UMAT muslim di Kota Makassar menantikan saat-saat menjelang bulan suci Ramadan. Kegembiraan menyambut bulan yang penuh berkah ini akan terasa ketika kita sudah mulai melaksanakan salat tarwih pertama di masjid-masjid.
Laporan: ARIF AL QADRY
Hanya saja, sebelum memasuki bulan Ramadan, umat muslim terlebih dahulu memadati tempat pemakaman umum (TPU) untuk berziarah. Hal itu merupakan tradisi yang sudah kental sejak turun temurun. Mereka membersihkan kuburan keluarganya hingga membacakan doa di pusara mereka.
Di tengah kebahagian umat muslim menanti datangnya bulan Ramadan, terselip wajah-wajah kegembiraan dari orang-orang yang menggantungkan hidupnya di TPU. Mereka mengaku, bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh memberikan berhas dan rezeki.
Seperti halnya Saing Tapong, dia seringkali diminta peziarah untuk membacakan doa di pusara keluarga mereka. menjadi pembaca doa di kuburan sejak tahun 2000 lalu, Saing mengaku tidak mematok harga. Berapa-pun yang diberikan peziarah atas jasanya tersebut ia tetap terima.
Kemampuan melafalkan doa-doa sebagai modal Saing untuk membacakan doa bagi arwah yang sudah meninggal.”Ya saya tidak mematok harga. Berapa-pun yang peziarah berikan saya sungguh berterima kasih. Doa-doa yang biasa saya bacakan yakni Surat Yasin dan Al-Ikhlas. Itu-pun sesuai permintaan pihak peziarah saja,” ujarnya.
Sambil sesekali meneguk air dari botol mineral, Saing juga mengaku penghasilan yang didapatnya sebagai pembaca doa cukup lumayan.”Lumayan biasanya saya dapat Rp500.000 hingga Rp800.000 ribu dalam sehari. Itu-pun tergantung dari pemberian peziarah,” ujarnya.
Meski begitu, ujar dia, rezeki menjadi seorang pembaca doa kubur juga pasang surut, kadang ramai dan kadang sepi. Jika hari sepi, Saing gunakan waktu untuk mengajarkan anak-anak tetangganya untuk belajar dan menghafal Al Quran. Infak dari para orang tua perbulannya tersebut digunakan untuk menyambung hidup.”Syukur kalau diluar bulan Ramadan, biasanya saya mengajarkan anak-anak mengaji. Para orang tua mereka seringkali memberi infak untuk guru mengajinya dan cukup untuk hidup bersama anak dan istrinya,” katanya.
Selain mengajarkan mengaji, Pria kelahiran Ujung Pandang 18 Feruari 1969, juga bekerja sebagai pemandi jenazah di sekitar tempat tinggalnya di Jalan Langgau, Kecamatan Tallo.”Saya bersyukur mendapat ridho dari Allah menjadi pembaca doa dan pemandi jenazah . Selain mendapatkan amalan, juga mendapat berkah atau rezeki dari masyarakat,” ujar Saing.
Sambil sesekali merapikan kopiah hitamnya, Saing juga berharap hasil dari membaca doa bisa disisipkan untuk membelikan baju lebaran bagi anaknya.”Sungguh sangat bahagia bagi orang tua yang melihat anaknya gembira menikmati baju lebaran seperti anak-anak lainnya,” harap Saing. (arf)

