Semasa Hidup Nursanti pernah Minta Pisah dari Keluarga
Hari itu, tak pernah terbayangkan kalau Sukri (suami) dan Nursanti (isteri Sukri) beserta anak sulungnya Susan (wanita) dan anak bungsunya Rifky (laki-laki), harus tewas bersamaan satu keluarga di hari fitri. Ada selintas cerita lain di balik peristiwa naas yang menimpa pasangan muda yang dikenal hidup bahagia itu.
Adalah Nursanti, kelahiran tahun 1979 itu adalah seorang guru sekolah dasar, tepatnya guru SD Negeri 2 Lainungan Kec Watangpulu Kab Sidrap yang bertempat tinggal Kompleks Perumahan SD tersebut. Ibu muda yang dikenal taat beragama itu merupakan anak ke-6 dari 7 bersaudara dari ayahnya almarhum Puang Bulang dan ibunya bernama I Tima, (70), masih hidup). Lantaran suami dan 2 anaknya satu nasib, tewas bersamanya, maka keluarga dekat yang ditinggalkan adalah, ibunya kandunya bernama I Tima , 5 orang kandungnya masing-masing bernama Ramlah, Safri, Lallang, Hasnah, Eta dan Cenni.
Abd Hafid, Kepala Desa Carawali Kec Watangpulu yang dimintai keterangannya menggambarkan sekilas bahwa Nursanti adalah sosok wanita yang baik budi pekertinya dan taat beragama sejak usia muda. “Nursanti itu wanita yang moralnya baik, saleha dan dia kader IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) yang patuh,” ujar Hafid, Kades yang juga mantan Instruktur IRM.
Pihak keluarga di rumah duka mengungkapkan bahwa pada hari lebaran lalu, suaminya Sukri, Nursanti, 2 anaknya Susan dan Rifky berpakaian seragam hitam-hitam. Ada pihak yang menanggapi bahwa pakaian seragam itu merupakan tanda-tanda bahwa ia bakal senasib mati bersama. Sementara, sejumlah anggota keluarga mengatakan seamasa hidupnya Nursanti dan keluarganya memang suka berkostum seragam satu keluarga dan pakaian hitam-hitam itu memang merupakan stile trend masa kini yang mencirikan ketaatan bergama.
Yang unik, sebagaimana diungkapkan saudara kandungnya, Ramlah dan Hasnah (I Senna) bahwa Nursanti semasa hidup, belum lama ini pernah memberikan pernyataan mengejutkan. Seperti diketahui, kakaknya Ramlah, akan melangsungkan pesta pernikahan seorang putranya 16 Juli 2017 mendatang. Nursanti mengatakan tidak akan menghadiri pesta pernikahan itu karena akan keluar dan akan memisahkan diri dari komunitas keluarganya. “Mungkin saya tidak menghadiri pesta pernikhan karena saya akan keluar dari kelompok keluarga,” ujar Nursanti nada berkelakar sembari tertawa sebagaimana diungkapkan Ramlah dan Senna, kakaknya.
Kendati Nursanti ketika itu hanya berguyon, namun setelah Nursanti ditimpah musibah kecelakaan yang merenggut nyawanya bersama suami dan anak-anaknya, pernyataannya semasa hidup itu ternyata benar adanya. Oleh karenanya, pernyataan Nursanti ketika tersebut dinilai sebagai tanda-tanda dan firasat bahwa ia dan keluarganya akan menemui ajal dan berpulang ke rahmatullah sebelum pesta pernikahan keponakannya. Disamping itu, Pernyataan Nursanti semasa hidup tersebut seakan-akan mohon pamit kepada jajaran keluarganya sebelum menghadap keharibaan Allah SWT.
Kepergian Nursanti bersama suaminya Sukri dan 2 orang anaknya, Susan dan Rifky karena bertabrakan dengan bus memang amat memilukan dan meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Bahkan, tragedi kemanusiaan ini mengundang ibah dan simpati berbagai kalangan sehingga pada prosesi pemakaman sehari setelah kejadiaan, Senin (26/6) lalu, lokasi pemakaman di Pekuburan Lagong Simae Kel Duampanua Kec Baranti Sidrap dipadati sanak- keluarga dan khalayak yang ingin menyaksikan langsung peristiwa yang terbilang langka itu. (*)

