MAKASSAR, BKM — Sempat molor dan terhambat masalah pembebasan lahan, proyek Middle Ring Road (MRR) tahap I kembali digenjot penyelesaiannya. Itu pun hanya sepanjang 1,2 km dari target 3,05 km.
Sedianya, tahap I dari Jalan Perintis Kemerdekaan hingga ke Jalan Borong Raya. Namun karena berbagai kendala, hanya bisa diselesaikan hingga Jalan Dr Leimena.
Jalan alternatif yang menghubungkan Perintis Kemerdekaan dan Leimena tersebut tinggal menyisakan belasan meter untuk dicor.
Namun, jalan yang sepenuhnya belum rampung itu sudah bisa dilewati kendaraan roda dua.
Kepala BBPJN XIII Makassar Miftachul Munir mengatakan, pihak kontraktor yang mengerjakan proyek itu sementara berusaha merampungkan kewajibannya.
Sebenarnya, proyek ini sudah mengalami revisi terkait target penyelesaian beberapa kali. Masa kontrak MRR seharusnya dirampungkan Mei 2018 lalu.
Jalan tersebut semestinya sudah rampung akhir Desember lalu, dan sudah bisa digunakan awal tahun lalu. Namun persoalan pembebasan lahan sempat membuat proyek ini tersendat. Dipastikan tidak ada kelanjutan pengerjaan MRR tahun depan. “Pusat memang tidak menyiapkan anggaran untuk MRR,” ungkapnya.
Diketahui, target penanganan proyek strategis ini seringkali berubah-ubah. Awalnya, MRR dibagi dalam dua tahap, yakni tahap I sepanjang 3,05 km dimulai dari Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar hingga Jalan Borong Raya.
Sementara tahap kedua panjangnya mencapai 4,04 km dimulai dari Jalan Borong Raya hingga Jalan Sultan Alauddin Makassar. Namun sayang, tidak ada kejelasan pasti kapan proyek ini akan dilanjutkan.
Menurut Miftachul, BBPJN XIII Makassar baru akan kembali mengusulkan kelanjutan MRR pada renstra 2020. Selain persoalan anggaran, sulitnya pembebasan lahan juga terus menjadi kendala serius.
“Mudah-mudahan nanti di renstra 2020 sampai 2024, akan diusulkan lagi program penyelesaian sistem jaringan di Sulsel,” jelasnya.
Meski belum sepenuhnya rampung, jalan alternatif ini telah digunakan para pengendara, baik roda dua maupun empat. Penutup seng yang sebelumnya ada, kini sudah dibuka.
Dengan mulai dimanfaatkannya infrastruktur jalan ini, telah memicu pergerakan harga tanah secara signifikan. Khususnya di sekitar lokasi proyek.
Camat Manggala Andi Fadli, menyebut lahan yang berada di sekitar MRR harganya akan melonjak. Banyak pihak yang langsung meliriknya. Khususnya industri properti untuk membangun perumahan.
Menurutnya, pergerakan harga yang bakal terjadi merupakan bentuk multiplier effect dari proyek jalan lingkar tengah, yang juga bakal lebih mendorong perekonomian secara keseluruhan.
“Harga tanah, rumah, dan properti lainnya kemungkinan besar akan naik. Sebab proyek jalan lingkar ini membuat lokasi di sekitarnya makin strategis dan memiliki nilai tawar tinggi,” ujarnya, Senin (11/3).
Bahkan, lanjut Andi Fadli, lonjakan harga lahan yang diperkirakan terjadi seiring dengan realisasi jalan lingkar tengah, bisa mencapai dua kali lipat dari yang berlaku saat ini.
Camat Tamalanrea Muhammad Rheza, mengatakan pergerakan harga tanah di samping jalan lingkar tengah sudah mulai berlangsung sejak proyek dilaksanakan, hingga saat ini dalam proses perampungan.
“Harga tanah naik sejak jalan itu dirintis. Dulu orang biar dipaksa beli di situ, tidak mauki, karena tidak ada akses jalan. Sekarang orang berlomba-lomba beli tanah di situ karena sudah ada jalan,” terang Muh Rheza, kemarin.
Selain itu, kata Rheza, harga jual tanah di lokasi tersebut ditentukan oleh penjual dan pembeli. Pemerintah hanya menetapkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
“Harga jualnya tanah di sana tidak ada penetapannya. Kesepakatan antara penjual dan pembeli. Beda dengan NJOP, pemerintah yang tetapkan memang per meternya berapa. Contohnya, di pinggir jalan MRR itu Rp3 juta per meter persegi,” jelasnya.
Data yang diperoleh, NJOP untuk tanah di sekitar MRR dibagi menjadi empat zona nilai tanah. Untuk yang berada di pinggir jalan masuk zona I. NJOPnya Rp3 jutaan per meter. Sedangkan zona II NJOPnya Rp1 jutaan permeter. Zona III NJOPnya Rp700 ribuan permeter. Zona IV sebesar Rp394 ribu per meter.
“Kalau harga jualnya, yang di bagian-bagian depan itu sebesar Rp 6-10 jutaan. Untuk zona lain, harga jualnya sekitar Rp 400 ribuan,” bebernya. (rhm-jun-ita/rus)
MRR Ramai Dilewati, Picu Kenaikan Harga Lahan
×

