SIDRAP, BKM–Calon gubernur nomor urut empat Ichsan Yasin Limpo (IYL) bernostalgia di kampung halaman Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Sulsel Rusdi Masse (RMS) yakni Kabupaten Sidrap. Kedatangan IYL didampingi tim pemenangan serta pengurus dari Partai Demokrat, PPP, Perindo, Partai Berkarya serta kader PAN Sulsel.
Di Sidrap, IYL bertemu dengan masyarakat peternak ayak petelur dan pedaging di Desa Bulo, Kecamatan Pancarijang.
Mantan Bupati Gowa dua periode ini juga banyak membahas soal ayam lantaran juga pernah bembangun usaha peternakan sebelum terpilih sebagai anggota DPRD Sulsel. “Saya mau tanya, kenapa bukan di kandang ayam ta bikin ini kegiatan ? Pasti kita takutkan karena banyak nanti rombongan. Siapa tau ada yang injak tai anjing. Lantas ke kandang ta itu bawa penyakit,” kata IYL yang membuat peternak terpukau mengenai pemahaman IYL tentang ayam petelur.
Berdasarkan pengamatannya di Sidrap, masih banyak kandang ayam petelur yang dibangun di pinggir jalan. Hal ini bisa memicu ayam petelur akan sangat mudah stres karena bisingnya suara kendaraan bermotor.
“Cuma saya lihat di sini, ayam petelur kandangnya di pinggir jalan. Sebab tingkat stresnya juga ayam petelur bukan karena orang tapi karena kendaraan lalu lintas. Itu yang barangkali perlu diperhatikan,” jelas Ketua PMI Sulsel ini.
IYL berkomitmen, apabila dirinya terpilih kelak, persoalan-persoalan para peternak ayam petelur seperti penyakit sampai pengembangan produktifitasnya akan ia berikan solusi.
Sementara itu, calon wakil gubernur nomor urut dua Ahmad Tanribali Lamo (TBL) melakukan sosialisasi dikampung IYL tepatnya di Lingkungan Lembanna, Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Kamis (12/4).
TBL berdiskusi dengan warga setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani, tentang sistem dan pola pertanian hingga masalah tata niaga hasil produksi pertanian yang digunakan warga setempat.
Tokoh masyarakat setempat, Hamzah menyampaikan sejumlah hal yang selama ini masih menjadi kendala para petani. Mulai dari tingginya bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang besarannya 7%, hingga kesulitan saat memasarkan hasil panen. “Kendala kita disini itu soal pemasaran dan harga jual. Kalau panen kita bersamaan dengan daerah penghasil wortel, kentang, kol, tomat dan sawi lainnya, harga pasti jatuh. Apalagi masyarakat disini hanya menjual hasil pertanian ke tengkulak atau pengepul,” kata Hamzah.
Menurut Hamzah, sampai saat ini masyarakat di wilayahnya belum memiliki alternatif lain, selain menjual langsung hasil panen ke tengkulak, meski harganya terkadang sangat rendah. Mendengar keluhan itu, Tanribali memberikan pandangan dan pemahaman tentang pola ‘Tanam, Petik, Olah, Jual’ yang jika benar-benar dijalankan dengan baik, maka hasilnya akan membuat para petani sejahtera. “Waktu saya masih menjadi pelatih tentara, saya pernah dan cukup lama tinggal di Lembang, Jawa Barat, yang juga merupakan daerah pertanian. Petani disana sudah bisa mengendalikan harga dan tempat pemasaran. Mereka juga punya alternatif selain menjual langsung hasil panennya, jika harga sedang rendah. Itu yang membuat petani disana bisa sejahtera,” kata TBL.
Kata dia, agar para petani bisa lebih sejahtera, petani harus paham tentang tata niaga, dan menerapkan pola ‘Tanam, Petik, Olah, Jual’ dengan baik. “Makanya petani juga harus mau belajar mengatur dan mengolah hasil pertaniannya, supaya harga jualnya lebih tinggi. Kalau mulai dari memetik, mengolah dan menjual hasil panen itu dilakulan sendiri oleh petani, pasti untungnya akan lebih banyak. Akhirnya, petani bisa sejahtera,”jelas pasangan Agus Arifin Nu’mang ini. (rhm-ady/rif)

