TAMAN Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar menjadi tempat peristerahatan jasad para pahlawan nasional. Kompleks tersebut juga menjadi saksi bisu orang-orang yang telah berjuang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Laporan: Muh Is’ad- Muh Idham
Ada sekitar 2.067 makam pahlawan yang berjejer rapi dengan suasana rindang dan nampak asri. Lahan makam seluas 3 hektar ini pula tempat Supriadi mengabdi untuk menjaga kebersihan dan merawat makam-makam pahlawan. Supriadi tidak sendiri, dia bekerja sebagai pemelihara makam di TMP Panaikang bersama lima orang rekannya yang di pekerjakan oleh Dinas Sosial Provinsi Sulsel.
Supriadi juga bertanggung jawab atas kebersihan, kerapian dan kemanan kompleks tersebut.
19 tahun sudah Supriadi bergabung dengan jajaran dinas sosial. Awal tahun 1998 dia mulai menjadi petugas pemeliharaan makam. Hanya saja, di akhir tahun itu dia dipindahkan ke panti sosial Salodong.
Waktu itu usianya masih muda dan masih bujang, sehingga belum terlalu terbebani dengan urusan keuangan. Nanti di tahun 2004 dia di kembalikan ke tempat awal dia bekerja, di Taman Makam Pahlawan Panaikang Kota Makassar.
“Bukan hidup yang jadi lebih mudah, tapi anda yang jadi lebih kuat,” kutipan kata bijak itulah yang bisa menggambarkan kehidupan Supriadi.
Lelaki berumur 35 tahun itu menjalani hidup hari demi hari dengan rasa syukur walau sulitnya. Kesulitan hidup dia mulai rasakan ketika ia telah berkeluarga. Penghasilan sebagai penjaga Makam Pahlawan dirasa tidak begitu mencukupi lagi, namun ia tak pernah berfikir untuk cari pekerjaan lain. Rasa cinta dan bangga atas pekerjaannya membuat dia bertahan dengan keterbatasan.
Dengan senyum kecil Supriadi menjelaskan bahwa gaji yang ia terima, hanya satu juta Rupiah perbulan. “Kalau diperinci ya banyak sekali suka dukanya, tapi ya bagi saya diniati ibadah saja,” ujarnya.
Bukan hal yang mudah memang, hidup dengan gaji yang terbilang kecil, untuk menafkahi keluarganya yang kini di anugrahi enam orang anak itu. pekerjaan Supriadi memang tidaklah terlalu sulit, namun juga bukan hal yang mudah, setiap hari Supriadi menyapu dedaunan kering yang jatuh dari rindangnya pohon-pohon, lumut yang tumbuh di batu dan tembok- tembok makam juga harus selalu di kontrol agar terlihat bersih, belum lagi jika ada anak-anak yang mencoreti pagar makam dengan pilox, kami harus segera bersihkan sebelum di tegur atasan, ucap lelaki yang hanya tamatan SMP ini.
Meski begitu, Supriadi merasa bangga dirinya menjadi penjaga makam pahlawan, namun tak ada dari anak-anaknya yang mau meneruskan pekerjaan tersebut. “Anak saya tidak ada yang mau jadi penjaga makam,” katanya. (*)

