pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tekankan Kesabaran ke Anggota Lapangan

MASUK ke dalam kobaran api hingga dilempari batu oleh warga, hanya sebagian kisah – kisah Hasbullah yang dapat diceritakan selama bertugas di Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Makassar. Dan kisah itu sampai sekarang masih berkesan dalam benaknya.

Laporan: ARIF AL QADRY

Sudah 25 tahun, pria kelahiran Takalar, 2 Desember 1966 bergabung di Damkar Kota Makassar. Tepatnya dimulai pada November 1993. Awal bergabungnya dia ditugaskan sebagai anggota operasional. Setiap hari ikut di mobil-mobil ketika terjadi kebakaran untuk memadamkan api. Tugasnya itu bertahan sampai tahun 2007. Di perjalanan karirnya di 2007-2009, dia kemudian menjadi Komandan Peleton dan menjadi Komandan Kompi A Damkar Kota Makassar tahun 2018.
Dalam penuturan bapak dua orang anak dari istrinya bernama Halawiyah, satu peleton terdiri sebanyak 72 anggota. Satu peleton ada disebar di enam posko jaga seperti di posko timur di Jalan Pengayoman, Carester Manggala di Jalan Antang, Carester BTP di Jalan BTP, Posko Kima di Jalan Kima 8 kawasan industri, Carester Ujung Tanah di Jalan Satando dan di posko Malengkeri di dalam Terminal Mallengkeri. Sementara satu peletonnya disiagakan di Markas Komando (Mako) Damkar Kota Makassar.
“Satu bulan kemudian di rolling. Anggota peleton yang tadinya tugas jaga di Mako Jalan Sam Ratulangi, keluar untuk jaga di posko-posko dan begitu sebaliknya,” kata Hasbullah.
Menjadi anggota Damkar bukanlah cita-citanya sejak kecil dulu. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), rupanya dia ingin menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan cita-citanya itu coba diwujudkan dengan mendaftar sebagai calon selama dua kali pada tahun 1987 dan 1988. Namun garis tangannya berkehendak yang lain.
Setelah mencoba mendaftar calon TNI dan tidak lolos, ia kemudian mendaftar di Damkar Kota Makassar. Alhasil dia diterima dan hingga sekarang ini dipercayai menjadi Danki A Damkar Kota Makassar. Diterima jadi anggota damkar membuat dia bangga, karena masih dapat membantu orang banyak.
“Dua kali saya daftar masuk TNI tapi tidak lolos karena gugur dipsikotes. Sampai saya dapat tawaran masuk di damkar, saya tidak sia-siakan. Saya ajukan lamaran dan bersyukur diterima hingga sampai sekarang ini saya diamanahkan menjadi Danki A,” ujarnya.
Dia bercerita, awal masuk menjadi anggota Damkar Kota Makassar ketika mendapatkan tawaran dari keluarganya yang lebih dulu bekerja di Damkar Kota Makassar. Tidak ingin sia-siakan kesempatan itu, dia kemudian membuat surat lamaran dan mengajukannya. Berselang waktu seminggu, dia mendapat panggilan dan ikut dalam tes. Hasilnya dia diterima sebagai anggota.
Awalnya, dia rutin mendapatkan latihan-latihan fisik dan mental seperti apa yang sering dia berikan kepada anggota-anggota sekarang ini. Bagi Hasbullah, latihan penting dilakukan termasuk fisik dan mental.
“Latihan rutin dilakukan semua anggota karena menjadi petugas membutuhkan fisik. Kemudian di lokasi petugas tidak boleh terpancing atas cacian maki dari warga-warga korban kebakaran yang terkena musibah. Ini yang selalu ditekankan kepada seluruh anggota. Pengalaman-pengalaman saya di lapangan sering warga menyalahkan petugas damkar dengan alasan lamban. Bahkan sering juga ada warga melempar mobil kendaraan damkar dengan batu serta mencaci maki petugas. Harus sabar,” ucapnya.
Selama menjadi anggota operasional di November 1993 – 2007, ada banyak kasus peristiwa kebakaran berhasil ditaklukan. Dan semua perjalanan itu menjadi kisah suka dan duka selama menjadi anggota operasional lapangan memadamkan api.
Peristiwa heroik pada 12 Juni 2004 di Jalan Seroja hingga kini masih berkesan dibenaknya. Kebarakan yang cukup hebat dan menghanguskan tiga unit rumah membuatnya hampir tewas terpanggang. Ceritanya bermula ketika ia naik di lantai dua rumah warga untuk memadamkan api dari atas.
Menjelang magrib, puluhan warga di gang sempit Jalan Seroja kocar kacir berlarian menyelamatkan barang-barang di rumahnya. Tidak ketinggalan para petugas kebakaran yang sibuk menarik selang panjang untuk segera memadamkan api agar tidak menjilat rumah-rumah lainnya.
Kerjasama pun dimulai. Ada petugas yang standby di bawah rumah, ada juga petugas yang naik atas rumah warga untuk menjinakkan si jago merah. Saat itu dia bertugas di atas rumah. Dia memegang nosel selang mengarahkan ke titik target api.
Namun tidak berjalan mulus, nose ujung selang begitu liar hingga terlepas dari tangannya. Nosel itu kemudian berontak. Diapun kemudian mengambil langkah satu ke depan agar nosel tidak menghantam kakinya. Tapi nahas dia justru terjatuh ke dalam rumah yang masih dikuasai api hingga membuat dirinya harus di rawat selama 18 hari di Rumah Sakit (RS).
“Saat itu posisi saya berada di lantai dua rumah warga hendak menyiram rumah-rumah lainnya. Tetapi nosel terlepas dari tangan. Dan pada saat itu terjadi, saya mengambil satu langkah ke depan agar nosel yang mengamuk tidak menghamtam kaki saya. Ternyata tembok di depan saya yang saya pegang adalah tembok rapuh dan hasilnya saya terjatuh ke dalam rumah yang masih dikuasai api,” katanya.
Meski mengalami luka bakar di sebagian tangannya, tapi dia bersyukur karena masih bisa dipertemukan kembali bersama keluarganya untuk berkumpul. Pemulihannya memakan waktu 18 hari di RS Stella Maris karena luka bakar di tangannya cukup hebat.
“Saya dievakuasi menggunakan selang. Evakuasinya ada hampir 5 menit, cukup cepat apalagi kondisi saat itu gelap sekali. Saya bersyukur karena masih dapat dipertemukan oleh keluarga,” tambahnya. (arf)



×


Tekankan Kesabaran ke Anggota Lapangan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar