanya. Beruntung, kepala sekolah tempatnya mengajar mendukungnya untuk melanjutkan pendidikan.
”Kebetulah kepsek mendukung. Siapapun yang mau lanjut S2 itu diperbolehkan. Waktunya disesuaikan,” jelasnya.
Diakui, selama ini begitu banyak tantangan yang mesti dilalulinya dalam mengajar. Salah satunya, Esa harus bisa dan mampu membuat siswa mengerti serta paham dengan mata pelajaran yang diajarkan.
“Daya tangkap masing-masing siswa kan berbeda. Begitu pula dengan sifat dan karakternya. Ini membuat saya harus terus berpikir untuk menerapkan metode baru dalam menghadapi mereka,” ujar Esa.
Berbicara tentang pria idaman, wanita berhijab yang juga hobi editing foto ini, memiliki keinginan yang sama dengan wanita pada umumnya.
“Karena saya pendek, pasti cari yang tinggi. Kalau kita jelek pasti maunya yang ganteng. Mungkin kita pendiam, pasti cari yang dewasa. Sementara yang cerewet pasti menginginkan yang pendiam. Jadi butuh seseorang untuk penyeimbang dan ada pada suka dan duka,” tambahnya.
Ada pesan dari Esa, khususnya bagi siswanya yang kelak mendapatkan pekerjaan. ”Cintai pekerjaan, karena ketika kita mencintai pasti kita senang melakukannya. Kalau kita biasa melakukan akan menjadi suka,” ujarnya. (nur/rus)



×


Mengajar Sebagai Seni

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar