MAKASSAR, BKM — Beberapa pekan terakhir, masyarakat mengeluhkan kelangkaan elpiji. Selain langka, harganya juga meningkat drastis. Di tingkat pengecer, harga gas elpiji 3 kg berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.500 per tabung.
Menyikapi kondisi itu, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo meminta dinas terkait, dalam hal ini Dinas Perdagangan (Disdag) Sulsel melakukan pemetaan dan mencari penyebab kelangkaan Elpiji 3 kg yang terjadi di Kota Makassar.
Dia meminta Disdag berkoordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk berkoordinasi dan melakukan pemetaan (mapping) mencari tahu penyebab kelangkaan elpiji tersebut.
“Dua instansi itu harus berkoordinasi cari tahu apa penyebab kelangkaan elpiji itu. Apakah karena ulah spekulan, ada yang menimbun, cuaca buruk, atau apa, ” kata Syahrul.
Sejauh ini, lanjutnya, belum ada laporan resmi yang ia terima terkait kelangkaan gas bersubsidi tersebut.
“Bisa saja itu karena ada keterlambatan, karena cuaca dan lain-lain, biasanya kalau saya sudah turun akan selesai,” ujarnya.
Salah seorang warga Jalan Berua, Daya, Al Amin sempat mengeluhkan kelangkaan elpiji di sekitar tempat tinggalnya.
“Mulai susah didapat di tingkat pengecer, biasanya mencari dulu di agen kadang masih ada atau habis. Kalau di SPBU biasanya ada,” tuturnya.
Sementara itu warga di Kecamatan Tallo, Haerah, menuturkan kurangnya penjualan tabung 3 kilogram tersebut sudah berlangsung hampir dua pekan. Bisanya untuk ketersediaan tabung di pengecer banyak, namun terus berkurang bahkan habis.
Sebelumnya, PT Pertamina, melalui Area Manager Communication & Relation Pertamina Sulawesi, Hermansyah Y Nasroen mengklaim distribusi elpiji 3 kilogram hingga hari ini normal tanpa adanya pengurangan stok.
Tentu hal ini bertolak belakang dengan kondisi di lapangan. Hermansyah mengatakan, volume elpiji 3 kg yang disalurkan di bulan Oktober 2017 khusus Sulsel sebanyak 6.553.997 tabung atau setara rata-rata harian sebesar 252.077 tabung/hari.
Jumlah tersebut, kata dia, telah sesuai dengan rata-rata penyaluran elpiji 3 kg tiap bulannya. Penyaluran elpiji 3 kg ini sesuai kuota yang ditentukan oleh pemerintah.
“Penyaluran kita tetap, tidak ada pengurangan,” ujar Hermansyah melalui pesan whatsapp, kemarin.
Ia menjelaskan, sebanyak 117 agen sebagai perpanjangan penyaluran gas bersubsidi tersebut dari 7.909 pangkalan. Adapun aktivitas pengisiannya dilakukan di 15 SPPBE (Stasiun Pengisian & Pengangkutan Bulk Elpiji) dan saat ini berjalan lancar tanpa kendala.
Pihaknya pun menduga, kelangkaan elpiji 3 kg hanya terjadi di pengecer bukan di pangkalan resmi.
Olehnya itu, pihaknya mengimbau masyarakat membeli elpiji 3 kg di pangkalan terdekat sesuai harga eceran tertinggi yakni Rp15500. Sebab pengecer bukan jalur distribusi resmi Pertamina.
“Pertamina sebagai badan usaha yang ditugaskan menyediakan dan mendistribusikan elpiji 3 kg, hanya melakukan pengawasan pendistribusian hingga ke tingkat agen dan pangkalan, tidak sampai ke tingkat pengecer,” jelasnya. (rhm)

