pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Di Hari Minggu Bisa Jual Hingga 200 Bungkus

UPAYA membumikan makanan khas dan tradisional Makassar kian banyak dilakukan. Bukan para pemilik ritel ataupun toko besar yang melakoninya. Namun para pedagang kecil dari kalangan kaum urban yang masuk ke kota ini.

Laporan: Arif Alqadry

JALAN Hertasning dalam beberapa bulan terakhir tampak berbeda dari biasanya. Ada pemandangan yang tak lazim terlihat di pingiran jalan ini, dari pagi hingga sore.
Ya, sepeda motor yang ditunggui pemiliknya berjejer tak jauh dari Lapangan Hertasning. Tepatnya di depan kantor PLN. Mereka bukan tukang ojek yang sementara menunggu penumpang. Karena di bagian boncengan kendaraan roda miliknya terdapat sesuatu yang telah dikemas rapi dan pembungkus plastik.
Disusun di atas sebuah kota ukuran sedang, mereka menawarkan jajanan berwarna kuning. Tertera sebuah tulisan pada secarik plastik ataupun kertas; poteng harga Rp5.000. Ada juga yang menulis; tape ubi.
Poteng adalah bahasa Makassar. Sementara tape ubi merupakan bahasa Indonesia.
Makanan khas ini memiliki rasa manis dan lembut ketika dikunyah. Poteng dipercaya memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Mulai dari menghilangkan rasa capek, menurunkan kadar gula, asam urat hingga mengobati penyakit kanker.
Hal itu dituturkan Dg Kallu, salah seorang penjual poteng yang berasal dari Desa Parambambe, Galesong Kota, Kabupaten Takalar. “Sudah banyak dokter yang datang beli tape atau air tape ke saya. Dia tanyaka kalau tape dan air tape banyak khasiatnya. Salah satunya bisa menyembuhkan kanker,” kata Dg Kallu.
Sudah tiga tahun ia menjajakan es poteng dan tape dengan cara keliling dari satu kompleks ke kompleks lainnya di Makassar. Hanya saja, di tahun ini dia bersama keluarganya hanya fokus menjual tape.
“Tahun inipi saya fokus jual tape saja, karena banyak orang cuma mau beli tape. Sebenarnya yang membedakan es poteng dengan tape hanya di sirup dan esnyaji. Jadi kalau es poteng tetap pakai tape, tapi dicampur dengan es dan sirup. Kalau tape hanya ubi yang sudah difermentasi,” jelasnya.
Ia mengklaim, hampir semua penjual tape ubi yang berjualan di sepanjang Jalan Hertasning merupakan keluarganya dari Galesong Kota yang datang mencari rezeki di Makassar. Sejak pukul 06:00 Wita, dirinya bersama keluarganya berangkat dengan sepeda motor untuk berjualan tape ubi di tempat ini.
Selain di Jalan Hertasning Raya, ada juga yang masuk ke pasar-pasar tradisional di Makassar seperti di Pasar Kalimbu dan Pasar Terong. Mereka mencari tempat kosong untuk berjualan.
“Tapi di Jalan Hertasningji yang bagus jualannya. Itupun di depan kantor PLN ini. Karena orang yang dari arah Jalan Petta Rani masuk Jalan Hertasning menuju Jalan Aroepala itu menuju desa. Jadi banyak orang yang beli. Semua jalan juga kita sudah servei. Di jalan iniji yang banyak laku,” akunya.
Sulitnya mendapatkan tempat strategis dengan harga yang terjangkau,menjadi kendala dirinya sampai saat ini belum dapat menjual tape secara menetap pada satu tempat. Padahal dikatakan, tapenya sudah seringkali dipesan dari hotel-hotel di Makassar dan mendistribusikan ke toko kue tradisonal.
”Kita jualan tape selesaipi musim hujan sekitar April. Karena kalau musim hujan, kualitas ubi itu jelek. Juga tidak banyak orang yang mau beli,” lanjutnya.
Di hari-hari biasa, dia mampu menjual 100 bungkus tape per harinya. Sementara di hari Minggu bisa mencapai 200 bungkus.
Untuk harganya, sebungkus tape dijual seharga Rp5.000. Sedangkan untuk air tape dijualnya seharga Rp10.000 per botol.
“Kalau rezeki baik, bisa jual 100 bungkus tape setiap hari. Jadi bisa kita dapat sampai Rp500 ribu, dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore. Ini tongmi yang bisa saya kerja untuk menafkahi keluarga di rumah,” terangnya. (*/rus)



×


Di Hari Minggu Bisa Jual Hingga 200 Bungkus

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar