LAKKANG adalah daratan yang berada di tengah-tengah Sungai Tallo. Kondisi alamnya eksotik. Namun, pulau ini belum menjadi destinasi wisata warga Makassar untuk berlibur.
PEMERINTAH Kota (Pemkot) Makassar telah menetapkan Lakkang sebagai lokasi ecotourism. Beberapa proyek pelestarian lingkungan telah dilakukan di kelurahan yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Tallo, Kota Makassar ini.
Kendati telah menjadi lokasi ecotourism, belum banyak warga mengunjungi daerah ini. Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto pun berharap, Lakkang bisa dijadikan salah satu obyek wisata alam di Makassar.
Memang untuk menuju Lakkang, satu-satunya alat transportasi yang digunakan adalah perahu. Ada tiga lokasi penyeberangan (dermaga) menuju ke Lakkang, yakni di bawah jembatan tol Kelurahan Tallo, dekat bengkel Hino, Kelurahan Parangloe Tamalanrea, dan kampung Kerakera belakang kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea.
Jika melalui dermaga di bawah jembatan tol, maka kita harus melewati Bosowa Sport Centre, kemudian menyusuri jalan setapak selebar 4 meter. Di pertigaan, kita bisa melihat langsung dermaga kecil panjangnya sekitar 5 meter.
Namun, jika kita ingin menyeberang dari Kerakera, maka kita harus masuk ke dalam kampus Unhas melalui Pintu 1 atau Pintu 2. Jika kita masuk lewat Pintu 1, maka setelah melewati masjid Politeknik Negeri Ujung Pandang kita belok kiri menuju kawasan kandang Fakultas Peternakan. Setelah sekitar 400 meter, kita belok kanan, kemudian belok kiri melintas depan SDN Kerakera. Lokasi dermaga hanya sekitar 100 meter dari SDN Kerakera.
Perahu yang digunakan dibuat mirip rakit. Dua perahu digabung dengan papan yang diletakkan di atas. Untuk menjalankan perahu, warga hanya menggunakan mesin tempel atau katinting. Baik dari Tallo maupun Kerakera, butuh waktu 15 menit untuk sampai di dermaga Mandiri, Lakkang.
Selama dalam perjalanan, kita bisa menyaksikan keindahan bantaran Sungai Tallo yang ditumbuhi tanaman bakau dan nipa. Bahkan, beragam jenis burung seperti bangau dengan mudah ditemukan bertengger di dahan-dahan pohon atau bagan tradisional milik nelayan Lakkang.
“Saya sudah mendengar bahwa ada warga yang meminta pemerintah membangun jembatan penyeberangan dari Lakkang ke daratan Makassar. Tapi, kalau dibangun nanti, cukup hanya untuk orang, bukan untuk kendaraan. Kalau kendaraan bisa lewat, rusak ki nanti ini Lakkang,” kata Wali Kota Makassar, Danny Pomanto saat menghadiri Majurong yang digelar Berita Kota Makassar di Kelurahan Lakkang, Sabtu (7/5) pagi.
Danny mengatakan, Lakkang bisa menjadi obyek wisata alternatif untuk melepas penat. Makanya, ia meminta warga Lakkang tidak merusak lingkungan mereka.
Mantan Lurah Lakkang, Anshar yang kini menjabat Camat Manggala mengaku jatuh hati dengan Lakkang. Meski ia tidak bertugas lagi di pulau ini, ia sering datang karena alam dan warganya bersahabat.
“Saya punya cerita manis, suka dan duka selama menjadi lurah di Lakkang. Yang paling tidak bisa dilupakan adalah keramahan penduduknya dan alamnya yang menantang,” kata Anshar yang datang ke acara Majurong menggunakan sepeda.
Anshar mengaku, beberapa dosen di Unhas sering ke Lakkang saat libur. Mereka datang menggunakan sepeda. Setelah beberapa jam di Lakkang, mereka lalu kembali.
Anshar mengatakan, Lakkang selalu dijadikan komunitas-komunitas sepeda di Makassar untuk menjajal kemampuan mereka bersepeda di trek menantang. “Selain mencoba trek menantang, sekaligus berwisata alam,” kata Anshar yang mengaku pernah jatuh naik sepeda saat masih menjabat lurah.
Ketua RW 1, Jamal mengaku, selain pesepeda, Lakkang juga sering dikunjungi komunitas fotografer. Bahkan, tahun lalu pernah digelar jambore fotografer di Lakkang.
“Di sini ada hutan bambu, alamnya sangat indah. Di sekitar hutan bambu terdapat bunker milik tentara Jepang saat zaman penjajahan dahulu,” kata Jamal.
Jamal mengungkapkan, bunker ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1943 saat Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia.
“Di sini ada dua bunker yang masih tersisa. Satu sudah tertumpuk tanah, satu lagi masih bisa dimasuki. Hanya kalau musim hujan banyak dimasuki lumpur,” kata Jamal.
Sayangnya, bunker ini tidak terawat. Padahal, ini merupakan salah satu peninggalan sejarah. Seharusnya, Pemkot atau balai cagar budaya memperbaiki dan memagar. Kalau perlu memberi tanda dan catatan sejarah tentang bunker ini.
“Pernah ada mantan tentara Jepang datang ke Lakkang untuk merayakan ulang tahunnya. Menurut cerita, ia pernah bertempur di Lakkang,” kata Jamal.
Saat ke Lakkang, mantan tentara Jepang tersebut membawa serta keluarganya. Ia bereuni dan mengenang kembali masa di saat ia berperang di Lakkang.
Direktur Utama Berita Kota Makassar, Mustawa Nur pun mengaku senang bisa datang ke Lakkang. Apalagi dijadikan lokasi Majurong. Dengan begitu, kata dia, potensi Lakkang bisa diketahui.
“Saya lahir dan besar di Makassar, tapi ini adalah pertama kali saya ke Lakkang. Selama dalam perjalanan, saya berpikir ternyata masih ada kampung seperti ini di Makassar yang terjaga alamnya,” kata Mustawa. (*)

