pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Terapkan Sistem Berbeda, Tentor Diberi Insentif Tinggi

DI zaman yang serba canggih saat ini, kreativitas sangat dibutuhkan bagi setiap orang. Tanpa ide-ide segar yang kreatif, persaingan usaha akan semakin berat.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

TAK lebih dari setahun sejak didirikannya, Kalifah Institute milik Akbar telah memiiki omzet hingga Rp200 juta. Tentu itu bukanlah suatu kebetulan. Salah satu hal mendasar dalam meraih kesuksesan terletak pada pengelolaannya yang berbeda dengan lembaga bimbingan belajar lain.
Akbar memilih menjalankan lembaga bimbingan belajar ini lebih kepada pengelolaan dengan sistem Islami. Ia memadukan sistem ekonomi dan pendidikan Islam kepada pengelolaan lembaganya, maupun kepada para siswa yang diajarkannya. Inovasi yang terasa beda ini ternyata mampu menarik banyak siswa untuk bergabung di Khalifah Institute.
Berawal dari keresahannya melihat berbagai lembaga bimbingan belajar yang justru tidak mengutamakan pendidikan, Akbar mendirikan Khalifah Institute. Ia beranggapan bahwa kebanyakan lembaga bimbingan belajar saat ini hanya mengutamakan profit, bukan pendidikan itu sendiri.
Jengah dengan situasi yang ada, Akbar akhirnya mendirikan lembaga bimbingan belajar sendiri yang ia klaim memiliki tujuan utama adalah pendidikan, bukan uang.
Akbar seolah mengerti akan situasi. Ia teringat akan pengalaman hidupnya sebelum ia merintis usaha sendiri. Termasuk dari malang melintang mengajar sebagai tentor di beberapa lembaga bimbingan belajar.
“Saat ini kebanyakan pengajar dibayar rendah, padahal ilmu itu susah didapatkan. Di Khalifah Institute berbeda. Kita memberi insentif kepada para tentor itu dari Rp50 ribu sampai Rp70 ribu. Berdasarkan survei, kitalah yang paling tinggi dalam pemberian upah kepada tentor,” jelas Akbar.
Selain sistem yang berbeda, Khalifah Institute juga menggunakan dua metode kelas. Yaitu kelas reguler dan private. Kelas reguler adalah kelas pada umumnya, dimana siswa ditempatkan pada ruang kelas khusus di Khalifah Institute selama proses pembelajaran. Sedangkan kelas private adalah kelas yang dikhususkan bagi siswa yang ingin belajar di rumahnya sendiri.
Akbar mengatakan jika di Khalifah Institute memiliki tiga segmentasi pasar. Yakni full private, semi private, dan regular class.
Full privat merupakan kelas private dengan metode satu tentor satu siswa. Semi private adalah kelas private dengan siswa berjumlah tiga sampai lima orang untuk satu tentor. Sedangkan regular class adalah kelas yang disediakan oleh Khalifah Institute dengan siswa sebanyak lima sampai 12 siswa.
Pemasaran di awal perintisannya sendiri tergolong unik. Akbar sepertinya memang berniat menjadikan lembaganya besar, yang tak kalah dari lembaga manapun.
Bayangkan saja, ia langsung membuat simulasi SBMPTN kala itu di setiap daerah di Sulawesi Selatan. Dengan melibatkan 250 orang teamwork, peserta keseluruhan saat itu mencapai lebih dari 8.000 siswa.
Semuanya tidak lepas dari sifat kemandirian Akbar sejak dulu. Juga kerja kerasnya selama ini. Kala melakukan simulasi SBMPTN, ia bekerja sama dengan berbagai pemerintah di beberapa daerah.
“Kenapa banyak peminat saat itu? Karena salah satunya kita berikan hadiah bagi yang juara. Bukan berupa uang, namun dalam bentuk studi. Juara 1 provinsi kita ajak studi banding ke National University of Singapore di Singapura. Sedangkan juara 2 dan 3 kita ajak studi banding ke Universitas Indonesia,” terang Akbar.
Saat ini Khalifah Institute memiliki tiga cabang. Satu di Minasa Upa, dan dua di BTN Antara. Khalifah Institute juga memiliki 10 tim kerja dan sekitar 150 orang pengajar selama berdirinya.
Selain karena inovasinya di Khalifa Institute, Akbar juga memiliki kiat-kiat khusus. terutama bagi para pemuda agar bisa sukses.
Baginya, doa dan support orang tua sangat penting dalam menunjang karir. Selain itu, ia juga menganjurkan untuk tidak meninggalkan salat lima waktu bagi yang muslim.
Komunikasi yang baik dengan siapapun juga menjadi hal yang utama. Selain itu, baginya setiap orang tak perlu takut dengan kegagalan. “Pengusaha tanpa kegagalah, justru itulah pengusaha gagal,” seru Akbar.
Ke depannya, Akbar masih terus akan mengembangkan lembaganya. Ia akan memulai membuat aplikasi khusus Khalifah Institute secara online. Tujuannya, agar semua masyarakat Indonesia bisa merasakan fasilitas dan keunggulan yang mereka miliki. (*/rus/b)



×


Terapkan Sistem Berbeda, Tentor Diberi Insentif Tinggi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar