pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Belajar Kepemimpinan dari Sang Ayah

HERNITA merupakan anak tertua, sehingga wajarlah jika tanggung jawab besar ada di pundaknya. Salah satunya, dengan mempercayakan ibu cantik berhijab ini menggantikan ayahnya, Dr H Sahban Liba sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Lasharan Jaya Makassar.

Laporan: Rahmawati Amri

UNTUK mencapai posisi yang dijabatannya saat ini, Hernita butuh proses. Bukan karena semata dirinya anak Sahban Liba, jabatan ketua diperoleh dengan mudah.
Dia mengawali karirnya tahun 2000 di STIM Lasharan Jaya Makassar sebagai staf biasa, yakni di bagian umum. Wanita yang bermain dalam 51 episode Wiro Sableng itu awalnya hanya diikutkan dalam penataan komputerisasi administrasi kampus.
‘’Awal masuk kampus butuh waktu penyesuaian diri, dari dunia sinetron dengan kehidupan santai dan aktifitas lebih banyak malam hari. Harus beralih ke dunia yang teratur karena mengurus kampus yang mencetak sumber daya manusia,” kata magister manajemen STIMA IMI Jakarta ini.
Selanjutnya, di tahun 2004 ia dipercaya menjadi ketua II Bidang Keuangan. Hingga akhirnya kini menjadi ketua.
Saat diberi amanah sebagai ketua, ayahnya berpesan agar mengikuti peraturan pemerintah serta menciptakan suasana perusahaan yang baik dan maju.
“Bapak berharap saya lebih kreatif. Yang paling pokok adalah menerapkan manajemen disiplin,” jelasnya.
Dia melanjutkan, sang ayah juga berpesan agar dirinya tidak mengubah pola lama dan lebih mencari banyak relasi.
“Saya juga dipesan agar generasi ke depannya lebih berjaya lagi, sesuai dengan nama kampus kami STIM Lasharan Jaya. Juga membawa kampus ini lebih jaya ke depannya, dengan perombakan-perombakan kebijakan dan tidak mengubah pola lama. Serta selalu mencapai kerja sama dengan luar negeri,” terangnya.
Dr Hernita menjadi orang ke delapan yang memimpin perguruan tinggi yang berkampus di Jalan Abdullah Daeng Sirua, Makassar tersebut. Hernita yang meraih gelar doktor di Universitas Negeri Makassar dengan IPK 3,94 dan predikat cumlaude itu menegaskan, akan mengembangkan perguruan tinggi yang dipimpinnya agar lebih maju dan bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.
Menekuni dunia intektual kampus, ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Menantang untuk selalu belajar dan bersentuhan dengan kalangan intektual dan cendekiawan.
Banyak pelajaran berharga yang dipetik dari ayahandanya diterapkan dalam kepemimpinannya di kampus. Yakni disiplin, kerja keras, bisa memberikan pelayanan kepada mahasiswa dengan lebih baik serta contoh-contoh teladan kepada yang dipimpinnya. (*/rus)



×


Belajar Kepemimpinan dari Sang Ayah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar