pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Susah Disedot Kalau Ada Pembalut dan Plastik

SUDAH tujuh tahun lamanya, Bohari (51) bergelut dengan profesi penyedot tinja manusia di Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Air Limbah di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar Pemerintah Kota Makassar.

Laporan: ARIF AL QADRY

Meski sudah terbiasa, sesekali Bohari harus menahan rasa jijik bila harus menghadapi hal menjengkelkan.
Dalam sehari, Bohari bersama rekan-rekannya menerima permintaan penyedot tinja.
Urusan bau, Bohari sepertinya sudah terbiasa. Namun dia menjelaskan bau tinja di tangki sudah tidak terlalu menyengat.
Sejak pukul 07:00, pria yang lahir di Bulukumba, 1 Oktober 1967 sudah harus berada di kantor UPTD PAL berlokasi di Jalan Kerungkerung, Kecamatan Makassar. Di kantornya ia mempersiapkan peralatan serta kendaraan yang akan digunakan bekerja. Mengecek kesiapan peralatan dan kendaraan rutin dilakukan sebelum turun melayani masyarakat.
Ketika semua sudah siap, Bohari bersama satu rekannya lalu mengambil daftar orederan konsumen dan bergegas menuju ke lokasi penyedotan tinja. Rasa jijik tidak dirasa lagi. Bahkan sering sisa kotoran manusia muncrat di baju yang digunakannya.
“Sudah biasami kerja sedot tinja, tidak adami lagi rasa jijik. Saya bekerja sama satu teman ku, saya sebagai sopir, dan satu sebagai kenek. Tapi di lapangan sama ji, kita turun sama-sama sedot tinja,” sebut Bohari di depan penulis.
Dalam sehari, pelayanan Bohari menyedot tinja tidak menentu, kadang satu atau tiga orederan. Tergantung berapa banyak masyarakat yang datang mendaftar di kantor UPTD PAL. Jika orderan sedang ramai-ramainya, dalam sehari Bohari mampu melayani dua sampai tiga orederan, tergantung tingkat kesulitannya.
“Yang menjengkelkan kalau ada pembalut atau sampah plastik bungkusan sampoo dalam septik tank. Itu yang bikin lama karena harus lebih dulu di angkat dan lalu sedot tinja yang full. Kalau tidak ada sampah, biasanya kita cuma butuh waktu 15 menit paling cepat dan kalau ada sampah bisa berjam-jam,” akunya.
Menjadi tantangan di lapangan ketika menyedot tinja, pemilik rumah enggan mengawasi tukang sedot. Padahal itu penting dilakukan agar pemilik dapat tahu dan puas dengan kerja-kerja petugas.
Apalagi seringkali terjadi ketika tukang sedot mulai bekerja, pemilik rumah meninggalkan tukang. Alasannya, tiada lain jijik menghirup bau-bau tinja ditambah lagi jika melihat selang bergoyang-goyang saat proses penyedotan. Hal inilah yang membuat tukang sedot sulit komunikasi dengan si pemilik rumah.
“Biasanya kalau kita sudah selesai sedot tinja, kami lapor ke pemiliknya. Tapi pemilik rumah tidak percaya kalau sudah selesai karena terlalu cepat. Sementara kami sudah bersihkan septik tank. Giliran kami minta pemilik rumah untuk cek apakah sudah bersih atau belum, pemilik lagi dan lagi tidak mau mengecek karena jijik. Disinilah hal yang melatih kita sabar dan tetap memberikan pelayanan baik ke masyarakat,” terangnya.
Setelah melayani satu rumah, Bohari bersama rekannya berangkat ke Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) Nipanipa, Antang. Hanya butuh waktu 10 menit untuk kemudian melanjutkan melayani pelanggan yang ingin septik tanknya disedot.
Penyedotan septik tank tambah Bohari idealnya adalah dua tahun. Dan penyedotan septik tank perlu diketahui yaitu harus menyisahkan seperempat volume lumpur. Tujuannya untuk menghidupkan bakteri yang berfungsi memakan tinja manusia yang masuk dalam septik tank.
Adapun tarif jasa sedot tinja sebesar Rp250.000. Masyarakat yang ingin septik tanknya disedot harus mendaftar langsung ke kantor UPTD PAL. Pendaftar yang order pukul 08:00 sampai 11:00 dilayani pada hari itu juga. Sedangkan pendaftar di atas pukul 12:00 besoknya baru akan dilayani.
“Masyarakat umum belum banyak tahu kalau septik tank harus disisakan seperempat lumpur tinja. Agar bakteri dalam septik tank tetap ada untuk memakan tinja yang masuk. Berguna sekali bakteri dalam septik tank karena bisa menetralisir air,” tambahnya. (arf)



×


Susah Disedot Kalau Ada Pembalut dan Plastik

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar