PANGKEP, BKM — Warga Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Minasa Te’ne, dalam beberapa waktu terakhir, mengeluhkan sumurnya yang kering kerontang akibat aktivitas perusahaan tambang marmer.
Pasalnya, tambang marmer ini telah menyedot sumber air warga. Karena galian yang dilakukan pihak penambang lebih dalam daripada sumur warga. Kondisi ini membuat pihak Komisi III DPRD Pangkep meminta agar aktivitas tambang marmer di Kelurahan Kalabbirang ditutup.
Keresahan warga ini kemudian membuat Komisi III DPRD Pangkep, turun ke lokasi tambang untuk mengecek aktivitas tambang yang dikeluhkan warga sebagai biang penyebab sumur warga kekeringan sumber air. Hal ini diakui Ketua Komisi III DPRD Pangkep, H Pattola Husain, saat dihubungi BKM, Minggu (20/8).
Menurut wakil Partai Golkar ini, pihaknya saat datang langsung disambut warga. Ia tidak hanya melihat lokasi tambang marmer. Tapi warga juga memintanya menyaksikan langsung kondisi sumur. Ternyata, memang sumur itu mengalami kekeringan. Sumur itu kering karena airnya tersedot ke galian yang lebih dalam dari sumur warga.
Setelah melihat langsung kondisi kekeringan sumur masyarakat, tambahnya, sehingga tidak ada lagi alasan dari perusahaan ini untuk tetap beraktivitas. ”Kami minta ditutup saja lokasi tambang marmer ini. Karena sudah merusak lingkungan dan sumber air warga,” kata H Pattola.
Apalagi, Dinas Lingkungan Hidup, kata H Pattola, sudah pernah memberikan surat teguran kepada perusahaan tambang marmer untuk menghentikan kegiatannya. ”Makanya, setelah dilaporkan kepada ketua DPRD, kami akan mendatangi Dinas Pertambangan Pemprov Sulsel,” tandasnya. (udi/mir/c)
Sumur Warga Kering, Dewan Minta Tambang Marmer Ditutup
×

