REGROUPING sekolah dianggap menjadi solusi yang bijak dalam pemerataan keberadaan SMP di Makassar. Namun di balik itu, ada beberapa dampak negatif yang bisa saja muncul di kalangan pejabat sekolah.
Beberapa kepala sekolah dipastikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Abdul Rahman Bando akan kehilangan jabatannya. Tak dipungkiri pula hal tersebut pasti akan membuat beberapa dari mereka tidak nyaman.
Rahman menjelaskan, proses regrouping ini setidaknya akan mengurangi jabatan sebanyak kurang lebih 45 sampai 47 SD. Dan sekitar itu pula kepala sekolah yang akan kehilangan jabatan.
Namun ia kembali menjelaskan, jika sekarang ini sudah banyak kepala sekolah yang pensiun. Bahkan sudah ada sekolah yang dijabat oleh pelaksana tugas. Jumlahnya berkisar 20 sekolah. Berarti, setengah dari jumlah kepala sekolah yang sekolahnya diurai, telah terakomodir.
“Berarti kan sudah bisa terakomodir setengahnya toh. Lalu tahun ini juga akan pensiun 160 orang guru, yang di antaranya itu ada yang menjabat sebagai kepala sekolah. Berarti insyaallah tidak akan banyakji kepala sekolah yang tertunda dulu jabatannya,” jelasnya.
Keputusan untuk menggabung SD harus diambil oleh Dinas Pendidikan Kota Makassar. Karena bagi Rahman, kepentingan orang banyak tetap harus diutamakan daripada kepentingan sebagian orang demi memajukan pendidikan.
Rahman melihat dari sisi positifnya. Ia mengumpamakan jika berbagai SMP baru ini telah hadir, maka dipastikan ada ribuan anak yang diselamatkan masa depannya.
“Kalau saya buka lima kelas saja untuk satu sekolah, lima rombel kelas 1 dikali 11 atau 12 jumlah SMP baru, bisa sampai 55 kelas. Dikali 32 orang, itu sudah sekitar 1.600-an anak Makassar yang bisa diselamatkan masa depannya. Jadi pilihan positif ini harus ditimbang baik. Sekarang kita mengutamakan sekitar 20an orang yang belum dapat jabatan kepsek ini, atau kita pikirkan yang 1.600-an anak ini,” papar Rahman. (nug/rus)
Selamatkan Masa Depan 1.600-an Anak
×

