DITUNTUT untuk hidup sederhana, mambuat jiwa kewirausahaan Rahmatullah terasah sejak dini. Ia pun harus berani memulai usaha kecil-kecilan sejak masih sekolah. Jualan kaos sudah ia lakoni kala duduk di bangku SMA.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
DARI usahanya sendiri, Rahmatullah mampu membeli sendiri semua barang-barang keperluan sekolah. Buku dan sebagainya ia beli dari hasil jerih payahnya. Dia memang tidak lagi bergantung kepada orang tuanya sejak saat itu.
Semasa kecil hingga kuliah, Rahmatullah tinggal di Makassar. Ia menamatkan sekolah di SD Minasa Upa, SMP 1 Makassar, dan SMA 11 Makassar. Kemudian melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di UIN Alauddin.
Di bangku kuliah, ia masih berjualan kaos. Bersamaan dengan itu, menjual alat-alat kesehatan juga dilakukannya. Rahmatullah mengatakan, dirinya tidak pernah menggunakan modal besar. Baginya, usaha dengan modal pas-pasanpun bisa asalkan ada kemauan.
Untuk usaha jualan kaos dan alat-alat kesehatannya saja ia menggunakan sistem pre-order. Jika ada orang yang memesan barulah diperadakan olehnya. Dan itu ternyata sangat efektif baginya. “Pre-orderji. Mereka bayar, saya carikan barang, saya jual. Dari hasilnya itumi yang saya putar terus. Kecil-kecil iya, tapi kan efektif,” kata Rahmatullah.
Ia sedikit bercerita tentang semasa kuliahnya. Waktu itu Rahmatullah harus tetap menggelui usaha kecil-kecilannya guna memenuhi kebutuhannya. Sampai saat memasuki KKN pun, ia tetap fokus usaha. “Waktu KKN teman-temanku sibuk pembekalan. Saya justru sibuk jual baju, jual spanduk dan sebagainya,” kenangnya.
Dan semua itu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Semuanya membawa hikmah setelah ia berhasil menyelesaikan kuliah. Rahmatullah tahu betul betapa sulitnya seorang perawat mencari pekerjaan.
Belum lagi seorang perawat juga ditantang mengikuti regulasi aturan uji kompetensi yang cukup sulit. Maka dari itu, kemampuan kewirausahaannya yang ia asah sejak dini benar-benar membantu kehidupannya.
Ia bahkan tak pernah lagi memikirkan mencari pekerjaan. Namun yang ia pikirkan saat itu adalah menciptakan lapangan pekerjaan. Benar-benar pemikiran yang sangat brilian untuk orang seusianya.
Di awal merintis usahanya, pada 2012 ia menyewa sebuah tempat di Jalan Manuruki, Makassar. Tempatnya tergolong sangat kecil, karena memang tempat tersebut adalah sebuah kamar kos. Namun ia tetap yakin akan bisa sukses. Tujuan utamanya tentu membangun sebuah klinik mandiri.
Sebelum memulai membuka klinik, Rahmatullah membentuk sebuah event organizer (EO) terlebih dahulu. Yang ditanganinya seminar-seminar kesehatan. Ia mengajak teman-temannya untuk bergabung bersama dengannya.
EO nya pun berkembang pesat. Iapun mengumpulkan modal sedikit demi sedikit dari penghasilan EO tersebut untuk tujuan awalnya, yaitu mendirikan klinik. Rahmatullah harus mengesampingkan terlebh dahulu niatnya membeli barang-barang berharga demi menabung. Ia yakin dan benar-benar memfokuskan diri untuk tujuannya tersebut.
Alhasil, pada 2016 ia telah berhasil mendirikan rumah sunat sendiri dengan modal hasil dari seminar-seminar yang ia jalankan. Sebuah usaha yang benar-benar dirintisnya mulai dari nol.
Hingga saat ini kliniknya telah berdiri dan bahkan semakin berkembang. Omzetnya bisa sampai Rp 50 juta per bulan. Sekarang, Rahmatullah tidak harus lagi hidup dalam kesederhanaan, ia bahkan bisa membeli apa saja yang ia maui.
Dalam usahanya, ia punya program nurse ranger. Tujuannya mengajak perawat-perawat lain untuk lebih mengembangkan jiwa kewirausahaannya. Bukan malah menjadi tenaga honorer.
Karena dalam niatnya, Rahmatullah mendirikan kliniknya berdasarkan dari keresahan akan perawat yang magang sukarela di daerah-daerah dan kadang tidak digaji. Kadang juga ada yang digaji hanya Rp150 ribu per bulan. Dia ingin perawat juga bisa mandiri.
“Para perawat itu harusnya mendapat pendapatan sesuai yang ia kerjakan. Bukan malah dapat porsi kerja tinggi tapi penghasilan sangat kecil,” kata Rahmatullah.
Kesulitan yang ia rasakan selama ini dalam menjalankan usahanya tersebut hanya pada sosialisasi dan saingan bisnis. Saat ini kliniknya masih membutuhkan sosialisasi secara intens. Selain itu ia juga harus berani bersaing dengan klinik-klinik besar yang telah ada di Makassar.
Terakhir ia berpesan untuk para calon pengusaha, bahwa butuh kerja keras yang ekstra untuk membangun usaha. Namun jika ikhlas dan selalu punya target, pasti akan bisa mencapai target tersebut.
“Butuh kerja keras dalam membangun usaha. Tapi bertahan akan lebih sulit. Ikhlaslah dan miliki target, maka kita akan bertahan dan mencapai terget tersebut,” kuncinya. (*/nug/b)

