PEMENTASAN seni teater di Makassar semakin meredup. Panggung hiburan karya seni teater di kota ini begitu sulit ditemukan untuk dinikmati. Kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi pelaku kesenian karya teater, khususnya mahasiswa.
Kondisi tersebut kian diperburuk dengan rendahnya minat masyarakat, khususnya anak-anak muda untuk menyaksikan pertunjukan kesenian teater. Sementara pelaku seni teater masih terus berusaha untuk eksis di jalannya.
Dewan Pertimbangan Organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Talas Universitas smuh Makassar Sulkifli Syam mengatakan, pertunjukan karya teater mulai sangat terasa turun drastis sejak awal 2017 lalu. Banyak anak muda yang berpaling dan melirik membuat karya film. Alasannya, panggung pentas karya seni teater sudah kurang. Bahkan tidak ada lagi yang tersedia.
“Seni teater sudah miskin. Yang kaya sekarang adalah karya modern atau perfilman. Bagaimana tidak, anak-anak muda akan berpaling kalau panggung teater saja tidak ada. Padahal, pada kota-kota lain di pulau Jawa banyak disediakan panggung pertunjukan teater. Karena seni ini banyak digandrungi anak-anak muda di sana,” sambut pria yang akrab disapa Kippo ini.
Selain tidak adanya gedung atau tempat bagi pelaku seni teater mementaskan karyanya, kampus-kampus juga tak memberikan dukungan terhadap mahasiswa. Khususnya dalam menggali dan mengembangkan potensi, serta minatnya menggeluti dunia berkesenian
Buktinya, semua ruang kosong di kampus yang berpotensi digunakan sebagai tempat latihan para mahasiswa untuk berkarya, sudah menghilang. Lahan kosong dan lapangan lebih banyak dibanguni gedung-gedung, daripada memberikan untuk mahasiswa menggali potensi dirinya.
“Susah dapat panggung sekarang buat tampil. Jangankan panggung, tempat latihan untuk berproses saja susah di Makassar. Semua serba bayar. Di mana-mana di kota ini gedung harus dibayar. Latihan di kampus saja mendapat batasan waktu. Kalau gunakan fasilitas kampus paling lama jam 8 malam. Bagaimana teman-teman mau latihan. Siang mereka kuliah, malam bisa latihan tapi dibatasi waktunya. Susah tempat buat latihan sekarang ini. Seni teater semakin miskin panggung,” keluhnya.
Di kota-kota luar, pementasan karya seni masih banyak ditampilkan. Setidaknya seminggu sekali, khususmua malam minggu.
Kondisi ini sangat jelas berbeda jauh di Makassar. Meski pelaku seninya ada dan banyak, tetapi panggungnya tidak ada.
Dia berharap, Pemerintah Kota Makassar bisa memberikan perhatian kepada pemuda dalam berkarya. Utamanya para pelaku karya seni teater yang sudah ada. Seperti memberikan serta menyiapkan panggung bagi mereka untuk tampil secara aktif dan rutin.
“Kami teman-teman dari UKM Seni Talas, ketika latihan paling sewa tempat gedung. Biasa juga ke daerah Gowa untuk latihan di Lapangan Syekh Yusuf. Gedung menjadi tempat latihan dan pentas pertunjukan minim. Bahkan tidak salah jika saya katakan tidak ada. Karena nyata memang tidak ada. Selama ini kami hanya menyewa. Saya berharap pemerintah memberikan perhatian kepada para pelaku seni teater,” tandasnya.
Hal senada dikatakan Galang Mario, mahasiswa Fakultas Seni UNM.
Ia membenarkan jika pentas seni teater di Makassar telah meredup. Ini jika dibandingkan dengan seni lainnya, seperti tari dan musik.
Dikatakan Galang, kurangnya kegiatan-kegiatan pentas teater di Makassar menjadi penyebabnya. Padahal saat ini banyak lembaga minat dan sanggar yang bergerak di bidang teater di Makassar.
Oleh karena itu, sangat dibutuhkan perhatian dari pemerintah agar para seniman bisa semangat dalam berkarya teater. Menyediakan ruang bagi para pelaku teater, seperti adanya kompetisi-kompetisi teater, dianggapnya mampu menjadi pemacu untuk menyalakan dunia teater di Makassar.
“Lewat teater kita bisa melestarikan budaya Makassar. Teater adalah seni yang lengkap dan sempurna. Karena di dalamnya ada musik, tari, rupa, sastra tercakup yang menghasilkan mahakarya bernilai tinggi,” kata mahasiswa angkatan 2016 ini. (nug-arf/rus)
Miskin Panggung, Gedung Harus Sewa
×

