MENEMANI anaknya berjualan koran di perempatan lampu lalu lintas (traffic light) di antara Jalan Alauddin dan Jalan AP Petta Rani, menjadi sebuah awal perjalanan Tina hingga sampai sekarang ini berjualan koran dan majalah di lapak mininya.
Laporan: ARIF AL QADRY
Cuaca di Jalan Hertasning Raya, kemarin, cukup panas oleh teriknya matahari. Debu-debu jalanan banyak berterbangan. Suara bising klakson dari kendaraan dari semua arah jalan sangat ramai. Ada yang mengklakson pengendara lain yang lelet jalan, ada juga menggunakan klakson untuk memberikan tanda bagi bocah-bocah penjual koran yang berdiri di persimpangan jalan.
Beberapa bocah penjual koran datang menghampiri pengemudi kendaraan tersebut yang ingin membeli koran.
Animo masyarakat khususnya di Kota Makassar membaca koran masih baik, dimana di persimpangan jalan sekalipun saat lampu traffic light berwarna merah, masih banyak pengendara menyempatkan merogoh kocek mencari dan membeli koran. Jika tidak sempat, pengendara memilih menepikan kendaraannya dan langsung membeli di lapak jualan koran milik Tina.
Tina adalah penjual koran dan majalah yang bemukim di Jalan Hertasning Raya, tidak jauh dari lampu lalu lintas menuju Jalan AP Petta Rani. Lapak mini ukuran lebar dua meter dan panjang ke belakang setengah meter menjadi tempat menyimpan ratusan lembar koran dan majalah.
Cukup banyak koran dan majalah yang dijual perempuan kelahiran Ujung Pandang, 3 Juni 1976. Mulai dari koran Fajar, Harian Berita Kota Makassar (pada tahun 2003- 2014), Rakyat Sulsel dan beberapa koran serta majalah.
Setiap pagi pukul 06:00 sampai malam, Tina serta anak-anaknya menjajakan koran. Sesekali anak-anaknya membantunya menjual koran di tepi jalan di bawah lampu lalu lintas, ujung Jalan Hertasning Raya.
“Sudah 17 tahun mi jualan koran, tapi pindah-pindah. Dulu saya berjualan di persimpangan Jalan Alauddin – Jalan AP Petta Rani, lalu di Jalan Boulevard – Jalan AP Petta Rani, dan terakhir persimpangan di Jalan Hertasning Raya – Jalan AP Petta Rani. Sering saya jualan turun ke jalan sama anak tawarkan koran,” katanya.
Koran dan majalah yang dijual oleh ibu lima orang anak itu, diperoleh langsung dari kantor perusahaan media. Setiap hari dia dibawakan ke tempat jualannya oleh kurir. Jumlah koran yang dijual variatif, ada sampai ratusan lembar dan cuma puluhan lembar saja. Tapi semuanya tetap dia jual, dipajang di lapak maupun di tepi jalan.
“Modal harga satuan koran berbeda-beda, jelasnya satu koran yang laku saya bisa dapat Rp1.000. Sedangkan koran yang tidak laku saya ganti atau bayar. Jadi pintar-pintar jualan saja,” tambahnya.
Bahkan saat ini Tina sudah mampu mempekerjakan satu orang sebagai pegawainya. (arf)

