MAKASSAR, BKM — Sejumlah aktivis perempuan dan mahasiswa dari berbagai elemen memeringati Hari Perempuan Internasional, Rabu (8/3). Sebelum melakukan aksi simpati di bawah flyover, para aktivis perempuan ini sempat berkunjung ke redaksi Harian Berita Kota Makassar di lantai 3 Graha Pena.
Sejumlah aktivis perempuan dan mahasiswa yang datang ke Berita Kota Makassar diantaranya dari LBH APIK, SP Anging Mammiri, FPMP Sulsel, KPI Sulsel, GSBN, LPA Sulsel, YLK, HWDI, BEM FAI UMI, PMII Rayon FAI UMI, Komunal, Komunitas Sehati Makassar dan Pembebasan.
Direktur LBH APIK, Rosmiati Sain yang memimpin rombongan mengatakan, dalam rangka Hari Perempuan Internasional, para aktivis perempuan dan mahasiswa melakukan gerakan bersama dengan tema bergerak bersama melawan ketidakadilan terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya.
Menurut Ros, sapaan Rosmiati, tema ini diambil karena perempuan dan kelompok rentan lainnya hingga saat ini masih mengalami penindasan dari berbagai aspek kehidupan.
Bahkan, kata Ros, berdasarkan data yang diperoleh di Pemprov Sulsel, angka kekerasan di provinsi pada tahun 2016 lalu masih cukup tinggi. Angkanya mencapai 1.984 kasus. Ini terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota di Sulsel.
Sementara, lanjut Ros, kasus yang ditangani LBH APIK selama 2016 mencapai 166 kasus. “Dari 166 kasus ini, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang paling tinggi dan kekerasan seksual di urutan kedua,” kata Ros.
Tingginya kasus ini menurut Ros disebabkan masih lemahnya aturan hukum dan komitmen pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan.
“Makanya kami mendesak pemprov dan pemkot memberikan perlindungan, pemenuhan dan penghormatan terhadap hak-hak perempuan. Mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk mendukung penegakan hukum, proses yang adil dan pengungkapan kebenaran terhadap penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan,” katanya.
Ia juga mengajak semua pihak bersama-sama menghentikan segala bentuk ketidakadilan terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya.
Nurasia dari SP Anging Mammiri pun menilai hal yang sama. Untuk itu, dia menghimbau semua pihak untuk bersama-sama mencegah kekerasan terhadap perempuan. Hal yang sama juga diungkapkan Maria dari HDWI dan Amal dari BEM FAI UMI.
Setelah mengunjungi media, mereka langsung melakukan aksi di bawah flyover. Mereka berharap apa yang menjadi tuntutan mereka bisa didengar pemerintah dan aparat penegak hukum. (*)
2016, Kekerasan Perempuan dan Anak di Sulsel Capai 1.984 Kasus
×

