Seiring perjalanan waktu, handphone telah berubah dari barang mewah menjadi barang yang biasa-biasa saja. Handphone kini tidak lagi sebagai kebutuhan sekunder tapi sudah menjadi kebutuhan primer. Apalagi dengan kebijakan beberapa guru mulai dari tingkatan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dimana, telah menerapkan pola pembelajaran melalui email. Sehingga secara tidak langsung, murid maupun siswa tersebut harus memiliki handphone untuk dapat mengakses mata pelajaran tersebut.
Begitu pula dengan kehidupan masyarakat secara umum, hampir setiap keluarga memiliki minimal satu handphone. Bagi keluarga yang punya kemampuan ekonomi lebih, akan memiliki handphone lebih dari satu untuk tiap orang. Bahkan, ada sebagian orangtua menjadikan handphone sebagai ‘obat penenang’ bagi anaknya. Terutama anaknya yang masih di bawah lima tahun. Ketika anaknya menangis, maka orangtua itu langsung mengambil handphone dan memutarkan film atau acara kesukaan anaknya.
Menurut Myers O.G & Diener, The Sciennlic Pursuit of Happiness. Association for Psychological Science, kebahagiaan anak bukanlah kegembiraan sesaat saja. Namun lebih kepada menciptakan rasa nyaman, aman, dan diterima dengan baik di lingkungan sosialnya.
Masalahnya, banyak orangtua yang sudah mengerti tentang pentingnya mendukung anak untuk tumbuh bahagia. Tapi dalam praktiknya, para orangtua ini tidak mampu menerapkannya secara baik. Pasalnya, mereka lebih disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing.
Psikolog Elizabeth Santosa, MPsi, SFP, ACC, mengakui kondisi ini. Dijelaskan, tingkat stres yang lebih tinggi atau interaksi dengan handphone membuat keterlibatan emosional menjadi tantangan baru bagi orangtua.
”Tantangannya adalah bagaimana mewujudkan kondisi tumbuh bahagia atau grow happy. Banyak orangtua masih belum bisa memaksimalkan keterlibatan mereka bersama anaknya. Meski mereka telah susah payah menyisihkan waktunya,” kata Elizabeth.
Elizabeth menuturkan, orangtua yang bahagia akan menghasilkan anak yang memiliki ketahanan terhadap stres dan tantangan hidup dimasa depan. Anak-anak ini dihasilkan melalui pola asuh orangtua yang bahagia dan terlibat dalam aktivitas anak.
Untuk mengenal dirinya sendiri, setiap individu khususnya orang tua perlu memahami apa saja sumber kebahagiaan dalam hidup. Misal positif afektif (tertawa, damai, pemenuhan diri), negatif afektif (marah, sedih, curiga), dan tingkat kepuasan hidup agar dapat mengajarkan anak bagaimana arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
”Bagaimana bisa mendukung kebahagiaan anak, apabila orangtuanya sendiri tidak mengetahui bagaimana membahagiakan diri sendiri?” kata Elizabeth dengan nada tanya.
Apa yang disampaikan psikolog Elizabeth Santosa sejalan dengan pengalaman Novita, seorang ibu rumahtangga. Ibu dua orang anak ini sebelum menikah adalah seorang pekerja kantoran.
Dia memilih resign dari kantornya ketika anak pertamanya lahir. Alasannya cukup sederhana. Ia ingin selalu dekat dengan anaknya. Padahal, ia bisa saja menitipkan anaknya kepada ibunya seperti banyak dilakukan para wanita karier lainnya.
”Ibu saya memang punya banyak pengalaman dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Tapi ibu saya mungkin belum cukup punya pengalaman dalam mengasuh dan membesarkan cucu. Jadi setidaknya, pengalaman ibu inilah yang saya terapkan dalam kehidupan keluarga saya,” kata ibu yang kini berprofesi sebagai wirausaha rumahan.
Untuk membina mental, pribadi, dan kebahagiaan anak, tidak cukup hanya dilakukan satu pihak, semisal isteri atau suami saja. Tapi baik suami maupun isteri harus terlibat secara bersama-sama. Dan pola pendidikannya tidak boleh jauh berbeda. Sehingga ketika anak butuh perlindungan, kenyamanan, keamanan, dan kebahagiaan, ia tidak perlu lama menunggu. Karena ia sudah tahu, ketika berhadapan dengan ibu maupun bapaknya, ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
”Saya dengan suami ketika anak-anak masih kecil hampir setiap saat memberikan pelukan kepada anak. Ketika memberi pelukan harus penuh keikhlasan. Peluklah anak kita erat-erat hingga kita bisa rasakan detak jantungnya. Kita bisa rasakan hembusan nafasnya. Dari pelukan itu sebenarnya kita bisa tahu kondisi anak kita, apa ia sedang sakit, ada tekanan atau ia lagi bahagia. Karena disitu akan muncul kontak batin antara anak dan orangtuanya. Jadi kita bisa mengambil sebuah tindakan sedini mungkin,” katanya.
Dalam menciptakan rasa nyaman dan bahagia bagi anak, tidak sekadar dengan memberi perhatian dan materi. Tapi yang sangat berperan penting, yakni dari sisi kesehatan. Karena ketika anak sakit, tidak saja si anaknya yang merasa tidak nyaman dan tidak bahagia. Tapi kedua orangtuanya pasti akan merasakan hal yang sama.
”Para orangtua agar jangan menyepelekan perkembangan anaknya. Orangtua agar tahu dan mengerti tentang bagaimana membentuk saluran cerna yang sehat. Kita harus menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Caranya dengan mengonsumsi makanan bernutrisi lengkap dan bervariasi. Mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dengan melakukan olahraga secara teratur. Pola makan sehat dengan mengonsumsi makanan beragam, gizi seimbang, nutrisi terpenuhi ditambah melatih kemandirian anak, akan membuat tumbuh kembangnya menakjubkan,” jelas dr Fatima Safira Alatas saat sebagai pembicara pada acara menjadikan anak yang grow happy bersama Lactogrow di Goedang Popsa Makassar beberapa waktu lalu.
Lactogrow sendiri sebagai salah satu produsen susu terkemuka di tanah air, selama berpuluh-puluh tahun telah berkomitmen menjadi sahabat para orangtua dalam memenuhi gizi dan nutrisi buah hatinya.
Brand Manager Nestle Lactogrow, Gusti Kattani Maulani menuturkan, untuk tumbuh bahagia, dibutuhkan keselerasan antara nutrisi, stimulasi, dan keterlibatan orangtua dalam membangun dan memupuk kondisi grow happy tersebut. Peran orangtua yang semakin menantang dimasa lebih dinamis dan modern, membuat Nestle Lactogrow berusaha membantu orangtua dengan menggelar workshop bertajuk ‘Grow Happy Parenting’. Workshop ini menjadi ajang berbagi informasi mengenai pola asuh anak serta tips memberikan nutrisi seimbang dan lengkap untuk tumbuh bahagia. Dimana, tips ini bisa diterapkan dengan mudah. Selain itu, Nestle Lactogrow juga memperkenalkan tampilan barunya yang telah diperkaya dengan DHA, kalsium, minyak ikan, dan Lactobacillus Reuteri yang bermanfaat untuk tumbuh kembang dan kesehatan pencernaan si kecil.
Melalui kampanye Grow Happy, Nestle Lactogrow ingin membantu orangtua untuk bisa menerapkan kemampuan membangun kebahagiaan dirinya sendiri. Sehingga bisa menularkan kepada anak dan keluarganya. Juga, memberikan strategi untuk menyediakan nutrisi yang optimal bagi anak-anak untuk tumbuh bahagia.
Menurut Maulani, kunci tumbuh bahagia seorang anak dimulai dari pilihan orangtua. ”Karena itu, kami berupaya membantu para orangtua melalui edukasi atas bagaimana menemukan formulasi tumbuh bahagia melalui keselarasan nutrisi, stimulasi, dan keterlibatan orangtua yang sesuai dengan kondisi mereka masing-masing. Karena pilihan orangtua akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka dimasa depan,” jelasnya. (amir)

