MAMASA, BKM — Buku paket terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Mamasa disorot orang tua maupun wali murid. Pasalnya, buku paket yang diterbitkan Dikbud dianggap telah membuat anak didik kebingungan membacanya.
Minarni, salah satu orangtua murid pada rapat evaluasi dan pembentukan komite sekolah SDN 01 Mamasa yang baru, akhir pekan lalu, mengatakan, pihaknya sangat kuatir dengan digunakannya buku pelajaran yang dijual wajib Dinas Dikbud Mamasa ke sekolah-sekolah.
Buku tersebut dinilai Minarni sangat tidak layak untuk menjadi bahan pelajaran. Karena membuat anak-anak didik kebingungan. ”Pada buku tersebut terdapat kutipan pelajaran seperti ini, bapak Deppa Bala seorang laki-laki dewasa. Saat berusia 30 tahun, berat bapak Deppa Bala’ 60 kg. Kini, bapak Deppa Bala usianya 40 tahun, beratnya 70 kg. Akan tetapi, tinggi bapak Deppa Bala tetap sama saat berusia 30 tahun dan 40 tahun. Bisakah bapak Rusdi mengalami pertumbuhan. Siapapun yang membaca kutipan ini pasti akan bingung menjawabnya,” ketusnya.
Minarni bersama para orangtua murid lainnya mendesak kepada pihak sekolah untuk mengembalikan buku yang dijual wajib Dikbud ke sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Mamasa.
Komite sekolah menanggapi langsung dengan meminta penjelasan dari pihak sekolah. Pihak sekolah pun mengakui persoalan kualitas buku paket seperti yang dipersoalkan orangtua murid.
Namun pihak sekolah enggan untuk mengembalikan ke Dikbud dengan berbagai alasan. Sehingga yang diharapkan adalah tanggapan serius pihak kepala dinas Dikbud Kabupaten Mamasa untuk mengevaluasi persoalan ini. Karena diyakini masalah ini belum diketahui.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa, Muh Syukur, ketika ditemui BKM di ruang kerjanya, akhir pekan lalu, menyampaikan, jika merujuk pada persoalan tersebut, itu memang agak kurang beraturan. Namun jika tidak dipahami secara mendalam, maka memang itu akan membuat para pembaca keliru.
Syukur menyampaikan, pihaknya sangat salut dengan tindakan orangtua yang peka terhadap persoalan kualitas pendidikan. Sehingga ia meminta agar orangtua murid banyak berpartisipasi membantu anaknya jika di luar sekolah. Sehingga ketika ada yang menurut para orangtua dan wali itu kurang jelas, agar datang ke sekolah. Sehingga kesalahan seperti ini tidak terjadi lagi.
Syukur menjelaskan, peran dinas hanya memfasilitasi menyiapkan anggaran. Terkait teknis penyusunan buku-bukunya, itu tanggung jawab guru-guru. Karena pihak guru yang merumuskan materi yang akan digunakan siswa selaku bahan pembelajaran, kemudian disampaikan pada penerbit untuk diterbitkan sesuai standar nasional.
Ditambahkan, dalam buku itu memang harus dilakukan evaluasi yang dalam untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Ia mengaku hal itu sudah dilakukan. ”Jika ada temuan seperti ini, saya rasa itu tidak lepas dari namanya manusia biasa. Karena kami pun sudah berbuat maksimal. Tapi di balik kemaksimalan itu, ada kekeliruan yang dihadapi. Maka kami akan berupaya memperbaiki dan membenahi. Dan itu juga akan menjadi PR serta bahan evaluasi kami untuk lebih berhati-hati dan juga akan menilai betul siapa guru yang akan ikut merumuskan buku pembelajaran tersebut,” tambahnya. (dar/mir/c)
Orangtua Murid Soroti Buku Paket Terbitan Dikbud
×

