MAKASSAR, BKM — ”Tolong….tolong….Saya ditikam.” Suara itu datang dari seorang murid yang berlari masuk ke dalam Sekolah Dasar (SD) Bawakaraeng II, Kota Makassar.
Beberapa murid lainnya yang mendengar teriakan itu langsung mengerumuninya. Tak lama kemudian datanglah Agus Siajang, guru agama di sekolah yang beralamat di Jalan Gunung Bawakaraeng ini.
Dia pun segera melarikan muridnya itu ke Rumah Sakit Pelamonia dengan memboncengnya mengendarai sepeda motor. Bapak korban yang mengetahui anaknya dibawa ke rumah sakit, menyusul di belakang Agus.
Sesampai di rumah sakit, korban langsung mendapat perawatan medis. Luka menganga terdapat di bagian punggungnya. Badik dengan gagang seukuran genggaman anak-anak sempat menempel di tubuh korban.
Murid tersebut diketahui bernama Muh Fahreza (12). Ia duduk di bangku kelas VI. Peristiwa penikaman yang dialaminya terjadi, Selasa (11/12) sekitar pukul 11.00 Wita. Ia baru saja pulang dari sekolah usai mengikuti remedial.
”Kejadiannya di luar sekolah. Korban sudah pulang setelah selesai mengikuti ujian remedial. Karena ditikam, dia lari masuk ke dalam sekolah untuk meminta tolong. Selanjutnya dibawa oleh guru agama saya ke rumah sakit,” tutur Syarif, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD Bawakaraeng II yang dihubungi, kemarin.
Dari informasi yang diperolehnya, murid yang biasa dipanggil Reza itu ditikam dekat tiang yang dipasangi kamera pengawas (CCTV) di Jalan Bawakaraeng. Saksi yang melihat peristiwa itu, usai ditikam, korban kemudian berlari masuk ke dalam sekolah.
Agus Siajang, guru agama SD Bawakaerang II yang dihubungi terpisah, mengaku langsung melarikan korban ke RS begitu mengetahui dia ditikam. ”Saya bonceng pakai motor. Di perjalanan, ada bapaknya murid saya itu menyusul di belakang. Saya tidak tahu dari mana menerima informasi kalau anaknya ditikam,” ujar Agus.
Sebagai guru, Agus mengaku cukup mengenal Reza. Karena ia kerap mengajarnya. Reza diketahuinya anak yang baik. Tidak ada masalah dengan teman-temannya di sekolah.
Hartati, ibu korban yang usai melihat anaknya telah mendapat perawatan medis di rumah sakit, selanjutnya melapor ke Polsek Makassar. Kepada polisi yang menerima aduannya, ia menuturkan pengakuan Reza kepada dirinya.
”Anak saya baru pulang sekolah. Tiba-tiba datang pelaku. Anakku diminta uang Rp5 ribu. Tapi anakku tidak memberinya. Di situ dia ditikam pakai badik di punggungnya,” ujar Hartati. Laporan korban ke polisi bernomor: STPL/837/K/XII/2018/Sek Makassar/Restabes Makassar.
Menurut pengakuan Hartati, anaknya penyabar. Setahu dirinya Reza tidak pernah berseteru dengan orang lain.
“Saya tidak yakin kalau anakku sampai bermasalah dengan orang lain. Yang saya tahu anakku itu penyabar dan penurut. Jadi saya tidak yakin kalau dia punya persoalan. Apalagi kalau dirinya yang jahat sama orang lain,”tutur Hartati
Ia pun prihatin dengan kondisi anaknya. Karena harus menjalani operasi guna mengangkat senjata tajam berupa badik yang tertancap di punggungnya. Untuk itu butuh biaya yang cukup mahal.
”Nafasnya sesak. Kata dokter, badik badik yang tertancap di punggungnya mengenai tulangnya sehingga harus di operasi. Seandainya hanya di daging, dokter langsung saja mengeluarkan senjata tajam itu,” terang Hartati seraya mengusap air matanya.
Pelaku Hendak Dikeroyok
Kapolsek Makassar Kompol Usman, membenarkan peristiwa ini. Sesaat setelah kejadian, pihaknya langsung datang ke lokasi. Keterangan dari saksi-saksi digali.
Pelaku penikaman akhirnya terindentifikasi. Berinisial Fk. Berusia 14 tahun. Warga Jalan Maccini Gusung yang duduk di bangku SMP.
Menindaklanjuti informasi tersebut, polisi kemudian mencari keberadaan pelaku. Tak butuh waktu lama empat jam bagi polisi untuk menangkap Fk. Kira-kira empat jam berselang usai peristiwa, pelaku digiring ke Mapolsek Makassar guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.
”Dari keterangan pelaku, ia mengaku menikam korban. Awalnya, pelaku datang di Jalan Gunung Bawakaraeng dan bertemu dengan korban. Mereka sempat bicara-bicara di lokasi yang tak jauh dari sekolah. Tiba-tiba pelaku menikam korban dari arah belakang. Tikaman itu mengenai punggung sebelah kanan. Usai melakukan aksinya, pelaku kemudian melarikan diri, hingga akhirnya diciduk petugas,” terang Kompol Usman.
Kepada polisi, Fk membantah jika dirinya memalak korban. Ia berdalih menikam Reza karena korban hendak mengeroyoknya.
”Saya mau jemput adikku di sekolah itu juga. Waktu saya di situ, dia (korban) mau mengeroyokku. Dia mengejarku. Saat itu saya ambil badik lalu menusuk punggungnya. Saya tidak meminta uangnya,” ujar Kompol Usman menuturkan pengakuan Fk.
Ditambahkan Kapolsek, Fk diamankan bersama seorang rekannya berinisial IM. Saat kejadian, mereka berdua datang ke SD Bawakaraeng II untuk menjemput adiknya. Sementara korban yang juga berada di lokasi bertemu dengan pelaku, hingga terlibat cekcok.
”Motifnya masih kami dalami, sambil menunggu kondisi korban membaik. Pelaku diamankan bersama rekannya IM saat berada di Jalan Inspeksi Kanal Kerung-kerung. Setelah melakukan penikaman, pelaku pulang ke rumahnya. Kemudian rumah keluarganya makan siang. Selanjutnya ke Jalan Inspeksi Kanal Kerung-kerung. Di sanalah pelaku ditangkap,” jelas Kompol Usman. (jul-ish/rus)

