MAKASSAR, BKM–Hingga hari kedua penayangan film Uang Panaik, antusiasme masyarakat untuk menyaksikan film bergenre komedi itu cukup besar.
Hingga Jumat (26/8), tiket yang ludes terjual mencapai 25 ribu. Angka itu diperkirakan terus bertambah hingga malam.
Menurut Eksekutif Produser Uang Panaik, Wachyudin Muchsin, diperkirakan tiket Uang Panaik yang laku terjual hingga malam (tadi malam, red) bisa mencapai 35 ribu hingga 40 ribu eksemplar.
Film Uang Panaik diputar serentak pada 21 bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia sejak Kamis (25/8).
Di hari pertama, sebanyak 80 persen tiket yang dilempar habis terjual. Malah, di XXI membuka tambahan 31 layar untuk menjawab keinginan masyarakat dalam menonton film ini.
Wahyudi mengatakan, pihaknya menargetkan tiket yang bisa laku terjual mencapai 400 ribu eksemplar.
Dia berharap film ini menjadi titik awal berkiprahnya talenta-talenta muda Makassar dalam industri film nasional. Selain itu, bisa membuka mata masyarakat Indonesia jika anak daerah juga kreatif.
Sekaligus untuk memperkenalkan budaya dan adat istiadat orang Bugis Makassar terkait prosesi perkawinan di daerah ini.
Banyak pesan tersirat yang ingin disampaikan tim kreatif, utamanya eksekutif produser Uang Panaik, Wahyudi Muchsin dalam film tersebut. Minimal untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap seserahan itu.
Salah satunya, kata lelaki yang akrab disapa Yudi itu, pihaknya ingin menyampaikan ke masyarakat bahwa perempuan sebagai mahkota, tidak murahan sehingga rugilah kaum lelaki yang sudah melamar dalam jumlah yang cukup besar melakukan penyelewengan.
Melalui film itu juga, kata Yudi, pihaknya ingin memperkenalkan kekayaan adat istiadat dan budaya Sulsel yang sangat menarik. Salah satunya, menampilkan prosesi lamaran dengan ritual-ritual yang harus dilakukan.
“Jadi kita perlihatkan prosesi lamaran, bagaimana tahapannya, apa gunanya bosara, erang-erang, dan sebagainya,” jelas Yudi.
Sementara itu, Anti salah seorang yang ingin menonton Uang Panai mengaku, sudak sejak pagi ia bersama keluarganya mengantri tiket. “Saya datang kesini bersama keluarga dan sudah mengantri sejak tadi pagi. Saya sangat penasaran filmnya, karena katanya film ini mengangkat tradisi Makassar terkait uang panai yang sangat mahal,” ujarnya. (rhm-ppl5-ppl6/war)

