pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Soni Vs NA, Tiga Kali Berseberangan

MAKASSAR, BKM — Dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat Sulsel disuguhi fenomena birokrasi yang cukup menarik. Antara Penjabat Gubernur Sumarsono dan gubernur Sulsel terpilih Nurdin Abdullah kerap berada pada posisi saling berseberangan.
Harapan serta keinginan NA sering dimentahkan oleh Soni, sapaan akrab Sumarsono. Setidaknya ada tiga harapan pasangan wakil gubernur Sulsel terpilih Andi Sudirman Sulaiman itu yang tak diakomodir oleh Soni.
Tiga harapan mantan Bupati Bantaeng dua periode itu, yakni agar Soni tidak melakukan mutasi pejabat atau lelang jabatan. Hal tersebut dikhawatirkan, pejabat yang diangkat tidak mampu menjabarkan apa yang menjadi visi dan misi pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih nantinya.
Harapan kedua, agar tim transisi yang dibentuk pasangan usungan koalisi PDIP, PAN dan PKS dapat memberikan masukan dalam usulan program pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Perubahan 2018.
Namun, inipun tak diakomodir. Tim yang melibatkan adik ipar Nurdin Abdullah, yakni Taufiq Fachruddin hanya diminta memasukkan saran.
Harapan ketiga gubernur terpilih, yakni kegiatan tahunan Lovely December untuk tahun 2018 ini untuk sementara ditiadakan. Nurdin Abdullah yang telah berkomunikasi dengan pemerintah setempat bersama sejumlah tokoh adat, tokoh agama di dua daerah bertetangga yakni Tana Toraja dan Toraja Utara, menginginkan agar anggaran even pariwisata itu dialihkan untuk meningkatan infrastruktur. Terutama jalan.
Bahkan tokoh adat dan tokoh agama serta sejumlah anggota dewan mendukung agar kegitanan Lovely December untuk sementara ditiadakan. Namun, Soni tetap bersikukuh tetap melanjutkan even tersebut.
Ketiga harapan Nurdin Abdullah semua diabaikan oleh Soni, yang tak lain adalah Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri. Soni tetap melakukan mutasi dan melantik puluhan pejabat pada lingkup Pemprov Sulsel. NA selaku pengganti Syahrul Yasin Limpo tidak berhasil memasukkan tim transisi pada pembahasan RAPBD Perubahan 2018.
Wakil Ketua DPRD Sulsel Ashabul Kahfi, menilai apa yang disampaikan gubernur Sulsel terpilih soal pentingnya peningkatan infrastruktur di wilayah Toraja, patut mendapat dukungan.
“Menurut saya, jika menyangkut peningkatan infrastruktur di kedua daerah bertetangga itu, maka perlu kita support. Apalagi Lovely December hanya ditunda untuk sementara,” ujar Ashabul Kahfi di ruang kerjanya, Selasa (14/8).
Soal mutasi pejabat, Kahfi mengakui hanya pada soal kearifan seorang pejabat. Apalagi Nurdin Abdullah tak lama lagi akan dilantik. “Mutasi itu ada mekanisnenya. Bahwa kemudian penjabat gubernur telah melakukan mutasi, juga butuh komunikasi. Selayaknya penjabat gubernur mempertimbangkan hal itu,” ujar ketua DPW PAN Sulsel ini.
Wakil Ketua DPRD Sulsel Yusran Sofyan, menilai perbedaan pandangan antara Penjabat Gubernur Sumasono dengan gubernur terpilih Nurdin Abdullah merupakan hal yang biasa. “Biasalah. Cara pandang orang kan bisa berbeda-beda,” kata Yusran Sofyan, kemarin.
Legislator Partai Gerindra Sulsel ini mengingatkan bahwa tak ada yang perlu dirisaukan. Apalagi nanti semuanya akan dibicarakan di parlemen. “Lagian nantinya di dalam kebijakannya juga dibahas bersama di DPRD Sulsel,” imbuhnya.
Hal berbeda dilontarkan Wakil Ketua DPRD Sulsel dari Partai Demokrat Ni’matullah Erbe. Menurut Ulla, panggilan akrab Ni’matullah, dirinya melihat ada yang lain dengan kesan berseberangan antara apa yang diharapkan Nurdin Abdullah dengan Soni Sumasono. “Iya lucu saja bagi saya,” pungkas Ulla.
Anggota tim transisi Jayadi Nas menegaskan, seharusnya Soni menghargai Nurdin Abdullah sebagai gubernur terpilih. Mutasi dan lelang jabatan bukanlah solusi. Apalagi ketika lelang jabatan tidak sesuai dengan keinginan dari gubernur dan wakil gubernur Sulsel terpilih.
Etikanya, kata Jayadi, masalah lelang jabatan atau mutasi harus diserahkan ke Nurdin Abdullah. Apalagi, yang akan menjabat selama lima tahun ke depan adalah NA, bukan Sumarsono.
Sebaliknya, saat Nurdin Abdullah sebagai gubernur terpilih merencanakan untuk menyetop sementara agenda Lovely December, Soni pun bereaksi.
Kendati secara eksplisit Soni mengatakan menyerahkan persoalan itu sepenuhnya kepada gubernur baru, namun sejumlah catatan khusus ditorehkan Soni jika agenda tersebut dihentikan.
Menurutnya, event Lovely December sudah dirancang menjadi event nasional sehingga sudah masuk dalam kalender pariwisata dalam skala nasional. “Sebenarnya, ini sudah dilaunching dan masuk dalam kalender nasional, ” ungkapnya.
Lebih jauh dikemukakan, jika ingin menyetop kegiatan ini, sebaiknya dilaporkan atau dikoordinasikan ke pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata.
“Supaya pemerintah pusat tidak tersinggung. Karena baru saja bulan lalu, dilaunching tiga kegiatan di Sulsel yang masuk dalam kalender internasional. Di antaranya Lovely December, Phinisi, dan F8,” jelas Soni.
Sebenarnya, kata Soni, diharapkan jika event tersebut tetap berlangsung supaya komitmen dengan pemerintah pusat bisa berjalan. Namun, seperti diketahui, event tersebut baru akan berlangsung Desember mendatang, di mana Nurdin Abdullah sudah melaksanakan tugas sebagai gubernur terpilih sehingga keputusan dan kewenangan sepenuhnya ada pada beliau.
“Jadi situasinya juga sulit. Enak nggak enak. Serba susah. Kami sebenarnya sudah kirim tim ke Kementerian Pariwisata untuk komitmen dalam agenda ini,” ungkap Soni.
Dia mengingatkan, biasanya sekali agenda nasional itu dicancel atau dibatalkan, selamanya akan dibatalkan. Tidak akan masuk agenda lagi.
“Tapi karena Pak Nurdin sudah memberi arahan dan berbicara dengan tokoh masyarakat di sana, kita hormati. Cuma nanti, pada saatnya kita butuh penjelasan secara tertulis alasannya apa sehingga dibatalkan,” pungkas Soni. (rif-rhm)



×


Soni Vs NA, Tiga Kali Berseberangan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar