HAMPIR semua masyarakat Indonesia mengenal makanan khas Indonesia yakni rujak. Rujak identik dengan gerobak yang berisikan berbagai macam buah-buahan yang diolah menjadi makanan yang enak. Seperti halnya yang dilakoni Iko yang berkeliling mendorong gerobak setiap harinya di Jalan Balai Kota.
Laporan: NUGROHO
Mulai dari pagi sampai dengan sore hari, Iko berada di sekitaran jalan tersebut. Lokasi yang dipilih Iko bukan tanpa alasan, sebab puluhan ribu pegawai negeri maupun swasta berada di sekitaran kantor Balai Kota Makassar.
Iko bahkan terlihat begitu bersemangat saat banyak pembeli yang menghampiri gerobaknya.
Dengan leluasa, tangannya membuka setiap bungkusan plastik berisi buah potong yang nantinya akan disatukan menjadi rujak.
Apalagi, letak gerobaknya berada di depan warung makan, membuat orang yang sudah makan siang langsung tertarik membeli rujak sekadar cuci mulut.
Iko juga sangat ramah, membuat beberapa pembeli senang walaupun terkadang harus antre.
Ia meninggalkan tanah kelahirannya di Solo, Jawa Tengah puluhan tahun lalu. Ia pergi ke Makassar memang untuk mengais rezeki. Sehingga pada tahun 2000, ia telah mulai berjualan rujak hingga saat ini.
Kemampuan membuat rujak hanya ia pelajari dari teman-temannya saja. Tak ada trik khusus, hanya ia selalu melihat teman-temannya memotong-motong buah dengan campuran bumbu khusus. Makanya dari situ, ia terus mempelajari hingga ia kini sangat mahir dalam melayani melanggannya.
Hampir tiap hari memang jualannya dipadati pembeli. Beberapa instansi yang berada di wilayah itu menjadi keuntungannya sendiri. Benerapa karyawan dan pegawai di berbagai instansi itu pun dikatakan Iko telah mengenalnya.
Namun tak tiap hari jualannya selalu dipadati pembeli. Ada kalanya juga ia tak mendapat pelanggan sama sekali. Apalagi jika hujan terus-menerus mengguyur.
“Kalau musim kemarau, enak, biasa ada yang beli, lumayan banyak. Tapi kalau musim hujan, biasa sepi, bahkan tidak ada yang membeli, kurang laku,” katanya.
Makanya, setiap saat musim hujan tiba, biasanya Iko memilih untuk pulang kampung. Karena semua keluarganya ada di Solo. Tak ada satupun anggota keluarganya yang diboyong ke Makassar, termasuk istrinya.
Iko sendiri sekarang tinggal di Jalan Muna, Makassar seorang diri. Istri dan anak semata wayangnya tetap tinggal di Solo bersama keluarganya yang lain. Namun anaknya yang kini telah lulus SMK, ia akan bawa merantau ke Makassar.
“Anakku selama ini tinggal di Solo, istri juga. Tapi anakku ini baru selesai SMK. Nanti saya akan bawa ke sini untuk bantu-bantu,” ucap Iko.
Mencari nafkah di Makassar memang harus Iko lakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Dan ia juga mengakui kalau pekerjaannya ini bisa menghidupi keluarganya yang jauh disana.
Iko mengatakan, daripada dirinya tetap tinggal di daerah asalnya, mungkin pekerjaannya akan sulit. Karena semasa kecilnya, Iko dulu adalah seorang kuli bangunan.(nug/b)

