SERING kita bayangkan, sosok sipir tahanan adalah orang yang keras berbadan kekar dan suka memukul jika mendapat narapidana yang tidak patuh dan taat akan tata tertib lembaga pemasyarakatan. Apalagi, sipir tahanan bekerja menghadapi narapidana yang wataknya berbeda-beda.
Laporan: JUNI SEWANG
Termasuk jika kita menonton sinetron yang menggambarkan kehidupan di penjara begitu keras. Ada narapidana yang lemah dan tertindas kemudian ada narapida yang berkuasa karena dia kuat.
Ternyata apa yang kita bayangkan tidak begitu faktanya. Pada kenyataannya di lembaga pemasyarakatan (Lapas) atau rumah tahanan (Rutan) adalah tempat yang dapat merubah watak narapidana dari kehidupan keras menjadi baik dan yakin mereka semua orang baik.
Memang semasa di luar tahanan mereka berbuat kriminal karena desakan kebutuhan hidup dan rasa malu.
Kerjaan sipir tahanan memang dirasakan gampang-gampang susah. Resiko paling besar yang ditakuti semua sipir adalah kalau ada tahanan yang kabur. Olehnya itu, jadi sipir juga mesti waspada dengan segala tindak-tanduk narapidana. Tapi sipir juga harus siap jadi konsultan karena sering jadi tempat curahan hati para narapidana.
Seperti halnya yang dialami Ridwan, sipir tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar.
Terangkat sebagai pegawai negeri sipil di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumhan) Sulsel tahun 1991, Ridwan memulai karirnya dan bertugas di Lapas Klas 1 Makassar dan langsung mendapat kepercayaan menjaga tahanan.
Menurut Ridwan, menjadi penjaga tahanan tentunya ada mudahnya dan ada susahnya. Selama 26 tahun menjadi penjaga tahanan ia sehari harinya bertemu dengan ribuan karakter, baik dari warga binaan sendiri sampai keluarga dari warga binaan (pembesuk).
” Menjadi penjaga tahanan ngeri ngeri sedap, sedapnya ya’ banyak kenalan, banyak teman dari berbagai kalangan, profesi, latar belakang. Malahan mereka curhat penyebab sehingga mereka masuk menjadi warga binaan. Ngerinya kalau ada tahanan kabur, ” kata pria kelahiran Gowa, 19 Januari 1965 ini.
Bahkan kata Ridwan, karena dekatnya dia dengan narapidana, mereka yang sudah bebas masih komunikasi dengannya. ” Saya bersyukur mereka kembali berbaur dengan masyarakat meski masih melekat sebagai mantan narapidana. Meski begitu, mereka adalah keluarga dan teman saya,” ungkap Ridwan.
Ridwan yang memiliki empat orang anak, dan anak bungsunya kini duduk di bangku kuliah, menghabiskan waktunya sebagai penjaga tahanan dengan menggunakan shift jaga. Ada empat shift, Shift pagi, siang, sore dan malam hari. Di antara empat Shift itu dirinya paling senang mendapat Shift malam hari, dengan alasan Shift malam yang lebih nyaman.
” Ya kalau soal jam jaga, paling mantap itu dapat Shift malam, banyak waktu gobrol dengan regu, banyak waktu untuk tukar pikiran dengan rekan, Shift malam itu kita hanya mengotrol seluruh sel sel yang sudah dikunci oleh petugas yang shift sore. Shift malam kita berkeliling lima kali termasuk mengecek tembok, semua sisi tembok dicek sampai yang pos jaga yang di atas tembok. Kita memastikan semua sudah istirahat tidak ada lagi aktifitas warga binaan, baik itu mengobrol atau melamun, semua harus tidur,” kata Ridwan.
26 tahun mengabdi di lapas Klas 1 Makassar, di tahun ke 15, Ridwan mendapat penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI. Saat ini Ridwan menjabat kepala regu pengamanan dari regu II (dua).
” Alhamdulillah saya dipercaya menjadi kepala regu. Disini kami tim penjaga dibagi per regu, dalam satu regu memiliki 7 anggota, 1 kepala regu, jadi satu regu terdiri 8 orang penjaga. Tugas tambahan ketua regu yakni pantau anggota yang sementara bertugas, pantau petugas jaga di pos,” tuturnya.
Ditanya oleh penulis, apa saja yang diceritakan oleh para narapidana, Ridwan mengakui, rata-rata mereka berkeluh kesah tentang keluarganya, betapa rindunya mereka sama anak, suami, orang tua dan sanak saudara.
Selain mendengarkan isi dalam hati mereka, Ridwan juga sering memberi nasihat. ” Mereka juga manusia yang ingin mencari sosok orang untuk menjadi tempat curhat, seperti orang yang mau mendengar dan tetap memandang mereka sebagai seutuhnya manusia yang baik meski pernah melakukan sesuatu yang buruk. Apalagi, mereka memang manusia biasa yang nggak luput dari kesalahan yang harus dipertanggung jawabkan,” ujar Ridwan. (jun)

