KISAH dan perjalanan hidup Andika ibaratnya sebuah sinetron yang ada di dunia nyata. Penuh haru dan memilukan. Mulai dari ia dibuang hingga dianggap telah tiada oleh keluarganya.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
KELAINAN fisik yang dialami Andika telah ada sejak ia lahir. Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Kala itu Andika baru berusia enam tahun.
Dia yang tak pernah sekalipun keluar rumah, langsung dikabari oleh kakaknya tentang peristiwa nahas itu. Sang kakak lalu mengajak Andika untuk pergi ke suatu tempat dengan alasan untuk melihat jasad kedua orang tuanya.
Ternyata, Andika dibawa dari tanah kelahirannya di Solo, Jawa Tengah menuju Makassar menggunakan pesawat terbang. Karena masih anak-anak dan tak pernah keluar rumah, ia pun menurut saja.
Cerita pilu itupun bermula. Saat itu kakak beradik ini tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Dengan alasan hendak membeli air minum, Andika disuruh kakaknya untuk menunggu sementara di sebuah kursi sudut bandara. Sejam dua jam berlalu, kakaknya tak kunjung datang. Hingga akhirnya seorang petugas bandara menanyai dirinya.
“Kakak suruh saya menunggu di sana, karena katanya mau beli air minum. Tapi tidak datang-datang. Terus ada penyapu di bandara yang tanya, siapa ditunggu. Saya bilang, tunggu kakak. Tapi kakak tidak datang-datang. Bahkan sampai subuh saya menunggu ditemani sama dia,” kenang Andika.
Dengan kondisi fisiknya yang memiliki kelainan, petugas bandara itu yakin bahwa Andika telah diterlantarkan oleh kakaknya. Akhirnya Andika diasuh oleh petugas bandara tersebut.
Waktu pun terus berlalu. Hingga akhirnya Yang Maha Kuasa memanggil orang tua angkat Andika. Kehilangan orang yang telah mengasuh dan memeliharanya, menjadi pukulan berat baginya.
Yang lebih parah lagi, Andika diusir oleh keluarga orang tua angkatnya itu. Kembali ia harus berjuang untuk bertahan hidup dengan kondisinya yang tak sempurna itu.
Tiba pada suatu waktu, ada orang yang mengajaknya untuk mengemis. Tawaran itupun tak ditolaknya. Jadilah ia seorang peminta-minta yang berharap belas kasihan dari orang lain.
Dalam aktivitas kesehariannya mengemis, ia kembali dipertemukan dengan seseorang yang kini menjadi orang tua angkatnya. Orang yang baik hati ini bekerja sebagai satpam.
Di awal mula pertemuan mereka, Andika menceritakan kisahnya. Orang tua angkatnya itu seakan tak percaya jika ia dibuang oleh keluarganya. Bahkan kakaknya sendiri.
Mengetahui kejadian miris itu, lelaki tersebut kemudian berinisiatif mengumpulkan uang. Ia ingin suatu saat nanti Andika bisa pulang ke Solo dan bertemu dengan keluarganya di sana.
Akhirnya, harapan dan keinginan itu terkabul. Uang yang dikumpulkannya bisa membiayai Andika kembali ke kampung halamannya.
Perjalanan Andika berbuah hasil. Ia bersua dengan kakak kandungnya. Namun impian dan seperti kenyataan. Andika tak diakui oleh kakaknya. Bahkan, ketua RT di sanapun menyampaikan jika dirinya dianggap telah tiada dan meninggal.
Pil pahit mesti ditelan Andika. Akhirnya diapun kembali lagi ke Makassar. Sang orang tua angkat tetap menerimanya dengan tangan terbuka. Malah, ia akhirnya disekolahkan hingga tamat SD. Selebihnya, ia harus bekerja sendiri mencari nafkah. Mulai dari mengamen, hingga menjadi pengemudi ojek daring sampai saat ini.
Ada begitu banyak suka maupun duka yang telah dialami Andika selama melakoni pekerjaannya yang terakhir. Tak jarang, ada konsumen yang membatalkan orderannya karena takut melihatnya.
“Pernah suatu hari saya dapat orderan. Pas dia lihat saya dan motor saya, langsung dicancel. Banyak juga orang yang takut. Biasanya mereka takut jatuh kalau saya yang bonceng,” terang Andika.
Dia lalu berkaca dari pengalamannya itu. Sekarang ini, jika ada orderannya, Andika terlebih dahulu menenelpon pelanggannya tersebut. Ia menceritakan kondisi dirinya serta kendaraannya, sebelum menuju ke pelanggannya. Kalau orang tersebut tak mempermasalahkannya, maka ia pun langsung meluncur. Sebaliknya, jika pelanggannya tidak bersedia menggunakan jasanya, Andika pun dengan rela harus membatalkannya.
Temannya sesama pengemudi ojek daring di pangkalannya, mengapresiasi kerja keras Andika. Salah satunya Muhajir. Ia menyebut Andika sebagai sosok yang gigih dan sabar. Karenanya, patut dicontoh oleh driver lainnya.
“Dia itu, walaupun begitu fisiknya, tidak pernah mengeluh. Hal inilah yang pantas dicontoh oleh semua orang,” ucap Muhajir.
Rekan lainnya, Wahyuddin mengatakan hal serupa. Ia mengatakan jika Andika sangat rajin. Ia pun menyarankan kepada Andika dan rekan-rekannya yang lain untuk tetap selalu bersyukur apapun yang terjadi.
“Jarang-jarang itu ada yang kayak dia. Walaupun berapa saja biasa orderannya, tetap dia terima,” kata Wahyuddin. (*/rus/b)

