MAKASSAR, BKM – Sejumlah armada Bus Rapid Trans (BRT) Maminasata dikabarkan bakal ditarik ke pusat. Wacana ini mencuat seiring laporan Perusahaan Umum (Perum) DAMRI menderita kerugian akibat pemasukan yang sangat minim.
Sekitar 20 BRT terancam dikembalikan ke pusat. Penyebabnya, karena perusahaan terus merugi sejak mengoperasikan armada ini mulai tahun 2014 lalu. Bahkan, Perum Damri selaku pengelola mengakui, jika sepanjang 2017 kerugian yang diderita mencapai Rp3 miliar. Alasannya, BRT belum cukup diminati dikalangan masyarakat.
Hal itu, diungkapkan General Manager Perum Damri, Ilyas Hariyanto belum lama ini. Menurutnya kepopuleran BRT belum cocok dengan kebiasaan warga Sulsel.
Kepala Dinas Perhubungan Sulsel, Ilyas Iskandar menampik hal itu. Menurutnya kalkulasi yang dilakukam oleh Damri belum tepat.
“Versinya ji kepala cabang DAMRI yang mengkalkulasi bahwa terjadi kerugian, menurut dia Rp3 miliar kerugian,” ujar Ilyas Iskandar usai menghadiri rapat RPJMD di DPRD Sulsel, pekan lalu.
Ilyas beranggapan kerugian itu tidak pernah ada jika pihak DAMRI dapat membantu Dinas Perhubungan melakukan peningkatan kualitas pelayanan agar masyarakat semakin berminat.
“Ini mi tantangan bagi pemerintah, tentu yang perlu kita benahi adalah durasi tunggu, dan pelayanan pada masyarakat. Damri ini perlu meningkatkan bagaimana pelayanan, bagaimana fasilitas, dan berapa jangka lama masa tunggu u? Yang ideal itu 5-10 menit. Kalau dia sampai satu jam hingga dua jam orang kecewa dong,” ujar Ilyas.
Sementara menurutnya hingga kini pihaknya terus melakukan sosialisasi agar BRT dapat diminati masyarakat.
“Kan di sini mi peranan pemerintah melalui Dinas Perhubungan, untuk menyosialisasikan. Supaya terbiasa dengan angkutan massal. Bahkan saya menemui Menteri Perhubungan melalui Dirjen Perhubungan Darat, Sulsel akan kembali diberikan 30 unit bus, ” jelasnya.
Dia melanjutkan, pekerjaan meyakinkan masyarakat adalah pekerjaan yang sangat berat sehingga Dishub membutuhkan peran semua sakeholder.
“Tentu saja keberhasilan untuk menyosialisasikan bus BRT ini memang tidak semudah membalik telapak tangan. Ada beberapa yang harus di lakukan terutama menyamakan kebiasaan masyarakat Makassar yang cenderung menggunakan kendaraan pribadi,” lugasnya.
Sebelumnya, Ilyas Harianto mengaku kerugian DAMRI mulai terasa sejak 2017 lalu lantaran kurangnya penumpang.
“Kami terus merugi. Susah BRT berkembang di sini. Makanya, pusat mau ambil 20 unit,” ungkap Ilyas Harianto.
Faktor lain penyebab meruginya perusahaan Damri Makassar, lanjut Ilyas Harianto yakni tidak adanya subsidi dari pemerintah daerah. Seperti diketahui, semua armada yang di operasikan Damri di semua kota di Indonesia mendapat subsidi oleh pemerintah daerah. Namun hal ini tidak berlaku di Sulsel, sehingga perusahaan menjadi merugi dan membuat keuangan perusahaan terger
Dari total 30 armada BRT Mamminasata yang beroperasi 10 armada yang tersisa nantinya akan tetap beroperasi di wilayah Makassar dan sekitarnya. Namun 10 armada itu akan selektif untuk melayani rute komersial yang menjanjikan saja. Seperti rute mal ke mal dan Panakkukang – Pallangga.
Diketahui pula, pemprov Sulsel telah membangun 170 unit halte, dan tahun ini pemprov kembali menambah 44 unit halte, sehingga total halte yang ada dan sementara dalam pembangunan berjumlah 214 unit/ yang tersebar dibeberap koridor.
Jika estimasi anggaran untuk pembangunan satu unit halte sebesar Rp100 juta, maka anggaran yang sudah dikeluarkan sekitar Rp21,4 miliar. tentu hal ini akan menjadi pemborosan anggaran, bila halte – halte yang telah dibangun tidak dipergunakan sebagaimana peruntukannya. (rhm)
Pemprov Tampik Damri Merugi
×

