MAKASSAR, BKM — Bank Indonesia (BI) mengingatkan adanya tekanan inflasi yang cukup kuat ditahun 2017 ini. Hal itu mulai terlihat dari tingginya inflasi pada Januari dan Februari 2017. Kepala BI Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel), Wiwiek Sisto Widayat, mengungkapkan, inflasi Sulsel ditahun 2016 diangka 2,94, berada di bawah nasional yang mencapai 3,02.
”Tapi ditahun 2017, akan banyak tekanan,” kata Wiwiek, saat bertemu Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, di kantor gubernur, Kamis (2/3).
Menurutnya, dua bulan sumbangan inflasi cukup besar dari pulsa telepon. Ini dinilai cukup mengagetkan. ”Artinya, ada satu unit yang harganya naik. Di Februari kita tidak dengar ada kenaikan harga pulsa telepon per unit. Kalau kuantitas, itu tidak berpengaruh. Dan kalau ini tidak dikendalikan, akan jadi tekanan yang cukup berat,” lanjutnya.
Menurut Wiwiek, kuatnya tekanan inflasi ditahun 2017 ini akibat adanya kebijakan harga yang dikendalikan pemerintah. Seperti tarif listrik, biaya administrasi Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), dan peningkatan harga bahan bakar non subsidi.
”Inflasi Sulsel pada bulan Januari 1,112 dan Februari 0,75. Angka 1,87 years to date itu cukup tinggi,” ungkapnya.
Ia memperkirakan, inflasi Sulsel ditahun 2017 bisa menembus angka 4,78. Bahkan, jika ada peningkatan harga elpiji tiga kilogram, bisa mencapai 5,6. ”Kami berharap ada high level meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang dipimpin langsung pak gubernur. Kami juga mengundang pak gubernur di acara round table discussion yang akan dilaksanakan di Hotel Clarion pada 7 Maret nanti, untuk membahas kondisi ekonomi Sulsel ditahun 2017 dan 2018,” ujarnya. (rhm/mir)
Pulsa Telepon Sebabkan Inflasi Februari Tinggi
×

