pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ketua PGRI Sebut Perilaku Biadab

MAKASSAR, BKM — Suasana di Markas Polsek Tamalate, Rabu (11/8) tampak penuh sesak. Ratusan siswa berpakaian seragama putih abu-abu tampak berdesak-desakan hingga meluber ke jalanan. Mereka adalah pelajar dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Makassar.
Bersama guru, alumni serta orang tua, para siswa menggelar demo, menyusul terjadinya aksi pemukulan terhadap salah seorang guru, Dasrul. Mereka tidak menerima tindakan yang dilakukan Adnan Ahmad, salah satu orang tua siswa yang menganiaya Dasrul hingga mengalami pendarahan. Salah satu desakan yang disuarakan adalah agar Adnan Ahmad diproses secara hukum.
Dalam orasinya di halaman mapolsek, perwakilan massa berorasi secara bergantian. Mereka meminta polisi untuk melepaskan Dasrul, yang sebelumnya dilapor balik oleh Adnan Ahmad karena tak terima anaknya ditampar. Karena apa yang dilakukan Dasrul, semata sebagai pembinaan terhadap siswanya karena mengumpat dengan kata-kata tak senonoh terhadap gurunya. Sebaliknya, alumni dan para guru dengan tegas mendesak kepolisian menghukum berat pelaku.
”Kepada Bapak Kapolsek Tamalate, kami meminta agar guru kamu Drs Dasrul dilepaskan. Ingat, Pak. Tanpa guru dan ilmu pengetahuan yang didapat di sekolah, tidak ada yang bisa meraih sukses. Merekalah yang memberikan kita ilmu yang bermanfaat. Ingat pula bahwa guru itu juga orang tua kita,” terang salah seorang siswa dalam orasinya.
Kepala SMKN 2, Chaidir Maja yang ikut serta dalam aksi ini, mengatakan seluruh guru dan siswa di sekolahnya bersama-sama datang ke mapolsek untuk memperjuangkan keadilan bagi Dasrul. ”Kita semua tidak ingin peristiwa penganiayaan yang dilakukan orang tua siswa terhadap guru, terulang kembali. Semuanya kompak datang ke sini, karena Pak Dasrul belum juga dipulangkan dari kantor polsek,” jelas Chaidir.
Diakui Chaidir Maja, Dasrul merupakan salah seorang guru yang sabar di sekolah. Karenanya, dia sangat heran ketika Dasrul menjadi korban pemukulan orang tua siswa.
Terkait kelakuan MA, siswa yang ikut bersama orangtuanya, Adnan Ahmad memukul gurunya, Chaidir menegaskan bahwa ia akan dikeluarkan dari sekolah. ”Kemungkinan dia (MA) akan kita keluarkan dari sekolah, karena bersama orangtuanya menganiaya guru,” terang Kepsek lagi.
Perwakilan siswa SMKN 2, Hamdillah meminta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lebih memperketat perlindungan terhadap guru, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Siswa lainnya bernama Maulid Mahaputra, meminta agar Dasrul segera dipulangkan. ”Beliau itu guru kami yang paling sabar. Kalaupun dia menampar siswanya, yang ditampar itu harus tahu diri. Karena kami yakin apa yang dilakukan oleh guru kami itu sebagai bentuk pembinaan. Masa’ begitu saja mengadu ke orang tua,” cetusnya.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulsel, Prof Wasir Thalib yang ikut serta dalam aksi guru dan siswa di Mapolsek Tamalate, menilai perilaku orang tua siswa memukul guru sebagai tindakan yang sangat biadab.
”Saya menilai itu perbuatan biadab. Tidak bisa diterima akal sehat. Apalagi anaknya ikut serta memukuli gurunya. Siswa seperti itu harus dikeluarkan dan jangan diterima di sekolah manapun di Sulsel,” tegasnya.
Diakui Prof Wasir, peristiwa kriminalisasi terhadap guru bukan kali ini terjadi. Namun sudah beberapa kali terjadi di Sulsel.
”Ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya pernah terjadi di Bantaeng, Bulukumba, Sinjai dan terakhir Makassar. Kita semua berharap kejadian seperti ini tak terulang lagi,” imbuhnya.
Akibat pemukulan yang dialaminya, Dasrul harus mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara, kemarin. Kepada wartawan yang menemuinya, Dasrul tak menampik telah menampar siswanya, MA karena tidak mengerjakan tugas. Dia mengaku emosi karena diumpat dengan kata-kata kasar.
Akibat pemukulan yang dilakukan oleh Adnan Ahmad dan putranya, AR, Dasrul mengalami cidera di hidungnya. Selain itu, korban masih merasakan pening akibat kena pukulan pelaku.
Sementara Adnan Ahmad sudah berada dalam sel tahanan Polsek Tamalate. Ia yang mengenakan baju biru terlihat mendapat pengawalan ketat polisi ketika massa berdemo di depan mapolsek.
Penyidik Polsek Tamalate telah menetapkan dua tersangka dalam kasus pemukulan guru SMKN 2, Dasrul. Mereka adalah Adnan Achmad (43) bersama anaknya, MA (15). Keduanya dinyatakan terlibat dalam penganiayaan terhadap Dasrul.
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tamalate, Kompol Azis Yunus mengkonfirmasi hal itu kepada wartawan, kemarin. Dikatakan, setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif, kedua terlapor yang merupakan bapak dan anak itu terbukti melakukan tindak pidana pengeroyokan.
”Sejak Rabu hingga Kamis kita lakukan pemeriksaan intensif terhadap kedua terlapor. Hasilnya, mereka terbukti menganiaya korban Dasrul. Keduanya dijerat pasal 170 KUHP, turut bersama-sama melakukan penganiayaan,” jelas Azis.
Di lain pihak, tambah Azis, penyidik juga memproses laporan MA yang mengaku dipukul oleh gurunya, Dasrul. ”Pelapor (Dasrul) juga dilaporkan oleh tersangka atas kasus penganiayaan. Ia mengaku dipukul oleh gurunya. Karena itu, kasusnya juga kita proses,” terang Kapolsek.
Untuk membuktikan laporan MA terhadap gurunya, polisi masih menunggu hasil visum. Sementara Dasrul dalam keterangannya, mengaku dipukul di dalam kelas saat proses belajar mengajar tengah berlangsung.
Adnan Ahmad yang ditemui wartawan, berdalih dirinya tak terlibat dalam pemukulan terhadap Dasrul. ”Bukan saya yang memukul dan menganiaya. Justru guru itu yang menganiaya anak saya,” kelitnya.
Selanjutnya, ia melapor ke Polsek Tamalate melaporkan penganiayaan terhadap anaknya. Ia berusaha melengkapi berkas laporan dengan melakukan visum terhadap MA.
”Anak saya mengalami luka di wajahnya akibat dianiaya. Sudah dilakukan visum di Rumah Sakit Bhayangkara,” terangnya.
Tak sampai disitu, Adnan juga akan melaporkan guru dan siswa SMKN 2 karena telah melakukan pengeroyokan terhadap dirinya.
(ish/rus)



×


Ketua PGRI Sebut Perilaku Biadab

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar