H BUNYAMIN YAPID NUR,LC dulunya bukanlah siapa-siapa. Namun takdir membawanya pada kondisinya seperti saat ini.
Dia berasal dari kalangan keluarga biasa. Tapi kini kehidupannya telah berubah 180 derajat.
Lahir 17 April 1979, masa kecil Bunyamin dilalui dengan kelam. Selalu mengabaikan perintah orangtuanya Muh Nur.
“Waktu kecil saya termasuk nakal. Hampir tiap minggu berkelahi. Sejak sekolah di Taman Kanak-kanak saya malas ke sekolah. Malas juga mengaji. Sering bolos kalau mengaji. Karenanya saya sering dipukul sama bapak. Hampir tiap minggu saya dipukul karena nakalnya. Saya pernah berkelahi massal dengan teman-teman sekolah,” tutur H Bunyamin.
Dia juga mengaku pernah menjadi pemimpin geng pada masa-masa sekolahnya. Kala itu teman-temannya banyak yang loyal. Sehingga jika ada perkelahian antaranggota, pasti melapor ke dirinya untuk kemudian menyerang balik.
Tamat di Sekolah Dasar Negeri 2 Sereang, Sidrap, Bunyamin diasuh kakeknya. Sejak itu pula, dia ditempa menjadi sosok yang agamis. Kakeknya KH Abdul Rasyid selalu memberikan perhatian khusus kepadanya.
Maklum saja, KH Abdul Rasyid merupakan seorang guru agama madrasah dan Imam Masjid di Nurul Ulum Desa Kanie. Setiap malam, sang kakek mengajari khusus bahasa Arab, mengaji dan barzanji.
Keinginan kakeknya menjadikan seorang yang diteladani pun dicita-citakan. Pesantren adalah tujuannya. Dia disekolahkan di As’Asiyah Sengkang, Wajo.
Tahun 1992 ia masuk Madrasah Tsanawiyah 1 Pesantren As’adiyah, Sengkang dan tamat 1995. Ada banyak pengalaman agama didapatkannya.Salah satunya penghafal Alquran.
Kemudian melanjutkan pendidikan ke tingkat Madrasah Aliyah Keagamaan As’Adiyah pada tahun 1995 hingga 1998.
“Alhamdulillah, saya selalu juara 1 atau 2 pada saat itu, dan mulai menghafal Alquran di Masjid Raya Sengkang,” sebutnya.
Dari sinilah dia kemudian disekolahkan ke Mesir. Hasil jerih payahnya menjadi penghafal Alquran diganjar dengan beasiswa belajar ke luar negeri. Dibiayai lanjut kuliah di Al-Azhar Universitas Kairo, Mesir. Tepatnya di jurusan Syariah Islamiyah.
Di Kairo, ayah tiga anak ini menyelasaikan studinya pada jenjang strata I. Selesai dalam tempo empat tahun.
Sekembalinya ke tanah air, H Bunyamin kemudian melanjutkan kuliah S2 ilmu hukum di Universitas Muslim Indonesia. Dimulai pada tahun 2005. Di akhir kuliahnya, dia mengambil judul tesis; Efektifitas Bagi Hasil pada Bank Syariah.
Meraih gelar master tak membuatnya berpuas diri. Dia tetap ingin melanjukan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, yaitu S3. Mendalami sistem bank syariah atau ekonomi syariah.
Kegagalan menempuh dan mendalami ilmu agama juga ia ceritakannya. Sepulang dari Kairo tahun 2003, dirinya pernah berencana lanjut S2 di Maroko.
Tapi karena faktor biaya, niat itupun diurungkannya. Namun tidak berputus asa.
Pengalamannya menjadi santri di pesantren Sengkang dan kuliah di Mesir, mendorongnya untuk mendirikan usaha di bidang travel jasa umrah dan haji. Keahliannya berbahasa Arab dimanfaatkannya merintis usaha tersebut.
”Alhamdulillah, perusahaan saya sudah punya lima kantor cabang. Tersebar di Jakarta, Makassar, Parepare dan Sidrap. Mempekerjakan lebih 100 orang,”bebernya.
PT Annur Maarif dibentuk dalam kelompok bimbingan ibadah haji. Nama tersebut diambil dari nama ayah dan kakek yang mendidiknya hingga bisa seperti sekarang. ”Saya memang pernah berniat dan berjanji akan besarkan nama beliau berdua,” sambungnya.
Sejak didirikan tahun 2009 silam, PT Annur Maarif sudah memberangkatkan lebih dari 1.500 jamaah umrah dan haji. Dia menargetkan tahun 2017 ini perusahaan yang dipimpinnya akan memberangkatkan jamaah lebih 3.000 orang dengan fasilitas menjanjikan dan memuaskan.
Sejumlah penghargaan telah diraih dari usahanya ini. Diantaranya dari PT Garuda Indonesia dan penerbangan internasional Citilink Singapura. (purmady)

