PRAMUKA Pramuka merupakan organisasi pendidikan non formal yang sangat populer sejak dulu. Gerakan ini menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang mengajarkan banyak sikap positif. Tak banyak yang eksis menggelutinya hingga puluhan tahun. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Muhammad Tamzil.
Laporan: Rahmawati Amri
SAAT ini Muh Tamzil menjabat sebagai kepala Dinas Kehutanan Sulsel. Lelaki berkacamata ini sudah terjun di dunia kepramukaan sekitar 20 tahun lebih.
Tak heran jika dalam dua dekade keterlibatannya di pramuka, ia kemudian dianugerahi Lencana Pancawara IV. Ini merupakan penghargaan yang diberikan oleh Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka untuk anggotanya yang aktif menekuni organisasi ini dalam kurun waktu 20 tahun.
Konsistensi dan dedikasinya terhadap dunia kepramukaan berawal saat Tamsil duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu, sekolah tempatnya belajar memberi pilihan kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Diapun bergabung sebagai pramuka siaga. Banyak keriangan dan hal baru yang positif ditemukan dalam berpramuka. Mantan kepala Badan Kepegawaian (BKD) Sulsel itu melakukan berbagai kegiatan menarik sesuai umur anak-anaknya.
“Saya langsung jatuh cinta pada dunia kepramukaan. Kita menemukan berbagai kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, dan praktis,” ungkapnya saat bincang-bincang santai dengan BKM, Kamis (1/2) di koridor kantor Gubernur Sulsel.
Tamzil memang tipikal orang yang menyukai tantangan. Apalagi yang berhubungan dengan alam terbuka. Dan itu bisa ditemukannya dalam pramuka.
Menurut suami dari Norma Bakir ini, pramuka mengajarkannya menjadi pribadi yang mandiri, tangkas, kreatif, berbudi pekerti luhur, setia kawan, kejujuran, dan banyak sikap positif lainnya.
“Intinya, pramuka ini untuk pembentukan karakter manusia yang positif,” ungkapnya.
Karena pramuka, dirinya lebih berempati dalam mencintai alam. Mendaki gunung, seperti Gunung Bawakaraeng sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.
Lepas menjadi pramuka siaga, secara berjenjang dia mengikuti seluruh tahapan. Menjadi pramuka penggalang, penegak, dan pandega. Hingga saat ini, dirinya tercatat sebagai salah satu pengurus Pramuka Kwartir Daerah (Kwarda) Sulsel.
Kendati organisasi pramuka sempat kurang aktif beberapa tahun silam, namun semangatnya tidak kendur untuk terus ikut dan tumbuh dalam membesarkan pramuka di daerah ini. Apalagi kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari sang istri yang juga tercatat sebagai pengurus pramuka cukup aktif di provinsi ini.
Saat ini, Tamzil tercatat sebagai Andalan Daerah di Kwarda Pramuka Sulsel sebagai anggota majelis pembimbing daerah. Dia juga mengomandoi Pramuka Saka Wanabakti, gerakan Pramuka Indonesia yang memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan khusus di bidang kehutanan dan lingkungan hidup. Juga menanamkan rasa cinta dan tanggung jawab dalam mengelola sumberdaya alam. Ruang lingkup materinya meliputi pengelolaan hutan, pemeliharaan hutan dan sumber daya alam, penyelamatan hutan dan lingkungan hidup, dan pemanfaatan hasil hutan bagi masyarakat. Tentunya tanpa meninggalkan materi-materi kepramukaan lainnya.
Sebagai komando Saka Wana Bakti, berbagai kegiatan dilaksanakan. Salah satunya adalah pencanangan dan penanaman13.480 rumpun bambu di ParangloE, Kabupaten Gowa, Desember silam.
Tamzil menjelaskan, gerakan ini merupakan tindak lanjut dari imbauan Presiden Republik Indonesia Jokowi dalam rangka menyukseskan Gerakan Tanam dan Pelihara 25 Pohon Selama Hidup.
“Ini masuk dalam kegiatan gerakan 1000 kebaikan tahun ini dengan menanam 13.480 rumpun bambu di bantaran Sungai Jeneberang dan daerah bekas longsoran Gunung Bawakaraeng,” kata Tamzil. (*/rus)

