MANUSIA hendaklah selalu mengucap syukur, bagaimanapun situasinya. Mari mengambil hikmah dari Daeng Ngempo, salah satu tukang becak yang sering mangkal di Jalan Dg Tata, Makassar.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
LELAKI tua itu tampak duduk di kursi becaknya kala ditemui. Ia menunggu penumpang seperti biasa. Padahal matahari cukup terik. Puasa pula. Namun dirinya tetap tak mau beranjak sampai rezeki menghampirinya.
Ia bukannya tak memilih pekerjaan lain. Dalam hatinya dia sangat ingin memperbaiki hidupnya. Namun apa daya, sakit yang diderita tak mampu lagi memberikannya pekerjaan yang lebih layak.
Matanya memiliki gangguan sejak beberapa tahun lalu. Dirinya tak memiliki biaya untuk berobat. Tulangnya pun sering terasa sakit. Saat mengayuh becaknya, kerap kali ia tahan rasa sakit itu demi nafkah keluarga.
Di balik gempuran transportasi daring, Dg Ngempo masih setia mencari nafkah dengan menarik becaknya. Tiap hari, bahkan saat ia berpuasa seperti saat ini. Ia berharap rezeki itu bisa semakin lancar saat ramadan tiba.
Dg Ngempo tinggal di Jalan Dg Tata 1, Makassar bersama istri dan tiga orang anaknya. Ia memiliki enam anak, namun tiga orang lainnya telah memiliki pekerjaan.
“Anakku yang tiga itu di Takalarki. Yang pertama jadi tukang batu. Yang kedua pabentor. Yang ketiga buat batu merah di Galesong. Sekarang tigamami anakku yang samaka tinggal,” tuturnya.
Rumahnya kecil. Hanya berukuran 4×5 meter. Ia bangun sendiri bersama istrinya Dg Tallasa dari sisa-sisa bangunan rumah tetangganya. Berdinding triplek dan kayu, serta beratap seng. Namun, kondisi itu tetap ia syukuri.
Tanah yang ditempatinya pun bukan miliknya. Melainkan punya keluarganya di Jeneponto. Dg Ngempo diizinkan tinggal di atas tanah tersebut untuk sekaligus menjaganya. Ya, Dg Ngempo adalah orang asli Jeneponto.
Usianya kini telah menginjak 86 tahun. Namun ia harus terus mencari nafkah karena istrinya tak memiliki pekerjaan. Apalagi makanan untuk ketiga anaknya yang masih tinggal bersama dirinya juga harus ia perhatikan.
Saat bulan ramadan seperti sekarang, ia memang selalu mengajarkan berpuasa kepada anak-anaknya. Makanan yang disediakan saat sahur dan berbuka pun cukup sederhana. Paling sering ia dan keluarganya hanya makan nasi dan sayur kangkung. Bila ada tetangga yang memberikan makanan, barulah ia menikmati lauk yang sedikit nikmat dari biasanya.
“Iye, biasa ada orang atau tetangga yang kasih lauk. Biasa makan ikan. Biasa sayur, nasi, sama air putih saja. Sahur sama buka biasa begitu dimakan,” ucap Dg Ngempo yang telah menjadi supir becak selama 20 tahun.
Penghasilannya yang sehari hanya Rp5.000 hingga Rp10 ribu membuat dirinya harus hidup dalam kesederhanaan. Ia tak bisa menikmati barang mewah. Apalagi saat lebaran tiba. Syukur-syukur jika bisa membeli baju baru.
Ia hanya berharap uluran tangan dari para dermawan. Termasuk pemerintah. Ia mengaku bahwa selama ini tak pernah sekalipun pemerintah membantu dirinya. Bahkan ketika keluarganya mengalami musibah.
“Pernah sakit istriku, tidak dibantuka sama pemerintah. Untung itu hari ada yang tolongka. Saya biar apapun bantuan kasihan pasti kuterima karena memang butuhka. Apalagi bulan puasa begini,” katanya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. (*/rus/b)

