MAKASSAR, BKM — Tim Khusus (Timsus) Polda Sulsel yang dipimpin Aiptu Iqbal Kosman menangkap tiga kawanan perampok. Satu persatu mereka diamankan dari lokasi berbeda. Proses penangkapannya pun berlangsung dramatis.
Berawal ketika timsus menindaklanjuti laporan korban perampokan ke Mapolsek Rappocini. Menurut pengaduan korban, saat kejadian ia tengah berada di kamar kosnya. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Dua orang pria langsung menyerangnya. Korban mencoba melakukan perlawanan. Namun, melihat pelaku memegang pisau, nyali korban pun ciut. Dia memilih menghindar.
Kesempatan itu dimanfaatkan kedua pelaku untuk menjarah barang berharga milik korban. Setelah itu langsung melarikan diri. Korban pun kemudian melapor ke Polsek Rapoppocini. Nomor laporannya: LP/288/XII/Restabes Makassar/Sek Rappocini tertanggal tanggal 25 Desember 2018.
Timsus kemudian membuka lembaran hitam laporan dua hari setelah kejadian tersebut. Ada pula laporan polisi dengan nomor:LP/2448/XII/Polda Sulsel/Restabes Makassar tanggal 27 Desember 2018.
Ada dugaan timsus, dari dua laporan tersebut pelakunya yang sama. Penyelidikan pun dilakukan. Hasilnya, identitas pelaku teridentifikasi.
Salah seorang pelaku yang dikantongi identitasnya kemudian dilacak. Dia adalah Imran. Keberadaannya terdeteksi di Jalan Diponegoro. Timsus kemudian bergerak ke lokasi.
Sebuah rumah kos di lokasi ini dikepung petugas kepolisian, Kamis (3/1) sekitar pukul 06.30 Wita. Salah seorang anggota timsus mencoba untuk memastikan buruannya berada di rumah yang dicurigai.
Seorang pria yang diduga kuat sebagai buron polisi, berada di dalam kamar kos. Mendengar suara yang mencurigakan dari luar, pelaku kemudian mencoba meloloskan diri. Dia membobol besi jendela kamar. Selanjutnya memanjat naik ke atap lantai dua.
Di saat bersamaan, petugas kepolisian mencoba mendobrak pintu kamar. Di dalamnya didapati seorang wanita yang merupakan kekasih pria yang dicurigai buron tersebut.
Peristiwa dramatis pun terjadi. Petugas kepolisian yang berjaga-jaga di luar rumah melihat pria yang merupakan buruannya itu berada di atas atap.
Polisi memintanya untuk segera turun dan menyerahkan diri. Namun itu tak menggubrisnya.
Salah seorang anggota timsus kemudian mengarahkan moncong pistolnya. Sebutir peluru dilepaskan. Timah panas menerjang kaki pelaku. Seketika itu juga ia terjatuh dari atap rumah dan tangannya robek terkena benda tajam.
Tersangka Imran pun langsung dibekuk lalu digiring ke posko Timsus Polda Sulsel untuk diperiksa. Dari sinilah terungkap kasus perampokan yang didalangi dua rekannya berdasarkan dua laporan polisi yang ditindak lanjuti.
Mereka adalah Riswandi alias Putra (24), warga Jalan BTN Minasa Indah. Dan Pajri alias Paje (28), beralamat di Kampung Bulu Lohe.
‘Nyanyian’ Imran ditindaklanjut petugas. Ia digiring menunjukkan persembunyian rekannya di BTN Minasa Indah. Sebuah rumah dikepung.
Hanya saja, kedatangan petugas terendus oleh pelaku. Dua orang pelaku mencoba menghindari kepuangan aparat. Mereka melompat dan berlari ke area persawahan. Riswandi berhasil diringkus. Sementara satu lainnya berhasil kabur.
Riswandi lalu diinterogasi. Dia mengakui perbuatannya yang melakukan perampokan di wilayah Rappocini. Saat itu korban diancam dengan menggunakan pisau. Melihat korban ketakutan, pelaku pun menggasak laptop miliknya.
Kala beraksi, Riswandi mengaku ditemani Pajri. Pajri merupakan adik almarhum Dg Ampu, seorang narapidana yang terlibat dalam pembakaran rumah dan menewaskan satu keluarga di Jalan Tinumbu.
Mendengar pengakuan Riswandi, timsus kemudian menggiring Riswandi untuk menunjuk persembunyian Pajri yang merupakan warga Sinjai. Polisi berhasil meringkus Pajri yang juga masih berada di lokasi tak jauh dari rumah Riswandi. Sebelumnya, mereka baru saja berpisah dengan dua rekannya.
Kepada polisi yang memeriksanya di posko Timsus Polda Sulsel, Pajri mengakui perbuatannya. Bersama Riswandi, ia melakukan perampokan di wilayah Rappocini.
”Iya, Pak samaka Riswandi waktu di Rappocini. Saya ambil laptop. Kemudian saya simpan di Jalan Kubis,” akunya.
Usai ketiganya diperiksa, timsus lalu membawanya untuk penunjukan barang bukti. Namun proses pengembangan tidak berjalan mulus. Ketiganya mencoba melakukan perlawanan terhadap kepolisian, sehingga terlepas dari kawalan petugas.
Tak menghiraukan tembakan peringatan, petugas mengambil tindakan tegas. Ketiganya pun dihadiahi timah panas. Dua butir peluru bersarang di kaki masing-masing tersangka. Ada enam butir peluru yang dilesakkan polisi.
Selanjutnya, tersangka dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara. Peristiwa menarik kembali terjadi. Istri dari seorang tersangka datang ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi suaminya.
Dia melihat dua kaki sang suami terbalut dengan perban putih. Kepada petugas, wanita itu mengaku tidak mengetahui sama sekali perbuatan suaminya. Tak kuasa, ia pun menangis. Apalagi, perempuan ini tengah hamil tua dan tak lama lagi akan melahirkan. Suaminya kemudian menyuruh istrinya itu untuk pulang.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Huams) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, membenarkan adanya tiga perampok yang dilumpuhkan timsus. Tindakan tegas tersebut terpaksa diambil, karena mereka mencoba melarikan diri saat dibawa untuk pengembangan kasus.
”Dari tangan ketiga tersangka, diamankan satu unit laptop merk Lennovo warna abu-abu. Dan satu HP merk Samsung Galaxi J7 Prime,” ujar Kombes Dicky, kemarin. (ish/rus)
Istri Hamil Tua Menangis Lihat Suaminya Ditembak
×

