MAKASSAR, BKM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem akan berlangsung dalam empat bulan ke depan di wilayah Sulawesi Selatan. Mengantisipasi hal tersebut, instansi terkait sudah harus memikirkan langkah antisipasi dan penanganan jika terjadi bencana.
Di tingkat provinsi, ada sejumlah langkah yang telah disiapkan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel Samsibar menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan brigade siaga bencana.
Dia juga sudah menginstruksikan kepada seluruh kabupaten/kota, logistik tidak boleh kosong di BPBD masing-masing daerah.
“Makanya, kemarin kami memberi bantuan logistik dari Pemprov Sulsel berupa paket box yang berisi perlengkapan tidur seperti selimut, dapur, mandi, dan perlengkapan makan,” ungkap Samsibar, kemarin.
Selain itu, lanjut dia, seluruh BPBD kabupaten/kota, termasuk provinsi wajib untuk terus berkoordinasi dengan instansi terkait. Seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, pemadam kebakaran, kepolisian, TNI, terutama BMKG untuk memantau kondisi cuaca.
Untuk daerah rawan longsor, disiapkan alat berat. Sementara daerah rawan banjir, disiapkan perahu karet. Pintu air di beberapa bendungan juga harus senantiasa dipantau.
“Kebersihan kanal dan saluran irigasi juga harus dijaga agar tidak mampet,” kata Samsibar.
Khusus kantor SAR Makassar menyiagakan 116 personel yang tersebar di beberapa daerah di Sulsel serta Sulbar.
Kepala Kantor SAR Makassar Mustari, mengatakan personel yang ada ditempatkan di Kantor SAR Makassar, Pos SAR Mamuju, Bone dan Selayar, Pos Siaga SAR Palopo dan Bantaeng, serta kapal dan rescue boat.
“Kita juga didukung beberapa peralatan untuk pencarian dan pertolongan. Misalnya peralatan selam, mountaineering, komunikasi dan kendaraan,” kata Mustari saat menghadiri Rapat Koordinasi Siaga Cuaca Ekstrem Sulsel, kemarin.
Mustari menyebutkan, pihaknya akan segera turun saat kondisi tanggap darurat, baik melakukan operasi pencarian atau pertolongan. Khusus potensi rawan bencana dan kecelakaan di wilayah kantor kerjanya hampir semua bisa terjadi.
Misalnya musibah pelayaran atau laut di pesisir Selat Makassar, Teluk Bone dan perairan Selayar. Untuk musibah penerbangan atau udara, ada dua bandara besar, yaitu Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar dan Tampa Padang di Mamuju.
“Untuk bencana alam, mulai dari gempa, longsor, angin puting beliung, banjir dan tsunami. Tsunami dan gempa ini dekat sesar Palu Koro dan Saddang yang beberapa waktu terakhir sering terjadi gempa di sana,” jelasnya.
Hingga bulan Oktober 2018, kantor SAR Makassar telah menangani 95 kejadian kecelakaan atau musibah. Untuk korban, 1.432 selamat, 920 meninggal dunia dan 11 orang dinyatakan hilang.
“Rinciannya 61 kasus kondisi membahayakan manusia, 25 kecelakaan kapal, 9 bencana alam. Jika dilihat perbandingan tahun 2017 lalu 118 kasus, jumlah memang menurun tapi untuk jumlah korban meningkat,” ungkapnya.
Kepada masyarakat, Mustari mengingatkan untuk tetap waspada dan mengutamakan keselamatan saat beraktivitas. Jika terjadi kecelakaan, musibah, bencana atau kondisi membahayakan, masyarakat bisa menghubungi emergency call kantor SAR Makassar di 0411555515 atau 0811447115. (rhm/rus)
Logistik tak Boleh Kosong di BPBD
×

