SEBELUM meraih sukses menjadi orang nomor satu di Kabupaten Sidrap, H Rusdi Masse telah banyak mengecap asin pahitnya kehidupan. Semua itu ia rasakan semasa di perantauan.
Laporan: Purmadi
DUKA di rantau yang paling berkesan bagi Rusdi Masse adalah ketika menjadi buruh kasar. Semua pekerjaan ia lakoni tanpa rasa malu. Yang terpenting baginya, pekerjaan itu halal dan merupakan hasil keringatnya sendiri.
Ada orang-orang yang berjasa dalam hidup Rusdi Masse di masa sulit. Salah satunya Puang Galih.
Kepada BKM, ia berbagi pengalaman selama mendampingi Bupati Sidrap dua periode itu. Mulai di masa kanak-kanak hingga menjadi ‘orang’ seperti sekarang.
Rusdi kecil menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Rappang, Kecamatan Panca Rijang, Sidrap di tahun 1986. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Panca Rijang pada tahun 1989.
Naluri keremajaan Rusdi Masse bergejolak. Perkumpulan anak muda ramai terbentuk di Kota Rappang saat itu. Rusdi juga punya perkumpulan teman seusianya, yakni Kalao-lao.
”Sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara, Rusdi Masse tak pernah mengharap uang sekolah dari orang tuanya yang seorang guru sekolah,” kenang Puang Galih.
Diceritakan Puang Galih, sejak sekolah Rusdi Masse sudah bekerja serabutan. Mulai menjadi tukang las di Bengkel Diana Rappang, hingga jadi personel elektone.
Semua hasil dari pekerjaannya itu digunakan untuk keperluan sehari-hari dan biaya sekolahnya. Terkadang, saudara-saudaranya memberikan uang pada adiknya. Namun Rusdi Masse kerap menolak pemberian kakak-kakaknya.
Sejak menamatkan sekolah SMP di Rappang, Rusdi Masse kemudian hijrah ke Makassar. Dia lulus di sebuah sekolah swasta yang waktu itu bernama SMA Karya 2 Makassar tahun 1992.
Rusdi suka berpetualangan dimanapun dia berada. Di Ujung Pandang ketika itu, ia kerap meminjam motor rekannya. Begitu pula dengan jaket, baju dan celana teman-temannya.
Sepulang sekolah, Rusdi Masse lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah teman sekolah dan teman sepermainanya.
“Di Makassar, orang paling diingat Pak Bupati itu adalah Andi Insan Mentong. Karena dia selalu meminjam motor, jaket, baju hingga celana,” cerita Puang Galih saat berbincang dengan BKM melalui telepon selularnya, Senin (26/9).
Saat di Makassar, Rusdi Masse tinggal di Asrama Putra Mahasiswa Sidrap di Jalan Bayam.
Ketika hendak merantau ke Jakarta, Rusdi sempat tidak mendapat restui dari orang tuanya, Ambo Masse dan Hj Hasanah serta saudara-saudaranya. Maklum, saat itu orang tua tidak menginginkan anaknya jauh dari darinya.
Namun hal itu tidak menjadi masalah. Di mata kerabat keluarga dan sepupunya, Rusdi Masse direstui merantau ke Jakarta.
Atas saran Puang Galih dan seorang lainnya, Andi Cambolong, Rusdi kemudian merantau ke Jakarta pada tahun 1994 silam. Di ibu kota negara itu, ia menumpang tinggal di rumah saudara adik bungsu Puang Galih di Bekasi bernama Haerani.
“Awalnya dia kerja di bengkel dico-dico mobil di Bekasi dengan gaji Rp50.000 per unit. Di juga pernah jadi tukang cuci mobil. Bahkan pernah jadi sales produk susu saset,” cerita Puang galih sembari tertawa mengenang suka-duka di perantauan kala itu bersama Rusdi Masse.
Masih ceritanya, Rusdi Masse pernah menyebutkan dirinya tidak akan pulang kampung selama lima tahun sebelum jadi orang sukses.
“Yang paling berkesan seingat saya, Rusdi Masse malu memberikan saya uang tiket sebesar Rp10 ribu. Waktu itu saya mau pulang dan sudah berada di atas kapal. Rusdi sempat meneriaki saya dan bilang di Pelabuhan Tanjung Priok; Saya tidak akan pulang lima tahun sampai jadi orang kaya,” kenang Puang Galih.
Di Jakarta, Rusdi Masse mulai menemukan usaha ekspedisi ketika mencoba menjalankan langsung bisnis jasa barang antarpulau. Modal yang terkumpul dari usaha menjadi buruh kasar sebesar Rp10 juta ia pakai.
Rusdi kemudian mendirikan sebuah perusahaan EMKL bernama PT Banyumas Jasa Mandiri (BJM) pada tahun 1995-1996. Dia ini berkongsi dengan dua orang kolega bisnisnya. Jatuh bangun usaha yang dirintisnya dari nol itu tetap dijalani dengan sabar.
“Saya lupa nama dua orang yang meminjamkan modal pada Rusdi. Karena Rusdi pekerja ulet dan jujur, makanya dia dipercaya mengelolah bisnis itu oleh dua orang pengusaha ekspedisi di Pelabuhan Tanjung Priok,” terang Puang Galih lagi.
Hingga akhirnya, modal sudah mencapai ratusan juta pada saat itu. Rusdi Masse mulai membeli satu persatu kebutuhannya, seperti motor Yamaha RX King. Ia juga sudah bisa membeli mobil merek Daihatsu Taruna, serta rumah pertama seharga Rp100 juta lebih, yang waktu itu berada di Jalan Swasembada, Tanjung Priok, Jakarta.
Pundi-pundi rupiah pun akhirnya dikumpulkan hingga modal sudah mencapai Rp200 juta. Anggota DPRD Sidrap periode 2004-2007 ini mulai berani membeli sebuah kapal pengangkut barang bernama KM Gandhi.
Disinilah usahanya mulai berkembang, hingga PT BJM dalam kurun empat tahun terakhir mampu membeli kapal ekspedisi jasa barang hingga 22 unit. Perusahaan di bawah kendali PT BJM sudah berkembang pesat hingga enam unit perusahaan yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia.
Hingga akhirnya, H Rusdi Masse mengakhiri masa lajangnya pada tahun 1999 dengan mempersunting Hj Fatmawaty Azis yang saat ini menjadi anggota DPR RI asal PPP.
“Saya ingat jodoh Rusdi Masse dengan Fatmawaty itu difasilitasi perkenalan oleh sepupunya, yakni ibu Hj Andi Onte,” ungkap Puang Galih lagi.
Sebenarnya, tambah Puang Galih, Rusdi Masse terjun ke dunia politik atas sarannya, hingga akhirnya menjadi orang nomor satu di Sidrap atas petunjuk dan motivasinya.
“Cuma saya tidak mau selalu dekat dengan Rusdi Masse. Tapi toh selalu dia cari saya kalau tidak pulang lebaran. Saya bersyukur dia sudah jadi orang hebat dan besar. Saya juga siap selalu mendampingi dan memberikan saran sampai puncak karier yang diinginkan beliau,” tandasnya. (*/rus)

