Di TENGAH serbuan makanan pabrikan dan dan healthy food, ternyata tidak mampu mematikan jajanan tradisional yang diolah sendiri pakai tangan. Jajanan tradisional masih banyak yang mencari. Bahkan Surianti pedagang kue justru rela berjalan kaki hingga puluhan kilo untuk memenuhi permintaan kue dari sejumlah orang.
Laporan: ARIF AL QADRY
Bahkan usaha dan ketekunan dari Suriyanti menjajakan kue tradisional khas Bugis Makassar dengan keliling kantor ke kantor, dan pasar ke pasar mendapat hasil yang manis. Tiga tahun menekuni bisnis jualan kue keliling, Anti yang begitu akrab disapa berhasil memiliki banyak langganan hingga mengantongi omzet lumayan banyak.
Ada beberapa jenis kue yang dijual perempuan kelahiran Sidrap, 10 Oktober 1981, ada kue kering dan kue basah, seperti cucuru tekne, omba omba, biji nangka, bolu peca, putu tongka, dan cangkuning. Dari hasil bisnis usaha kue kelilingnya, ibu tiga anak mampu membeli rumah sendiri.
Kesuksesan istri Ridwan mampu memiliki rumah sendiri, dan memiliki tabungan membeli rumah toko tidak lepas dari perjalanan pahitnya diwaktu-waktu dulu. Di mana berjualan kue keliling harus bisa berjalan kaki berkilo-kilo meter serta jadi incaran dan dikejar oleh Satpol PP Kota Makassar.
“Alhamdulilah sekarang sudah dimengerti dan diizinkan jualan kue di Balai Kota Makassar. Tapi tetap saya juga harus jaga kebersihan karena saya mencari rezeki halal dengan jualan kue tradisional di kantornya,” katanya kepada penulis.
Awal tahun 2015 lalu, Anti memulai berjualan kue keliling di dalam kantor Balai Kota Makassar, Jalan Ahmad Yani. Teriakan, teguran, sampai penahanan barang dari Satpol PP Makassar yang berjaga di pintu masuk gedung setiap hari didapatkan. Namun hal itu tidak membuatnya jerah. Berbagai cara dilalukan untuk dapat tetap masuk jualan kue di kantor plat merah itu.
Jika awalnya ia masuk menjajakan kue menggunakan tas keranjang, dan ditangkap. Hari selanjutnya ia kemudian masuk dengan menyimpan kue-kuenya dalam tas ransel.
Setelah menembus barisan penjagaan perseonel Satpol PP Makassar dan mengisi daftar isi tamu, Anti menyusuri kantor-kantor SKPD. Kue yang disimpan di dalam tasnya dikeluarkan dan memberikan ke pegawai-pegawai secara gratis. Hal itu sebagai starteginya mendapat pelanggan dan meyakinkan kepada calon pembelinya jika kue yang dijual punya rasa yang enak dan tidak kalah saingnya.
Walhasil, pegawai-pegawai yang mayoritas perempuan senang dengan kue buatan Anti. Bahkan para pegawai meminta nomor teleponnya untuk mengantarkan kue pesanan pegawai. Dari situlah Anti sampai sekarang berhasil bertahan menjual kue di kantor Balai Kota Makassar.
“Cukup lama saya juala kue diam-diam masuk di kantor Balai Kota Makassar. Pernah juga saya buka hijab biar tidak ditanda, tapi tidak lamaji saya kembali pakai hijab setelah mendapat kepercayaan. Banyak pegawai yang suka dan pesan sama saya. Dan kalau saya mau antar masuk ke kantornya dan ditahan Satpol PP, saya tinggal telepon mi saja supaya diizinkan masuk,” terangnya.
Setiap Senin sampai Jumat, kata wanita berhijab ini, berjualan di kantor Balai Kota Makassar dan kantor gabungan dinas-dinas. Pagi di kantor gabungan dinas, siang baru di balai kota. Jadi hari minggu saya ke Anjungan Pantai Losari Makassar jualan kue dan telur asin lagi.
Jika dulunya sebelum berjualan kue di halaman kantor Balai Kota Makassar, ia dan keluarganya masih kontrak rumah, sekarang ini sudah memiliki rumah sendiri dan menabung untuk membuka usaha toko kue secara tetap.
“Lumayan pendapatannya. Dulu saya masih kontrak sekarang sudah adami rumahku. Bersyukurka bisa dikasih kesempatan cari rezeki jualan kue,” tambahnya.
Suka duka berbisnis pun ia rasakan, mulai dari membuat sendiri semua kue, mengantarnya sendiri, hingga akhirnyamembawa pulang yang tidak laku. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri.(*)

