MERINTIS suatu usaha memang tidak serta merta langsung mendapatkan hasil yang melimpah. Butuh kerja keras dan kerjasama yang baik. Seperti yang dilakukan Ruhiyani.
laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Ibu rumah tangga ini mulai merintis usaha keripik ikan bandengnya tidak berjalan mulus. Usahanya mengalami pasang surut. Meski begitu Ruhiyani tetap bekerja maksimal, tekun dan berdoa walaupun modal yang digunakan tidak berputar. Bahkan beberapa anggotanya pada meninggalkannya.
Berkat ketekunannya, bisnis keripiknya kini dikenal masyarakat Sulawesi Selatan.
“Dulu itu, usaha saya tidak bagus. Anggota kelompok saya satu persatu keluar dan meninggalkan saya. Masalahnya karena mereka mengharap upah kalau selesai mengolah, sedangkan hasil penjualan tidak ada. Modalnyapun tidak kembali karena produk tidak habis terjual. Makanya mereka bubar dan pada waktu itu saya istirahat untuk mengolah,” ungkapnya kepada penulis kemarin.
Lanjut Wanita kelahiran Makassar, 17 Mei 1973 ini, bahwa apa yang dialami usahanya dulu, menjadi pengalaman dalam membangun usaha keripik ikan bandeng. “Awal mula saya rintis keripik ikan bandeng yakni kita bentuk kelompok yang dinaungi oleh binaan Sisidy Ifad Perikanan Kelautan. Pada saat itu di wilayah kami banyak petambak ikan bandeng. Jadi saya ditanya, bu di wilayah inikan banyak ikan bandeng, sebaiknya ikan bandeng itu mau diapakan,” bebernya.
Olehnya itu, Ruhiyani berinisiatif untuk membuat usaha keripik ikan bandeng. Berbekal pengalaman dan idenya itu, Ruhiyani menjadi inisiator untuk pembuka usaha tersebut. “Jadi saya sarankan sama anggota saya, sebaiknya kita buat keripik ikan bandeng, kebetulan saya ketua kelompok tersebut. Jadi anggota saya setuju, sampai sekarang saya rintis dan sudah mendapat pirt dan juga halal, tinggal mau dipasarkan dan belum dapat toko mana yang mau menerima produk saya,” jelasnya.
Tanpa putus asa, anak pertama dari tujuh bersaudara ini berusaha mendapatkan toko untuk menerima produknya, itu ia lakukan sejak tahun 2014. namun setelah dua tahun berjalan, tepatnya di tahun 2016, bayangan keputusasaan membanyangi Ruhiyani kembali hingga sempat frustasi. Dimana kerja keras yang ia lakukan selama ini tidak ada harapan untuk memajukannya.
“Kita hanya miliki spirit dan tantangan. Apalagi, modal saya juga habis, dan saya hampir putus asa pada waktu itu,” ucapnya.
Namun, anak dari Rahimi dg Nya’la dan Johra dg Ratu ini bangkit kembali. Ketika ia mendapatkan semangat dari keluarganya, utamanya dukungan suami, Ruhiyani direkomendasikan untuk memasukkan usahanya dalam lingkungan UKM Laras Hatiku.
“Dua tahun kemudian suami saya masuk ke UKM. UKM yang dia miliki sudah dikenal intansi terkait. Disitulah dia menarik saya dan memakai nama UKM Laras Hatiku, makanya di depan label produk saya tertulis UKM Laras Hatiku dan diproduksi oleh Berkah Bahari ini nama kelompok saya Berkah Bahari,” katanya.
Modal awal yang Ruhiyani miliki terbilang kecil untuk memulai bisnis keripik.”Saya mulai bermodal awal Rp100 ribu dan mendapat keuntungan Rp200 ribu. Sekarang saya sudah bisa bermodal Rp500,000. Alhamdulillah hasil sekarang sudah Rp2 juta,” ucapnya.
Kini usahanya terbilang lebih stabil dibanding sebelumnya, apalagi bantuan sponsor dan pemerintah terhadap usahanya juga sudah ada. “Sampai sekarang usaha saya sudah banyak mengembangkan. Usaha saya mendapatkan bantuan halal dari Dinas Koperasi dan Disperindag Provinsi Sulsel. Itu berkat UKM suami saya dan sekarang usaha keripik ikan bandeng bisa berjalan sampai sekarang dan memakai modal sendiri, tanpa bantuan,” tutupnya. (ita)

