TAGLINE 3S, Senyum, Salam dan Sapa yang diberlakukan semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) Pertamina dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Laporan: ARIF AL QADRY
Setiap hari tagline itulah yang dilakukan Yasmiani saat bekerja melayani pengendara bermotor dan roda empat.
Sudah dua bulan lebih, perempuan kelahiran Sinjai, 20 November 1998 bekerja mengisi BBM roda dua. Ia bekerja sebagai petugas operator SPBU.
Tugasnya cukup sulit. Selain harus mampu berdiri selama berjam-jam, petugas operator SPBU dituntut harus bisa menguasai hitung uang secara cepat. Karena setiap hari jumlah kendaraan bermotor selalu ramai masuk mengisi BBM. Kalau bisa salah hitung, dan salah mengembalikan uang kembalian, petugas operator SPBU siap-siap untuk mengganti kerugian sesuai nilainya.
Kerugian yang dialami petugas operator SPBU bisa juga disebabkan karena adanya masalah komunikasi antara pembeli dan petugas operator SPBU. Biasanya pembeli meminta kepada petuga mengisi BBM senilai Rp20 ribu, namun petugas operator malah mendengar permintaan pembeli sebesar Rp25 ribu. Sehingga petugas mengisi BBM sebesar Rp25 ribu.
Sebenarnya untung-untungan saja. Kalau pembeli mau membayar lebih uang Rp5.000 maka petugas operator tidak rugi. Tetapi ketika pembeli ngotot dan tegas tidak ingin mengganti karena itu kesalahan petugas operator maka kerugian ditanggulangi petugas.
Petugas operator tidak bisa bermain atau curang ketika bekerja. Pasalnya usai bekerja sift, dilakukan pemeriksaan kembali. Tujuannya untuk mencocokkan bensin yang dijual dan uang yang disetorkan petugas.
“Kalau pemeriksaan ada tekor kita ganti. Tapi gantinya nanti gajian, jadi gaji kita langsung dipotong sesuai nilai kerugian kita,” aku anak bungsu dari enam saudara itu.
Tekor tidak bisa dihindarkan. Selama dia bekerja, sudah berapakali dia tekor. Gajinya yang hanya Rp1 juta setiap bulannya pernah sekali dia dapat cuma sebesar Rp800 ribu. Kondisi itupun sangat memprihatinkan ketika melihat risiko kerja dan jam kerja yang harus berdiri dan menghirup bensin.
Adapun keuntungan yang didapatkan tidaklah besar. Paling besar Rp1.500. Keuntungan dia dapatkan dari kembalian uang yang diberikan kepadanya, dan dari pengisian full BBM.
“Keuntungan biasanya kalau ada yang isi BBM misal Rp30 ribu, trus cuma Rp28 ribu sudah full. Lebihnya itumi saya dapat. Tapi tidak seberapa ji. Kalai Gaji ku setiap bulan Rp1 juta, dan pernah sekali tidak sampai karena haruska tutupi kerugian,” sebutnya.
Sementara bekerja, Yasmiani juga masih berkuliah di Universitas Indonesia Timur (UIT) Fakultas Ekonomi. “Saya bekerja juga untuk membiayai uang kuliah. Saya berharap bisa cepat selesai dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi,” katanya.(arf)

