JANGAN pernah putus asa dan minder dari ketidaksempurnaan fisik. Sebab segala impian, cita-cita dan harapan bisa diraih dengan sebuah kesungguhan. Itulah yang tertanam dalam diri Laode Muhammad Idris.
Laporan: Erna Dusra-Hasmira-Ade Irma
SUASANA di gedung Fakultas Ilmu Sosial (FIS) kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Jalan AP Petta Rani, Makassar, Kamis (25/8) tampak ramai. Saat itu tengah berlangsung wisuda sarjana di kampus pencetak calon guru ini.
Seseorang dengan ciri tersendiri tampak berjalan digandeng seorang. Mengenakan kacamata hitam, dipadu topi hitam, baju batik warna coklat, celana jeans, bersepatu serta tas ransel di punggung. Orang inilah Laode Muhammad Idrus.
Kenapa Laode harus bergandengan dengan seorang lelaki saat berjalan? Ternyata dia seorang tuna netra.
Apa yang tengah diurusnya di kampus UNM? Sehari sebelumnya, tepatnya Rabu (24/8), Laode telah mengikuti wisuda sarjana. Ia berhasil merampungkan perkuliahannya di Program Pascasarjana (PPs) UNM pada program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Kekhususan Pendidikan Hukum dan Kewarganegaraan.
Meski mengalami keterbatasan fisik, Laode mampu mencatatkan prestasi yang membanggakan. Ia menjadi salah satu lulusan terbaik PPs UNM dengan predikat pujian. Laode meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,79, dengan masa studi hanya dua tahun.
Berasal dari Kelurahan Laiworu, Kecamatan Bata Laiworu, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Laode merantau ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan. Sebelumnya, ia menyelesaikan kuliah pada jenjang strata satu (S1) di Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari, pada prodi PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan).
”Saya modal nekat ke sini seorang diri menggunakan kapal laut. Tentunya dengan dukungan dari ibu dan keluarga lainnya,” ujarnya saat ditemui ketiga tengah mengurus administrasi sarjananya di kampus UNM, kemarin.
Laode Muhammad Idrus merupakan anak tunggal pasangan suami istri Laode Mbira dan Waode Alfi. Lahir di Raha, 16 April 1986, Laode yang memiliki tinggi badan 163 cm dan tubuh agak sedikit bongsor ini, mengalami kebutaan ketika masih berusia dua tahun.
Keuletan dan kesungguhannya dalam menempuh pendidikan, ia mampu mematahkan pandangan sebagian masyarakat yang menilai penyandang tuna netra tidak mampu meraih pendidikan tinggi.
Selama menempuh perkuliahan di Makassar, Laode tinggal di Jalan Manuruki II. Semua kebutuhan dan pekerjaan rumah dilakukannya sendiri. Mulai dari mencuci hingga memasak menggunakan kompor gas.
Untuk ke kampus, Laode berjalan tanpa menggunakan tongkat seperti penyandang tuna netra pada umumnya. Bentor langganannya dengan setia mengantarnya ke tempat perkuliahan. Terkadang pula ia dijemput oleh temannya.
Kemandirian Laode dalam menempuh pendidikan membuat orang-orang di sekitarnya merasa kagum. Salah satunya adalah Prof Dr Darman Manda,MHum yang juga Ketua Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial PPs UNM.
“Takjub. Dia (Laode) yang tuna netra mampu menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Bahkan menjadi salah satu wisudawan terbaik tahun ini,” ujarnya.
Kedua orang tua Laode telah bercerai. Selama kuliah, ia dibiayai oleh ibunya yang di kampung halamannya berjualan minyak tanah eceran, serta kue-kue kecil yang dititipkan di warung-warung sekitar rumahnya.
Perjuangan hidup Laode ini juga mendapat apresiasi dari Rektor UNM, Prof Dr H Husain Syam. Dalam sambutannya saat wisuda, ia mengungkapkan kekagumannya.
”Tidak ada anak hebat tanpa memiliki orang tua yang hebat, seperti kehebatan yang dimiliki ibu kandung Laode Muhammad Idrus,” tuturnya, yang membuat haru para undangan.
Perjuangan keras Laode selama ini ditempuhnya karena ia ingin menjadi seorang dosen. Cita-cita itupun terus dikejarnya di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya.
Terbayar sudah semua perjuagan itu. Laode Muhammad Idrus mendapat tawaran dari Rektor Unhalu untuk menjadi salah seorang tenaga pengajar di kampus almamaternya itu.
”Jangan pernah menganggap penyandang tuna netra tak mampu bersaing dengan orang lain yang sempurna dari segi fisik, khususnya pendidikan. Kalau selama ini mereka mampu, kenapa orang seperti saya tidak bisa,” tandasnya.
Andi Tabrani, salah satu teman Laode merasa kagum tehadap sosok dan perjuangan rekannya ini. ”Laode punya motivasi yang tinggi. Meski mempunyai keterbasan fisik, namun tidak membuatnya menyerah dalam menyelesaikan kuliah,” terangnya. (*/rus)

