pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Beasiswa Kuliah untuk Anak Panti Asuhan

HIDUP harus bermakna bagi orang lain. Tidak melulu untuk mengejar karir, menjaga zona nyaman dan memenuhi semua kebutuhan dalam skala materi.
Prinsip itu diterapkan dalam keseharian Andi Mustaman, Ketua Yayasan Bhakti Bumi Persada. Lelaki yang pernah menjadi anggota DPRD Sulsel selama dua periode itu tak pernah lepas dari kegiatan bakti sosial.
Dia merasa, ketika dirinya terlibat dalam kerja-kerja sosial yang bisa menolong atau meringankan beban seseorang, ada kepuasan batin yang dirasakan. Tidak bisa dibeli dengan apapun.
Selain itu, kerja sosial yang dilakukan merupakan salah satu wujud rasa terima kasih kepada Sang Maha Pencipta atas segala rahmat yang diberikan kepadanya.
Andi Mustaman merupakan tipikal orang yang sangat peka pada lingkungan. Jiwa sosialnya untuk membantu sesama cukup tinggi. Dan, itu tidak dilakoninya akhir-akhir ini saja, ketika namanya disebut-sebut sebagai salah satu kandidat yang punya peluang maju di pemilihan wali kota Makassar mendatang. Sejak dulu, ketika dirinya belum berkancah di dunia politik, ia sudah melakoninya.
Hampir dalam sepekan, ada saja yang dilakukan untuk masyarakat. Apakah sekadar menyambangi orang sakit dengan memberi semangat, menggelar aksi donor darah, terlibat dalam aksi kepedulian lingkungan seperti fogging, sunatan massal dan banyak lagi agenda sosial lainnya.
Karirnya di bidang akademis dan politik terbilang cukup mulus. Waktu kuliah, Mustaman tak punya cita-cita menjadi dosen. Selesai di Unhas Fakultas Sospol Jurusan Politik tahun 1985, sempat berpikir masuk di dunia birokasi.
Namun Tuhan sudah mengatur jalan hidupnya. Dia mendapat panggilan untuk jadi dosen di Universitas 17 Agustus. Secara perlahan namun pasti, karirnya di kampus itu menanjak.
Lelaki bersahaja itu kemudian diangkat menjadi Pembantu Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan. Hingga pada tahun 1998, karena kinerja sangat baik, diapun dipercaya sebagai ketua perguruan tinggi selama dua periode.
Kecintaannya pada dunia pendidikan pun semakin dalam ketika dia memutuskan membuat yayasan yang membawahi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Wira Bhakti Makassar. Sekolah tinggi itu cukup eksis hingga sekarang, dan sudah menelorkan 3.036 alumni. Mahasiswanya sekarang tercatat 1200 orang.
Sebagai ketua yayasan, jiwa sosialnya tetap terjaga. Dia membuat program beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu. Setiap tahun, bersurat ke panti asuhan untuk mencari anak-anak yang sebenarnya pandai tapi tidak punya kesempatan kuliah karena terkendala biaya. Kemudian diseleksi untuk mengikuti program kuliah gratis. Dan itu konsisten berjalan hingga kini.
Tahun 2002, dirinya terpanggil untuk ikut terlibat dalam dunia politik.
“Prof Ryas Rasyid waktu itu minta saya untuk eksis di PDK (Partai Demokrasi Kebengasaan) dengan jabatan wakil sekretaris PDK Sulsel, ” ungkapnya dalam sebuah kesempatan bincang-bincang santai dengan BKM.
Tahun 2004, dia ikut pemilihan calon legislatif dan terpilih. Selama dua periode, dirinya diberi amanah sebagai wakil rakyat. Saat menjabat sebagai anggota DPRD, Mustaman pun tak jauh-jauh dari mengurusi masalah kesejahteraan rakyat.
Lepas sebagai wakil rakyat, saat ini dia fokus mengelola dan mengembangkan yayasan yang didirikan dan dipimpin, sambil tetap aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Tak jarang, ketika menemukan warga yang sakit namun tidak bisa berbuat apa-apa karena tak punya biaya, dia turun langsung mengantarnya berobat.
Selama intens turun ke lapangan melihat langsung kondisi masyarakat, dia menyadari ternyata ada keadaan di mana pemerintah harus hadir secara intensif memberikan pelayanan.
Dia menegaskan, ada beberapa hal yang perlu dibenahi, yakni persoalan kesehatan. Pemerintah harus hadir secara maksimal memberikan pelayanan terbaik kepada warga, khususnya bagi yang kurang mampu. “Tidak boleh ada orang tidak berobat di rumah sakit karena tidak punya duit. Pemerintah harus hadir di situ,” tegasnya.
Begitu juga dengan pendidikan. Pemerintah tidak bisa mengeluarkan program hanya sebatas menggratiskan sekolah. Perlu juga dibuat mekanisme bagaimana anak didik sampai di sekolah, dan sebagainya.
“Slogan pemerintah untuk wajib belajar 12 tahun jangan sekadar wacana. Tapi pemerintah memang betul-betul harus hadir,” tegasnya.
Karena berbagai persoalan yang ditemukan itu, Andi Mustaman merasa terpanggil untuk masuk dalam sistem pemerintahan. Caranya, dengan maju sebagai salah satu kandidat wali kota Makassar.
Namun, wacana untuk maju tidak digaungkan secara asal-asalan. Dia harus melihat dan membaca situasi terlebih dahulu bagaimana kans untuk maju. Baik dengan melakukan survei atau menjajaki peluang.
Namun dia menekankan, semua yang dilakukan itu bermuara pada upaya untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat sebagaimana cita-citanya sejak dulu. (rahmawati amri)



×


Beasiswa Kuliah untuk Anak Panti Asuhan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar