GOWA, BKM — Sekitar 56 tukang yang terdiri dari tukang besi, batu dan kayu mengikuti Pembekalan dan Fasilitasi Uji Sertifikasi Peningkatan Pelaksana Infrastruktur Berbasis Masyarakat – Kota Tanpa Kumuh (KotaKu) di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulsel. Kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Mawang, Kecamatan Somba Opu ini, Senin (3/9/2018) diselenggarakan Koordinator Kota (Korkot) KotaKu Wilayah VI meliputi Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba dan Selayar bekerjasama Balai Jasa Konstruksi Wilayah VI Makassar Dirjen Bina Konstruksi dan Dirjen Cipta Karya Kementerian Umum dan Perumahan Rakyat.
Assisten KotaKu Bidang Kolaborasi Korkot KotaKu Wilayah IV Agus Wahab mengatakan, pembinaan ini sebagai bentuk peningkatan kapasitas tukang yang masuk dalam pembangunan program KotaKu di Gowa. Total peserta yang terlibat adalah perwakilan dari 14 kelurahan yang ada di Kecamatan Somba Opu.
“Masing-masing kelurahan kami pilih empat orang dengan syarat yang ketat yaitu memiliki pengalaman menjadi tukang mulai tiga hingga lima tahun, mereka juga ini yang kami pilih sebagai tukang pada pembangunan KotaKu di Gowa,” katanya di sela-sela pembekalan tersebut.
Pembekalan dan uji sertifikasi bagi para tukang ini kata Agus akan berlangsung dua hari ke depan dengan fokus materi uji sertifikasi tenaga kerja bangunan.
“Di sini kami akan berikan mereka tambahan pengetahuan terkait ilmu konstruksi. Dari total peserta yang ikut mayoritas peserta adalah tukang batu karena dalam pembangunan KotaKu ini akan banyak dibangun bangunan fisik seperti jembatan, drainase dan paving blok,” jelasnya.
Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Gowa, Herlina Machmud, mengatakan pembekalan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas para tukang dengan memberikan mereka sertifikat resmi sebagai tanda bahwa mereka telah memiliki pengalaman yang teruji sebagai seorang tukang.
“Ke depan jika mereka telah merampungkan target pembangunan KotaKu di Gowa, sertifikat yang mereka pegang bisa digunakan untuk mengerjakan proyek-proyek yang lebih besar berkualifikasi karena sudah punya sertifikat uji kompetensi,” kata Herlina.
Lanjutnya, hal ini juga sejalan dengan kebijakan Kementrian PUPR agar tukang-tukang yang dilibatkan pada program-program pembangunan konstruksi harus yang betul-betul memiliki pengetahuan dan pemahaman yang terampil.
“Dengan memiliki sertifikat sebagai tukang maka kerja-kerjanya tidak diragukan lagi. Mereka bisa kerja di berbagai proyek mana pun baik pihak swasta maupun pemerintahan,” tambahnya.
Sementara itu, Kabid Kawasan Permukiman Dinas Perumahan, Pemukiman dan Pertahanan Gowa,
Kamaruddin menambahkan, dalam pengerjaan KotaKu memang diharapkan tukang yang dipekerjakan adalah mereka yang memiliki kapabilitas sehingga hasilnya betul-betul bagus.
“Proyek ini tidak bisa dikerjakan asal saja karena akan dinikmati seluruh masyarakat dengan jangka waktu yang lama. Makanya tukangnya juga harus dibekali dengan maksimal, salah satunya mereka harus memiliki sertifikat resmi sebagai tukang,” kata Kamaruddin.
Salah satu peserta Arifin yang merupakan warga Kelurahan Tompo Balang mengapresiasi adanya uji sertifikasi bagi tukang ini. Ia mengaku, bekerja sebagai tukang sejak tahun 1995.
“Dengan sertifikat ini saya sebagai tukang jelas punya nilai artinya keahlian saya pastilah tidak diragukan orang jika saya mengerjakan bangunannya. Ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi. Dan bagusnya karena sertifikasi ini berlaku bukan hanya di Gowa saja tapi juga di mana saja di Indonesia,” kata Arifin, salah seroang tukang peserta pembekalan.
Terpisah, Korkot Kotaku Wilayah VI (Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba dan Selayar), Nurliah Ruma kepada Beritakota Makassar mengatakan, pelatihan ini merupakan pertama dilakukan di Gowa dan ini diprakarsai oleh Kotaku.
“Kita ingin lahirkan tukang-tukang handal berkualitas dan tentu memilimi kapasitas teruji. Dengan cara ini kita pastikan para tukang kita di Gowa akan meningkat kesejahteraannya karena hasil kerja mereka akan mewujudkan bangunan-bangunan berkualitas. Dan pastilah indikasi-indikasi kesalahan bestek pada sebuah bangunan akan hilang karena dikerjakan tukang-tukang profesional. Apalagi para tukang profesional inilah yang akan kami jadikan partner untuk menata wilayah kumuh menjadi wilayah yang tertata,” jelas Nurliah Ruma. (saribulan)

