SINJAI, BKM — Empat tersangka perampok nasabah bank kini mendekam dalam sel tahanan Polres Sinjai. Malik, Santoso dan Akbar yang ditembak pada kakinya berada dalam satu kamar. Sementara Adinda alias Dinda di ruang terpisah.
BKM mewawancarai Adinda di Aula Parama Satwika Mapolres, Rabu (8/8). Ia menjelaskan keterlibatannya dalam kasus perampokan nasabah bank. Termasuk peran ketiga rekannya.
Wanita berusia 18 tahun ini merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Di Makassar, ia tinggal bersama kedua orang tuanya, Malik dan istrinya NN, serta saudaranya di Jalan Veteran.
Sehari-harinya, Dinda berprofesi sebagai sopir ojek daring. Sementara Santoso alias Ato sopir taksi daring.
”Awalnya saya ikut hanya untuk pergi ziarah makam kakekku (orang tua dari Malik) di Sinjai. Karena rencananya saya dan Santoso akan menikah setelah lebaran (Idul Adha) ini,” ujar Dinda yang mengenakan baju tahanan warna oranye bernomor 08.
Kisah asmara Ato dan Dinda sudah terjalin selama empat tahun. Ketika itu Dinda masih berusia 14 tahun. ”Waktu itu pacarannya begituji. Nanti seriusnya setelah tamatkan SMK kecantikan. Kemudian pindah ke SMA di Gowa,” jelasnya.
Akhirnya, rencana untuk menuju jenjang pelaminan harus gagal. Sebab, Dinda dan Ato harus menghuni sel guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka terancam hukuman 5 tahun penjara.
Keikutsertaan Dinda dalam aksi komplotan ini, diakui baru pada bulan ini. Awalnya, mereka berencana beraksi di Bulukumba. Namun gagal dilaksanakan, karena calon korban yang diincar lebih dulu sampai di rumahnya.
”Kemudian kami lanjut ke Sinjai. Kami menginap di rumah saudaranya kakek pada hari Senin (6/8),” terang Dinda lagi.
Rencana aksi disusun komplotan ini pada hari Selasa pagi (7/8). Skenarionya diatur oleh Akbar. Karena dia yang mengetahui situasi Sinjai dan tempat nasabah menyimpan uangnya usai mengambil di bank.
Saat di Bank BRI, Dinda dan Santoso yang mengendarai motor Toyota Avanza warna putih kebagian tugas mengamati nasabah. Sementara Akbar dan Malik yang menggunakan sepeda motor, juga berada di sekitar bank dan memantau nasabah yang keluar membawa bungkusan uang.
”Waktu melihat ada nasabah yang bawa bungkusan warna coklat, saya langsung hubungi bapakku. Kemudian nasabah itu diikuti di mana berhentinya,” bebernya.
Tepat di kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Sinjai, Ato memarkir mobil sekitar 20 meter dari lokasi motor korban. Malik yang membonceng Akbar langsung berhenti pas di depan kantor PKH.
Akbar kemudian masuk untuk mengambil uang dari bawah sadel motor korban, yang telah diikuti sedari tadi. Setelah berhasil menggasak uang Rp60 juta, kawanan ini sempat berkeliling-keliling Kota Sinjai. Setelah itu kembali ke rumah nenek Indah untuk membagi hasil rampokan.
Di balik jeruji besi, tanpa mengenakan baju tersangka Akbar terlihat dengan tubuhnya yang dipenuhi rajah. Sementara Santoso dan Malik memiliki tato masing-masing di lengan kirinya.
Kasat Reskrim Polres Sinjai AKP Ramli, mengatakan penangkapan komplotan ini berdasarkan dua laporan kasus serupa yang diterima polisi.
”Kami menyelidiki kasus ini sejak seminggu lalu. Setelah informasi didapat bahwa komplotan ini akan beraksi kembali di Sinjai, kami langsung mengawasi. Semua data kami sudah pegang. Termasuk wajah mereka. Aksi terakhir mereka kami ketahui setelah ada laporan,” jelas AKP Ramli. (din/rus/b)
Rencana Nikah Usai Idul Adha Gagal
×

